Bisnis Oh Bisnis (1)

BISNIS OH BISNIS (1)
 
 
 
“Kamu tidak akan pernah maju jika berbisnis selalu dengan cara yang jujur,” kata seorang pebisnis yang telah sukses.
“Oh begitu… berarti teman saya seorang lulusan pesantren besar di Indonesia menipu saya hingga puluhan juta juga berprinsip seperti itu ya, karena dia berbisnis, jadi ilmu yang didapat di pesantrennya luntur, begitu?” tanyaku memancing.
“Hmm … eh.. itu sih tergantung pribadi masing-masing orang,” selanya.
“Berarti ini juga pribadi saya, tetap berbisnis dengan jalan yang bersih, meski kendalanya adalah terseok-seok bahkan berdarah demi rupiah yang berkah,” mantapku.
“Kalau terus-terusan berpikiran seperti itu, sampai kapan pun kamu tidak akan berhasil!” ketusnya.
“Keberhasilan tergantung dari Rahmat Tuhan. Proses yang baik atau buruk tergantung seseorang menjalaninya. Sekarang bagaimana kita mau mendapat Rahmat-Nya kalau proses yang dijalani bertentangan dengan-Nya?” cecarku balik.
“Jadi kamu nuduh saya berbuat curang dalam berbisnis ya?” amuknya memuncak.
“Lah, bukannya kamu sendiri yang bilang, berbisnis jangan terlalu jujur? Kalau tidak jujur pasti curang. Malah, kamu sendiri yang bilang. Gimana sih.” Aku membalikkan semua ucapannya.
“Ucapanku di awal tadi memang benar. dalam dunia bisnis, kalau kita tidak menipu, kita yang ditipu. Kamu mungkin sudah banyak jadi korban penipuan partner bisnis, karena kamu terlalu jujur.” Ia mulai mencari cara membenarkan ucapannya.
“Seandainya, saya melakukan kecurangan dalam mencapai impian saya, katakanlah berbuat curang dalam mencapai kesuksesan berbisnis. Di tengah jalan, saya meninggal dunia. Apa jadinya masa depan saya di akhirat nanti? Kamu mau menjamin saya tidak masuk neraka akibat kecurangan saya? Atau kamu mau bilang pada para malaikat, namanya juga bisnis…, malaikat mungkin bilang, ‘ini akhirat bukan dunia fana, bro…’ kamu mau ngomong apa?” balasku panjang lebar.
“Aaahh…, susah ngomong sama orang yang tidak terbuka pikirannya,” ucapnya mulai kehabisan kata-kata.
“Iya, saya juga susah ngomong sama orang yang tertutup mata hatinya.” Jleebbb!!!
 
***
 
Bisnis oh bisnis. Banyak sekali orang menghalalkan segala cara untuk meraih kesuksesan dalam berbisnis. Tipu sana tipu sini berdalih strategi marketing. Melakukan transaksi tidak sesuai akad bisnis. Lingkaran bisnis itu memang penuh tipu daya setan. Bila tidak memiliki tekad kuat berbisnis karena mencari ridha-Nya; bagi yang haus akan kenikmatan dunia, mungkin akan terseret dalam lingkaran setan itu.
 
Apa yang kita dapatkan, tergantung proses yang kita jalani. Kita yang harus memilih jalan itu; baikkah atau burukkah!
 
 
 
rumah media/alfafa

2 comments

  1. Kok saya malah percaya bahwa dalam berbisnis (atau bekerja sebagai anak buah di sebuah perusahaan) kita tetap harus jujur, ya. Jujur bukan berarti tidak waspada. Soalnya, kelanggengan bisnis itu kan terkait dengan kepercayaan. Kita sekarang bisnis buku, terus buku seret, pindah video-based, ntar bisa pindah jadi web-based, dan pelanggan yang percaya kita akan tetap mendukung kita. Saya sih percaya karma (nggak semua agama percaya karma, tapi saya percaya karma) dan semua yang baik pasti akan mendapatkan bantuan.

Comments are closed.