Bisa karena Biasa

Bisa karena Biasa

Saat usia masih kategori muda, produktif, padat dengan aktivitas, harus bisa curi-curi waktu untuk sendiri. Meluangkan waktu untuk diri sendiri dari kesibukan rutinitasnya yang kerap disebut  me time bisa beragam, asalkan kita merasa nyaman dan santai. Kegiatan yang sederhana tanpa mengeluarkan biaya tinggi, bisa kita lakukan untuk mengisi waktu.

Kini, saat usia merambat senja, saat anak-anak bertumbuh dewasa dan sibuk dengan aktifitas masing-masing, waktu untuk sendiri cukup panjang durasinya. Tak pelak, kita butuh kegiatan untuk mengisi waktu lengang nan panjang itu.

Tua muda butuh waktu untuk diri sendiri. Kerap kita memiliki keinginan untuk keluar dari rutinitas, namun masih bertanya, “apa yang harus dikerjakan.”  Ada beberapa pilihan kegiatan untuk mengisi waktu tersebut, misalnya berbelanja atau makan siang di luar sendirian, menonton film, mendengarkan musik, membaca, dan menulis.

Belanja, makan, nonton, dengar musik, membaca, semua itu bisa dengan mudah kita lakukan. Tapi kalau menulis, kegiatan ini cukup menantang dan butuh kebiasaan yang rutin. Yah, menulis, menulis dan menulis. 

Menulis sudah kita lakukan sejak jemari ini bisa menoreh bentuk ataupun huruf serta angka. Semakin hari semakin lemas gerakannya, baik saat menggores dengan pena, menyentakkan tuts-tuts di mesin ketik, sampai pada kemajuan teknologi masa kini yang cukup menyentuh keyboard pada gawai maupun komputer. 

Kita dituntut bisa menulis,  karena harus menyelesaikan tugas sekolah maupun tugas kantor. Saat ini tak hanya sebagai rutinitas kita menulis, tapi kegiatan menulis makin marak dilakukan. Dunia literasi terus bangkit bertumbuh. Ajang menulis dan komunitas penulis salah satunya diakomodir oleh Penerbit Rumedia dengan membuat wadah Nulis Bareng (NuBar) di beberapa wilayah di Indonesia, semisal Nubar Rumedia Area Jawa Timur, Area Jawa Barat, Area Sumatra, dan sebagainya. Saat ini pun kami sedang ditempa menjadi lebih baik dan handal di kawah Challenge Nubar Rumedia Bla.

Penulis pemula seperti saya ini, senang dengan tersedia wadah untuk terus berkarya, berkreasi, menghasilkan tulisan yang bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi berharap penuh, dapat diterima penikmat literasi dan memberi kebaikan pada pembaca.

Bermula dari antologi, saya ikut karya bersama namun tetap tampil dengan ciri khas penulis yang mengisi. Senang hati ini, saat menerima kiriman buku antologi pertama yang berjudul Secangkir Kopi di Pagi Hari. 

Minat untuk terus berlatih menulis lagi dan lagi, seperti hasrat yang tak terbendung. Apalagi diikuti dengan datangnya buku antologi yang kedua, ketiga hingga kelima. Melecut diri untuk terus maju dan satu saat harus tercipta buku solo yang hanya ada karyaku sendiri. 

Alah bisa karena biasa.

#Nubar

#NulisBareng

rumahmediagrup/hadiyatitriono