Budaya – Seni

Seni adalah sesuatu yang dikerjakan dengan teknik tinggi dan bersifat halus (detil/presisi), begitu menurut kamus besar bahasa Indonesia. Ini berarti apapun yang dikerjakan dengan teknik tinggi dan dengan ketelitian serta kehalusan akan bernilai seni.

Banyak kesenian tradisi kita baik yang klasik atau yang populer (folk) terus menurun nilainya karena nilai seninya yang kurang mendapat perhatian. Karya sering digarap hanya dalam beberapa bulan, kadang beberapa minggu atau bahkan hanya beberapa hari sudah ditampilkan.

Kemerosotan nilai seni pada banyak budaya kesenian tradisi klasik dan populer kita sering diakibatkan oleh ‘jebakan’ teknologi dalam penguatan suara, teknik perekaman, juga teknik artistik. Teknologi telah menyihir para pelaku kesenian dengan suara teknologi, tata artistik teknologi yang membius dengan sensasinya. Bius ini sedemikian kuatnya sehingga hal-hal yang memerlukan dukungan teknik tinggi dan kehalusan diabaikan, karena apa yang dirasakan sepertinya sudah asyik.

Kemerosotan nilai seni pada Kesenian kita berakibat fatal. Masyarakat yang semula tergetar jiwa dan raganya oleh ketinggian teknik yang asli dan kehalusannya, kini tergetar oleh sensasi ribuan watt audio dan visual dengan kecanggihan high fidelity-nya. Hal ini berakibat budaya masyarakat kehilangan hubungan emosional untuk mengembangkan kualitas kehidupannya sampai ketingkat bernilai seni.

Dekadensi budaya terus berlanjut hingga saat ini. Kemerosotan moral pada budaya politik dan ekonomi tak bisa dilepaskan dari rusaknya nilai-nilai seni kita dalam berbagai bidang budaya. Dalam benak kita, seni adalah kesenian, adalah musik, tari, lukis. Kita tidak tegas memisahkan antara kesenian dan nilai seni. Dalam fikiran kita, seni adalah keindahan dan keindahan adalah sekedar tontonan, hiburan, bukan sebuah pencapaian dari proses kerja dengan segala kompleksitasnya. Semuanya tinggal pencet jadi. Tinggal teken beres.

Pemajuan Kebudayaan bukan program dinas, ini semboyan kerakyatan yang bersiap untuk memulai bab berikutnya. Ini bab berat bukan karena kita bangsa besar dan kaya ragam budaya, bab ini berat karena cengkeraman teknologi tak mungkin kita lepaskan. Kita hanya perlu merubah status teknologi dari tujuan jadi sekedar alat bantu dalam mencapai tujuan.

(Jakarta, 2020
Embi C Noer/facebook.com)

Majayus Irone/Rumediagrup.com