Bertemu Sang Pendekar Jayakarta

Bertemu Sang Pendekar Jayakarta

Matahari bersinar terik waktu rombongan anak-anak kelas 5 SD Nusantara tiba di Rumah Si Pitung di kawasan Marunda, Jakarta Utara. Kalam dan Fikar turun dari dalam bis dengan segan. Enggan rasanya meninggalkan bus ber-AC yang sejuk untuk menghadapi hawa Jakarta di siang hari itu.
“Ayo cepat,” Satria mendorong pelan dari belakang. “Sudah ditunggu Bu Indri, tuh.”
Ketiga anak itu bergabung dengan teman-teman mereka yang sudah berbaris di tempat yang cukup teduh. Bu Indri sedang memberikan pengarahan untuk mereka.
“Nah, anak-anak, bangunan besar inilah yang disebut Rumah Si Pitung. Kalian sudah belajar bukan, siapa Si Pitung itu?” tanya Bu Indri.
“Aku tahu Bu!” Dini mengacungkan tangannya. “Si Pitung itu pahlawan dari Jakarta yang berjuang membela rakyat dari penjajah.”
“Betul sekali,” Bu Indri mengangguk sambil tersenyum. “Pada waktu itu Jakarta disebut Jayakarta, yang berarti kemenangan yang sempurna. Nah, rumah ini sebetulnya bukan milik Si Pitung, melainkan milik seorang temannya yang bernama H. Safiudin. Di rumah ini Si Pitung sering berkumpul dengan teman-temannya sesama pejuang, untuk menyusun rencana perlawanan terhadap tentara Belanda.”
Setelah memberikan petunjuk tentang apa yang harus mereka catat di Rumah Si Pitung, Bu Indri mempersilakan anak-anak menjelajahi rumah panggung yang luas itu.
“Hati-hati, jangan sampai merusak barang-barang di sini,” Bu Indri mengingatkan.
Fikar dan Satria mulai berdebat, bagian mana yang akan mereka jelajahi dulu dari rumah yang luas itu. Fikar ingin melihat baju Si Pitung yang konon tersimpan di rumah itu, sedangkan Satria ingin melihat koleksi benda-benda antik. Kalam diam saja. Ia sebenarnya kurang bersemangat ketika Bu Indri mengajak mereka ke rumah tua itu. Apa yang menarik dari sebuah rumah kayu kosong yang sudah berusia seabad lebih?
Kalam melangkah meninggalkan kedua sahabatnya yang masih berdebat. Ia ingin mencari tempat sepi dan sejuk untuk beristirahat sejenak. Setelah mencari ke sana-kemari, ia tiba di sebuah ruangan yang cukup luas, dan yang penting sepi. Di salah satu sisi ruangan ada sebuah tempat tidur yang kelihatannya cukup nyaman. Kalam tergoda untuk berbaring di atas tempat tidur itu, tapi ia tidak berani karena teringat pesan Bu Indri. Akhirnya ia pun merebahkan badan di lantai kayu yang sejuk, separuh badannya menjulur ke bawah tempat tidur.
Kelelahan selama perjalanan yang cukup jauh membuat Kalam memejamkan matanya sejenak. Sejuknya lantai kayu ditambah angin semilir yang bertiup dari jendela yang terbuka perlahan mengantarnya menuju tidur yang lelap.
Suara-suara berisik membangunkan Kalam dari tidurnya. Ia membuka mata, lalu duduk dengan kaget. Suara itu tidak terdengar seperti suara teman-temannya, melainkan seperti denting logam beradu. Ia berdiri perlahan, lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Kalam mengerutkan kening. Ada yang berbeda, tapi ia tak tahu apa.
Anak itu menghampiri jendela dan melongok keluar, tapi seketika itu pula ia menarik kembali kepalanya ke dalam. Di luar tampak orang berkelahi! Rupanya suara denting logam yang didengarnya tadi adalah suara senjata beradu. Dengan takut-takut ia mengintip dari balik tirai.
Orang-orang yang berkelahi itu jumlahnya kira-kira tujuh orang. Mereka berpakaian hitam-hitam seperti pendekar yang pernah dilihatnya di televisi. Golok mereka berkilau ditimpa cahaya matahari siang. Kalau diperhatikan, rupanya perkelahian itu tidak seimbang. Lima orang berbadan kekar melawan dua orang pemuda ramping.
Tapi ternyata kedua orang pemuda itu sangat lincah. Mereka meloncat ke sana-ke mari menghindari serangan, lalu sesekali membalas dengan sabetan golok tajamnya. Kalam bergidik. Bagaimana kalau terkena senjata setajam itu, ya? Hih, pasti sakit sekali. Ia kembali bersembunyi di bawah jendela. Apa yang harus dilakukannya? Ke mana Fikar, Satria dan teman-teman lain?
Kalam menarik napas dalam-dalam untuk menghilangkan kepanikan yang mulai dirasakannya. Aku harus mencari Bu Indri dan teman-teman, katanya dalam hati. Perlahan ia bangkit dan mengintip lagi dari jendela. Perkelahian rupanya sudah selesai. Dilihatnya kedua orang pemuda tadi berdiri berkacak pinggang sambil membicarakan sesuatu.
Saat itu salah seorang pemuda tadi mengangkat kepalanya, dan melihat ke arah jendela. Kalam terkejut. Ia ketahuan! Sudah terlambat untuk sembunyi.
“Hei, anak kecil! Sedang apa kamu di situ?”
Kalam meringkuk di balik tempat tidur. Ia mendengar suara langkah kaki menaiki tangga kayu, lalu semakin lama semakin dekat. Jantungnya berdetak keras, sementara telapak tangannya basah oleh keringat. Apa yang akan dilakukan kedua pendekar itu terhadapnya?
“Anak kecil, kenapa sembunyi?”
Kalam melompat mendengar teguran itu. Dilihatnya kedua orang pemuda tadi berjongkok di depannya sambil tersenyum. Tersenyum? Kenapa mereka tidak kelihatan galak seperti yang disangkanya?
“M … maaf, Pak,” ia mencoba menjawab. “Saya … saya anak sekolah yang berkunjung ke sini dengan teman-teman dan Bu Guru.”
Kini kedua pemuda itu yang tampak bingung. “Anak sekolah? Kami tidak melihat ada anak sekolah di sekitar sini. Lagipula daerah ini berbahaya. Banyak tentara Belanda dan centeng-centengnya berkeliaran,” kata salah seorang dari mereka. “Namamu siapa?”
“Saya Kalam, Pak.”
Pemuda itu tersenyum. Wajahnya tampak ramah kalau tidak sedang berkelahi.
“Jangan panggil Bapak. Panggil saja Bang Ji’ih,” katanya.
“Bang Ji’ih?” Kalam mengerutkan kening. Ia seperti pernah mendengar nama itu.
“Ya. Dan ini sepupuku, Radin Ali. Kamu boleh memanggilnya Bang Ali.”
Mata Kalam terbelalak. Kini ia ingat di mana pernah mendengar nama keduanya. “Bang Ji’ih dan Radin Ali? Jadi Abang berdua … Si Pitung yang terkenal itu?”
Kedua pemuda itu tertawa. “Ternyata anak kecil pun mengenal nama kita, Bang,” kata Ji’ih kepada saudaranya.
“Kamu tahu siapa Si Pitung?” tanya Radin Ali.
Kalam mengangguk. “Abang berdua adalah pahlawan. Abang berjuang melawan penjajah Belanda, kan?”
Radin Ali tersenyum. “Pahlawan atau bukan, kami tidak pernah memikirkannya. Kami hanya berjuang mempertahankan kampung halaman kami yang dijajah oleh orang asing. Dan tentu saja kami berjuang membela kebenaran yang diinjak-injak oleh penjajah kafir itu.”
“Wah … ini lebih keren daripada bertemu The Avengers!” Kalam mengepalkan tinjunya dengan penuh semangat.
“Avengers? Apa itu?” tanya Radin Ali.
“Itu tokoh pahlawan dalam cerita, Bang,” Kalam menjelaskan. “Tapi hanya khayalan saja. Tidak nyata seperti Abang berdua.”
Radin Ali menggelengkan kepalanya. “Anak-anak tidak baik banyak berkhayal. Kamu seharusnya belajar yang rajin, supaya bisa mengalahkan penjajah dari mana pun.”
Kalam mengangguk penuh semangat. “Aku akan belajar dengan rajin. Supaya bisa berjuang seperti Bang Ali dan Bang Ji’ih.”
“Bagus,” Ji’ih tersenyum dan mengusap kepala anak itu.
“Tapi lawan Abang berkelahi tadi tidak kelihatan seperti tentara Belanda,” kata Kalam.
Wajah kedua pemuda itu tiba-tiba tampak muram.
“Begitulah, Nak,” kata Radin Ali. “Ada orang pribumi yang rela menjadi pembela penjajah, hanya karena diberi upah yang cukup banyak.”
Kalam tercengang mendengarnya. “Jadi … mereka itu orang kita? Dan mereka berjuang untuk Belanda? Kenapa bisa begitu?”
Radin Ali tersenyum pahit. “Kalau orang hanya menginginkan harta, maka biasanya akan lupa pada kebenaran. Akhirnya mereka tidak lagi menghiraukan, siapa yang mereka bela. Yang penting mendapat keuntungan.”
“Nah, orang seperti itu jangan kau tiru, ya,” kata Ji’ih.
“Siap, Bang!” Kalam menghormat. Kedua pemuda itu tertawa melihatnya.
Tiba-tiba terdengar keributan di luar halaman. Radin Ali dan Ji’ih serentak berdiri.
“Mereka datang lagi,” kata Radin Ali. “Ayo!”
Serempak kedua pemuda itu berlari keluar. Kalam yang masih terkejut terlambat bereaksi. Ia melompat menyusul, tapi yang dikejarnya sudah tak tampak.
“Bang Ali! Bang Ji’ih!” serunya sambil menuruni tangga. Aneh, halaman tampak sepi. Karena terburu-buru, kaki Kalam tersandung salah satu anak tangga. Ia pun jatuh dan kepalanya terantuk tiang kayu. Seketika pandangannya gelap, dan ia tak ingat apa-apa lagi.
“Kalam! Bangun Lam!”
Kalam merasa badannya diguncang-guncangkan. Dengan berat ia membuka mata. Pandangannya berputar-putar, mungkin gara-gara terantuk tadi.
“Bang Ali? Bang Ji’ih?” gumamnya. Ia melihat ke sekeliling. Aneh, ia bukan berada di bawah tangga, melainkan masih di dalam kamar tempat ia tidur tadi.
“Kamu manggil siapa sih?” terdengar suara Fikar. Kalam menoleh, lalu mengerutkan kening. Dari mana Fikar muncul?
“Kamu tadi ke mana aja?” tanyanya.
Fikar mendengkus. “Kok malah aku yang ditanya. Kamu tuh yang menghilang, sampai dicari-cari Bu Indri. Eh, tahunya malah tidur di sini.”
Kalam termenung. Betul juga, tadi ia tertidur di kamar ini. Lalu, pertemuan dengan Si Pitung tadi bagaimana? Mungkinkah itu hanya mimpi? Tapi rasanya seperti nyata.
“Ayo, sebentar lagi kita mau pulang,” Fikar menarik tangan Kalam. Kedua anak itu bergegas keluar dari rumah tua itu.
Ketika bis melaju meninggalkan halaman Rumah Si Pitung, Kalam melayangkan pandangannya ke arah rumah panggung besar itu. Ternyata benar kata Bu Indri, kita harus menjaga dan melestarikan warisan para pendahulu kita. Begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik anak-anak dan generasi muda dari cagar-cagar budaya yang bertebaran di seluruh Indonesia.
“Terima kasih Bang Ali, Bang Ji’ih,” bisik Kalam sambil tersenyum.

#rumahmediagrup

#miradjajadiredja

#latihanmenuliskomunitas

Sumber gambar: Wikipedia.org