Bu, Rambutku Ada Ubannya !

Andra mengikutiku dari belakang saat aku memasuki ruangan kelas. Kemudian berbisik, “Bu, rambutku ada ubannya. Kenapa ya bu? Aku takut.” Kupandangi siswaku dengan tatapan menelisik ke arah rambut cepaknya.

Andra salah satu siswaku yang lumayan aktif. Tak hanya aktif motoriknya saja namun juga bahasanya. Jika ada temannya yang melakukan kesalahan tak ayal akan menjadi bahan ledekannya.

Bapak dan ibu guru pun seringkali membicarakan perihal keaktifannya. Aturan yang ada di kelas terkadang hanya berlaku untuk teman-temannya, tapi tak berlaku baginya. Ia asyik dengan gaya belajarnya sendiri tanpa menghiraukan aturan yang ada.

Sebagai guru tak lelahnya aku selalu mengajaknya bicara, mungkin ada alasan mengapa ia selalu berbuat sesuatu yang membuat temannya bahkan bapak ibu gurunya tak nyaman. Namun sepertinya karakter dan pola asuh di lingkungan keluarganya memang memberinya kebebasan sehingga saat di sekolah ia berlaku dan bertingkah seperti di rumahnya.

“Biasanya rambut beruban karena apa?” tanyaku.

“Karena tua bu!” jawabnya setengah berbisik. Segera ia menutup mulutnya karena takut suaranya terdengar oleh temannya.

“Nah itu kamu tahu. Artinya apa sih?” tanyaku kembali.

“Gak tahu bu,” jawabnya sambil mengangkat bahunya.

“Itu peringatan dari Allah, bahwa kamu harus mengubah sikapmu. Cobalah untuk lebih bertanggungjawab terhadap sikapmu dan mentaati aturan yang telah ada di kelas. Harus bisa menahan diri untuk sehari saja tidak membuat teman marah ya. Pasti bisa, Andra kan anak yang hebat,” ucapku sambil mengelus pundaknya.

Andra hanya diam dan mengangguk-angguk. “Ibu jangan bilang teman-teman ya. Aku malu,” ucapnya.

Esok hari saat mengajar di kelas yang sama, kulihat Andra lebih tertib dan diam. Biasanya ia akan keliling ke bangku teman-temannya. Namun kali ini ia duduk di bangkunya dan mengikuti pelajaran.

Saat akan keluar kelas aku mendekati Andra, kuacungkan jempol ke arahnya sambil berlalu. Ia membalas dengan mengangguk dan senyum termanis yang pernah kulihat. Ibu bangga padamu Andra, ucapku dalam hati.

Hari-hari berikutnya Andra menjadi lebih tenang, dengan banyak senyum. Lebih peduli, saat jam pelajaran ia akan ke ruang guru untuk menjemputku dan membawakan buku serta peralatan tulisku.

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi

rumahmediagrup/She’scafajar

One comment

Comments are closed.