Buah Hatiku, Belum Tentu Milikmu

Buah Hatiku, Belum Tentu Milikmu

Sari menarik nafas panjang, lalu mengejan lagi,  tersengal-sengal dan terus berusaha di saat pembukaannya telah lengkap. Di sisinya berdiri Hendro, yang memegang erat tangan istrinya.

“Ayo bu, sedikit lagi. Atur nafas, tahan,  mengejannya jangan ditahan dan jangan di leher ya bu.” Instruksi bidan yang membantu persalinannya.

Bagi Sari ini bukan persalinan pertamanya. Ini kehamilan anak kedua. Dia masih ingat bagaimana dulu saat melahirkan Rasita, empat tahun yang lalu. Namun yang menjadi bebannya saat ini adalah ketidaktahuan suaminya, bila ia telah mengkhianati Hendro.  

Iming-iming hidup lebih baik telah membutakan matanya akan moral dan etika sebagai seorang istri.  Rayuan dan pujian dari pimpinan tempatnya bekerja telah membawanya ke lembah maksiat. Itulah yang terjadi setahun belakangan ini,  saat Hendro mulai terpuruk perekonomiannya. 

Sari tak ingat lagi kapan kenikmatan sesaat yang berujung pada tumbuhnya janin di rahim. Lalu siapakah yang dominan membuahinya. 

Di saat mengejan, ia menjerit bukan karena kesakitan. Ia lampiaskan segala kekalutan yang menyelimutinya. Anakku kelak, akan mirip siapakah engkau. 

“Iya ibu, itu kepala bayinya sudah nongol.  Nafas teratur ya, supaya terdorong keluar.”

Bidan berkata sambil tersenyum dengan peluh di dahi.  Sementara Hendro suaminya, tersenyum bahagia dengan mata berbinar.

Sesaat setelah bayi ditarik keluar oleh bidan, Sari menjerit kencang, lalu pingsan.

rumahmediagrup/hadiyatitriono