Bias Wajah Sang Ibu

Bias Wajah Sang Ibu

Guratan rindu pada wajah berdebu merekam jejak wajah wajah lusuh, berusaha menyimpan segenap rasa kegelisahan akan masa depan. Tubuhnya yang kecil seringkali menggigil menahan dingin tanpa selimut dan bantal juga tanpa kasur. Baginya selembar atau dua lembar koran bekas sudah cukup sempurna untuk alas tidur setiap malamnya, sambil berharap menemukan hidangan lezat dan kegembiraan yang sesaat walau dalam mimpi tidurnya.

Ningrum, adalah gadis kecil usia 7 tahunan, sudah siap berjuang melawan kerasnya kehidupan, dia adalah salah satu anak jalanan korban orang tua yang lalai dalam asuhan, Ningrum adalah sosok kecil yang terlahir atas kuasa Alloh, tetapi tidak dikehendaki kedua orangtuanya, dia terlahir atas hubungan liar diluar pernikahan yang syah.

Berkali kali berusaha digugurkan tetapi tetap saja kuasa Alloh yang bertahan. Pagi yang cerah, jerit tangis terdengar dari seorang bayi yang baru terlahir disebuah gubuk sederhana atas bantuan dukun beranak desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Bayi mungil itu berparas cantik, putih dan gebu tapi sayangnya ada cacat di mata sebelah kiri, serta jari jemari mungilnya tidak lengkap, membuat sang ibu begitu tega langsung meninggalkannya.

“Mbok Darni, terimakasih sudah membantu persalinanku, mbok. Tapi aku tidak menginginkan bayi itu, apa kata keluarga serta teman-temanku nanti? Kalau mbok Darni bersedia, lebih baik bayi ini aku tinggalkan buat mbok saja, ini ada uang 10 juta sebagai pengganti perawatannya”.

” oalah….nduk, mbok ini memang orang kampung, tapi rasanya kok gak tega ya klo harus menyia nyiakan bayi ini, coba disusuin dulu pasti kamu nanti timbul rasa sayang”.

“Sudahlah mbok, saya tidak tertarik pada bayi cacat itu, yang selalu menyusahkan hidupku. Besok saya sudah harus pulang ke jakarta, dan kembali meneruskan kehidupanku yang telah terhenti karena gara gara mengandung bayi itu, mbok”.

” Hemmm … Ya sudahlah kalau maunya kamu seperti itu, biar bayi ini mbok rawat sendiri sebagai pengganti keluarga mbok yang sudah pergi ke pangkuan Illahi, kebetulan mbok ini juga sebatangkara.”
.
.

Tujuh tahun sudah berlalu, dan bayi kecil itu diberi nama Ningrum. Meski dalam kondisi mata sebelah yang cacat, dan jari tangan yang tak sempurna, Ningrum termasuk tipikal anak yang pede, tidak pernah minder dengan segala kekurangan fisiknya, hatinya yang baik dan suka berwelas asih, membuat mbok Darni sangat menyayanginya, tapi tidak begitu lama pengasuhan mbok Darni harus berakhir. Beliau meninggal karena sakit sesak nafas yang telah lama dideritanya, gubuk sederhana itu kini hanya tinggal Ningrum seorang diri mengulang sejarah sebatangkaranya mbok Darni. Meski usia bocah itu baru tahun tapi dia mempunyai pemikiran yang cerdas dan dewasa dibandingkan anak anak seusianya.

Sore itu, tanpa sepengetahuan para tetangga, Ningrum sibuk berkemas kemas seperti hendak berpergian jauh. Dia teringat kata kata mbok Darni,

“Rum, ibumu itu orang kota, orang jakarta. Orangnya cantik kulitnya putih dan rambutnya panjang seperti kamu, tapi mbok tidak tau persis dimana alamat rumahnya, semoga kelak kamu bisa berjumpa dengan orang tuamu nduk.”

Dengan berbekal beberapa baju dan kain selimut, juga uang recehan hasil memecahkan celengan, gadis itu berjalan menyusuri jalan yang sepi menuju jalan raya utama, jaraknya sekitar 2km dari rumahnya, ketika terdengar adzan Maghrib Ningrum mendapat tumpangan mobil pick up yang memuat sayur mayur menuju ibu kota.
.
.

Mobil itu berhenti disekitaran pasar senin. Ningrum pun bergegas turun dari bak mobil, dengan melongok kesana kemari bingung menentukan arah tujuan kakinya dia terus berjalan. Malam semakin merangkak kelam, hiruk pikuk dan kerlap kerlip lampu ibu kota seperti hiasan yang terindah, terpukau dengan keadaan sekitar tak terasa perut lapar minta segera diisi.
Disudut emperan toko yang sudah tutup lapaknya, Ningrum duduk seorang diri, diraihnya tas ransel yang sedari tadi diletakkan dekat tempat dia duduk, dikeluarkannya sepotong roti dan air minum dalam botol, badannya yang kurus dan mungil menyimpan rasa lelah. Setelah melahap beberapa potong roti kantuk pun mendera, tertidur dalam dekapan dinginnya malam.

Pagi pertama di ibu kota.

“Hei, bangun, bangun… Minggir. Toko mau segera dibuka, dasar pemalas.”

Sisa lelah pada tubuhnya membuatnya terasa belum puas tidur semalaman, tapi hardikkan seorang pria itu membuatnya segera membuka mata mengakhiri tidurnya. Dengan sedikit rasa malas Ningrum segera beranjak dan bergegas meninggalkan tempat itu, tetapi ….

“Tasku … lhoo … tasku, di mana tasku? Pak, apa bapak tau di mana tas saya tadi?”

“Eh … Aneh nih anak, disuruh pergi malah banyak tanya, tanya dimana tas pula, sudah sana pulang tanya sama ibumu.” bentak lelaki itu kasar.

“Saya sudah tidak punya ibu pak.” jawab ningrum sambil menangis karena merasa kehilangan.

“Eh … Malah nangis lagi, sudah pergi sana.” hardik lelaki itu dengan suara tinggi.

Rupanya semalaman ketika dirinya tertidur lelap ada yang sengaja usil mengambil tas ransel miliknya. Sudahlah seorang diri tanpa siapapun yang dikenal, gadis kecil itu harus berusaha memecahkan masalahnya seorang diri.

Berjalan tanpa arah, mengamati setiap aktifitas orang orang disekelilingnya. Hari sudah semakin siang, rasa lapar dan haus kembali mengganggunya tapi apalah daya uang sepeserpun dah raib entah kemana, tiba tiba matanya tertuju pada seorang ibu ibu yang tengah repot bawa barang belanjaannya, Ningrum pun mendekati ibu itu sambil menolong membawakan barang barang belanjaannya hingga sampai di terminal angkot, ibu itu memberikan selembar uang 5 ribu rupiah sebagai imbalan. Ningrum senang bukan kepalang sambil mengucap terimakasih segera beranjak pergi. Tempat yang ditujunya adalah warung nasi murah.
.
.

Dua tahun sudah terlewati, terlunta lunta di jalanan melawan kerasnya ibu kota, Ningrum menjadi dewasa diantara kepulan debu dan asap metropolitan, harapan ingin sekali bertemu dengan ibu kandungnya masih menebal dalam hatinya. Setiap kali jika berpapasan dengan wanita yang cantik, berambut panjang dan berkulit putih selalu membuatnya berangan-angan bahwa itu adalah ibunya, ibu yang telah lama meninggalkannya. Meski demikian impian terindah baginya bisa menatap wajah ibu kandungnya.

Ningrum kini hidup di bawah atap langit di sudut ibu kota, lingkungan kotor jauh dari binaan, membuat Ningrum kini berubah menjadi anak yang bengal, ia acapkali ikut mencopet di pasar atau terkadang mengutil di warung-warung makanan semua itu dengan alasan karena lapar! Siapa yang perduli akan nasibnya? Bocah cacat yang sebatangkara hanya akan menambah beban bagi yang memungutnya.

Hari itu cuaca mendung, sejak seminggu yang lalu sudah masuk musim hujan. Sudah dua hari ini Ningrum tidak makan, dan sudah dua hari ini pula ia menderita panas demam, perutnya keroncongan mendesak segera minta diisi tetapi tangan dan kaki mungilnya tak kuat untuk menopang berjalan, lemas.
Disudut kumuh bawah jembatan Ningrum menangis memanggil nama Alloh seperti yang pernah diajarkan mbok Darni. Tangis lirih seolah mewakili kata hati, diraihnya sebuah kertas buram bekas bungkus makanan, kemudian dia mulai menuliskan surat kepada Tuhan.

Untuk Alloh….
Kata mbok Darni Engkau maha pengasih dan penyayang, tapi apakah engkau menyayangiku?

Ya Alloh, aku kepingin sekali ketemu ibuku, menatap wajahnya, sekedar memberiku makan dan tempat tinggal, aku tidak membencinya meskipun ibuku telah meninggalkanku didesa,

Ya, Alloh aku kini sendirian mbok Darni juga sudah meninggalkanku, jika engkau perbolehkan ijinkan aku menitip pesan, kirimkanlah ibu kepadaku agar aku tau bahwa aku memang masih memiliki ibu…
Aku tidak pernah membenci ibuku, tapi sayang ibu.
.
.

Tubuh Ningrum yang kurus semakin menggigil, tapi suhu tubuhnya panas tak tertahankan dalam tangis kepedihan kesendirian, tanpa seorangpun yang ada membelai sayangnya, mata Ningrum semakin sayu dan terpejam. Malaikat Izrail datang menghampiri perlahan, ruhnya pun perlahan-lahan meninggalkan jasadnya dalam kesendirian, Alloh telah memanggilnya.

Ningrum meninggal dibawah kolong jembatan berjarak 1 meter dari sungai aroma comberan. Esok paginya, ramai orang-orang mengerumuni jasad gadis kecil itu, tampak beberapa orang polisi sibuk mengurusi, jasad Ningrum diangkat masuk mobil jenazah. Surat untuk Alloh yang semula dalam dekapannya, lepas jatuh diterbangkan angin hingga terdampar dalam liarnya arus sungai, pesannya telah menyatu bersama berhentinya sang waktu. Bias wajah sang ibu tertelan hedonisme gaya euforia kemaksiatan ibu kota membungkus egoisme pada sesama.

Selesai

rumahmediagrup/lellyhapsari