Betawi Sonoan Dikit

Bagian 6

Kedua lelaki tanggung itu saling tatapan. Suara mesin motor makin mengerung. Bising banget. Suara soarak sorai penonton juga riuh rendah. Uplek banget.

“Kalian dah pada siap? Ayo gua itungin. Satuuuuuuuu. Duaaaaaaaaaaa. Tigaaaaaaaaa, goooo!” teriak Puspa cempreng.

Bersamaan dengan itu kedua motor tadi bablas seperti kebo dipecut pantatnya. Motor tersebut seperti kesetanan berpacu dengan kecepatan dan waktu. Terlihat keegoisan kedua pemuda tadi nyang tidak mau mengalah. Romy maupun Jody tidak mau terlihat lemah dihadapan Puspa – gadis inceran mereka. Bagi kedua cowok itu Puspa merupakan cewek paling mempesona di kampus mereka. Puspa ngga ada duanya. Cantik milik Puspa. Tajir milik Puspa. Kurang apalagi? Begitupun rupanya nnyang dilakukan oleh Puspa membuat cinta dan perhatiannya ngambang dan nggak jelas buat siapa. Padahal awalnya Puspa cinta mati sama Romy. Tapi entah mengapa Puspa sedikit berpaling pada Jody cuma lantaran cemburu dan sakit hati karena Romy banyak dikelilingi cewek-cewek cantik di kampus. Apalagi si centil Mona nnyang jelas-jelas sudah berani menyatakn cinta pada Romy padahal dia tahu ketika itu ada Puspa. Ada gue gitu!! Puspa tersenyum puas. Kali ini dia sedang mempermainkan hati Romy dengan memintanya untuk menerima tantangan Jody untuk adu balapan dan ngetrek liar di jalan.

Mona nampak semangat memberikan tepuk tangan dan teriakan buat Romy. Tentu saja hal ini membuat hati Puspa semakin galau. Dasar…kuntilanak! bathin Puspa kesal. Bagaimana tidak, Mona jelas-jelas mendukung Romy padahal dia tahu saat ini hubungan Puspa dengan Romy masih pacar dan belum lagi mantan.

“Ayo sayaaang kamu pasti bisa. Kamu bisa kalahin Jody..”, teriak Mona.

            Puspa makin panas.

            “Ayo Jod…kebut terus…”, teriak Puspa nggak mau kalah.

Padahal nyang dia rasakan saat ini jengkel bukan kepalang. Jengkel pada cabe-cabean nyang ada disebelahnya. Tapi nampaknya Mona makin sengaja. Gadis manis itu melirik dengan ekor matanya kepada Puspa sambil melepas senyum menang. Puspa makin tersudut dan merasakan hatinya diiris silet. Perih. Namun Puspa harus menerima kesalahannya sendiri nyang sudah mempermainkan hati Romy. Dan kini cintanya dengan Romy dipertaruhkan dalam sebuah balapan.

            “Heiii…nyadar diri dong, memang kamu tuh siapanya Romy?”, selidik Puspa dengan nada ketus.

            “Heii…asal lu tau yah, gue dan Romy dah jadian, tahu??”, sahut Mona mantap.

            Oh God! bathin Puspa.

            Motor melesat dengan kecepatan hebat. Tatapan Romy dan Jody semakin tidak jelas. Jalan lurus nyang lumayan halus membuat mereka semakin nekad melarikan kuda besi nyang dikendarainya untuk finish lebih dulu dengan taruhan cinta Puspa dan harga diri sebagai cowok macho. Tapi naas bagi Romy. Di ujung jalan mendadak melintas sebuah mobil truk membawa muatan gallon. Romy mengerem mendadak sambil membanting stang motor hingga motornya oleng dan terpelanting. Sementara sopir truk nyang juga terkejut mengerem sambil menghindar. Namun truk selamat dan dapat melanjutkan perjalanan. Romy terpelanting. Tubuhnya kemudian ambruk tersungkur aspal. Mengejang sejenak kemudian diam. Jody nyang sudaj jauh mendahului berbalik arah sambil teriak gembira. Kemudian Puspa dan beberapa rekan lainnya berhamburan kearah Romy. Semua terdiam. Semua panik. Wajah mereka jadi pucat. Romy terkulai tak bergerak.

***

Murtado kelihatan cemas dan gusar. Apalagi Gayatri – istrinya nyang berdarah ningrat itu. Sejak masuk ruang ICU hingga sekarang belum ada kabar tentang Romy. Mereka gelisah menunggu kabar dari dokter nyang menangani Romy. Hanya sesekali mereka mencoba mengintip dari balik kaca nyang dilapisi tirai transparan. Gayatri selalu berdoa semoga Romy – putra kesayangannya tidak mengalami sesuatu nyang fatal. Dan dia juga sangat menyesali mengapa itu terjadi pada Romy. Sementara itu Puspa nyang juga ada di rumah sakit nampak gusar dan belum berani berterus terang kalo semua itu karena ulahnya nyang mempermainkan harga diri Romy demi untuk membuktikan cintanya. Puspa mencoba menenangkan diri dengan keluar dan menuju halaman depan di mana suasananya lebih nyaman. Namun disitu sudah ada Dinda, Emon dan Seno sahabat Romy di kampus. Melihat kedatangan Puspa mereka langsung mendekat, namun Puspa berusaha menghindar. Tidak berhasil. Karena Dinda langsung meraih tangannya dan menahannya.

“Heiii…cewek cantik berhati batu..jadi gitu yah cara luh buat nyakitin Romy. Tega luh ya. Gue nggak sangka..”, cerocos Dinda dengan emosi.

“Huuuh dasar betina, kalo aja luh cowok udah gue banting biar jadi bakpaw”, celetuk Emon dengan nada kebanci-bancian.

“Hus..tenang dulu dong, kasih kesempatan Puspa menjelaskan!”, hardik Seno lebih demokratis.

Dinda menatap tajam pada Puspa. Emon mencibir-cibir. Puspa balik menoleh pada Seno nyang memang lebih demokratis dan bersikap tenang. Seno mendekati Puspa sambil menatapnya dengan lembut.

“Sorry..kalo Dinda dan Emon berlaku kasar sama kamu”.

“Ga papah. Gue emang salah. Gue emang pantes di caci maki. Mereka berdua ga salah. Emang gue nyang salah”, sahut Puspa pelan.

“Emang luh nyang salah yeee. Masa orang lain nyang nanggung salahnya. Kaga adil itu”, sergah Dinda dengan nada ketus.

“Iyeeei..Romy celaka gara-gara luh tau..!!”, ketus Emon

“Ya…gue nyang salah. Romy celaka gara-gara gue. Kalian puas?”, sahut Puspa mulai ngotot.

“Sudah…sudah. malah ribut”, hardik Seno sambil mengajak Dinda dan Emon menjauh.

Dinda kelihatan masih marah dan masih ingin mencaci maki Puspa lebih dahsyat lagi. Emon apalagi, dia ingin banget jenggutin rambut Puspa. Mengacak-acak hingga semrawut biar dia merasakan bagaimana penderitaan nyang tengah dirasakan oleh Romy juga penderitaan nyang dirasakan para sahabatnya. Mereka bertiga menuju ruang ICU dan bertemu dengan Murtadho dan Gayatri nyang sedang bicara dengan dokter. Dari perbincangan tersebut mereka mendengar bahwa kondisi kritis sudah dilewati oleh Romy. Alhamdulillah. Romy sudah sadar. Namun persoalan belum selesai karena kecelakaan maut itu telah membuat sebelah kaki Romy remuk dan patah. Itulah nyang sangat ditakutkan oleh kedua orangtuanya. Jika dokter gagal melakukan operasi terhadap Romy maka jalan nyang harus ditempuh sangat fatal. Amputasi. Gayatri meringis. Murtadho tertegun. Dinda, Emon dan Seno hanya menerka-nerka apa sebenarnya nyang sedang mereka pikirkan?.

“Ini tidak boleh terjadi, Yah. Kasihan Romy. Bunda tidak mau kehilangan Romy dengan keceriannya. Bisa kita bayangkan betapa akan terpukulnya Romy jika dia tahu apa nyang akan dia terima nanti”, Gayatri menangis.

“Sabar saja, Bun. Semoga saja masih ada mukzijat dan keajaiban buat Romy. Ayah juga tidak akan ikhlas jika Romy harus mengalami hal terburuk itu. Ayah pikirkan benar masa depan Romy nanti. Apalagi Romy adalah anak lelaki kita satu-satunya. Ayah akan berunding dengan dokter untuk melakukan nyang terbaik berapapun biayanya. Bahkan kalo perlu ke luar negeri sekalipun. Asalkan Romy kembali seperti semula”, panjang lebar Murtadho menenangkan istrinya. Padahalah dirinyapun sama galaunya.

Gayatri mendekati Murtadho. Kemudian mereka berdua menghampiri Dinda, Emon dan Seno.

“Om dan tante sangat berharap sama kalian supaya bias menghibur Romy. Terima kasih atas kebaikan kalian sebagai sahabat putra kami”, kata Murtadho.

“Iya Om dan Tante. Kami adalah sahabat Romy. Susah dan senang kami akan tetap berteman. Kami akan selalu berteman dengan Romy”, sahut Dinda.

Gayatri dan Murtadho nampak senang. Mereka berdua banyak berharap bahwa semua sahabat Romy dapat membangkitkan semangat Romy untuk melawan sakit nyang sedang dialaminya.

“Kami permisi mau menengok Romy duluan. Kalian bias menunggu untuk menegoknya nanti”, kata Gayatri sambil menuju ruang di mana Romy terbaring.

Bersambung…

Majayus Irone/Budayawan/Rumahmediagrup.com/Novel Budaya