Buah Hati Idaman

Buah Hati Idaman

Sewaktu baru menikah ingin sekali segera punya momongan. Apalagi saat menikah, usia  30 tahun sudah termasuk ‘kematangan’.

Tiga bulan pertama masih fase aman, masih hangat-hangatnya pengantin baru. Memasuki bulan berikutnya, mulai ditanya mertua yang jauh di pulau seberang, “Nak, apa istrimu sudah isi?”

Bapak mertua mungkin khawatir, usia dapat sebagai penghalang kesuburan wanita, tapi apakah beliau juga memikirkan perasaanku.

Kerabat, teman dan orang-orang yang berjumpa denganku setelah pernikahan itu, pasti hampir sama pertanyaannya, “Udah isi belum nih.”

“Ayo buruan cek ke dokter atau pakai ini nih biar cepat dapat keturunan.”

Mereka semua jadi repot, dan akunya jadi stress. “Saya bisa hamil nggak ya. Umur sudah segini, kalau nanti lama nggak dikasih Allah, bagaimana?”

Akhirnya, perkawinan baru seumur jagung mulai dibumbui selisih pendapat dengan pasangan. Suami sih menanggapi enteng, lha aku yang senewen. 

Buah hati idaman seperti menari-nari di kepala. Kapan ya. Kira-kira nanti yang lahir pertama cowok dulu nggak ya, supaya ada yang jaga adik-adiknya. Ish, bisa senyum-senyum sendiri. Namun bisa jadi senyum kecut bila mengelus perut masih saja belum ada gerakan aneh.

Bersyukur saat pengajian, membahas tentang keturunan dalam perkawinan. Memiliki anak itu adalah cobaan, namun bila belum dikaruniai juga cobaan. Maka berbaik sangka lah kita pada Allah. Siti Aisyah r.a, istri Rasulullah pun tidak diberi momongan oleh Allah. Jadi, mengapa harus gusar.

Wallahualam bishawab.

rumahmediagrup/hadiyatitriono