Buku Terakhir untukmu, Losa – Bagian 2

Buku Terakhir untukmu, Losa – Bagian 2

Pertemuan dengan Losa menyisakan kesan bagi Fabian. Hingga satu tahun pun berlalu, terkadang Fabian menggantikan Mira untuk membacakan cerita ataupun hal baru bagi Losa. Kedekatan mereka telah menumbuhkan rasa yang lebih di antaranya.

Hingga suatu saat.

” Losa, segera bersiap siap ikut kak Mira sekarang juga?” tanya Mira.

“Ke mana, Kak?” Losa terlihat bingung.

“Sudah tidak usah banyak tanya. Ada kabar baik untukmu, ada relawan yang mau mendonor mata untukmu, jadi waktu kita tidak banyak karena tidak boleh lebih dari 11 jam. Persiapkan dirimu, segera kita berkemas dan berangkat,” jelas Mira.

Losa nampak kebingungan tapi sekaligus hatinya melompat kegirangan. Alhamdulillah, berarti kesempatan Losa untuk bisa melihat kembali warna dunia segera terkabulkan.


***

Hari kamis, dua minggu setelah oprasi donor mata itu dilakukan, Dr. Salwa telah menjadwalkan proses membuka perban yang menutupi kedua mata Losa. Gadis itu nampak tegang dan gelisah, adakah dia bisa melihat kembali, atau harus kembali buta selama lamanya.

Nampak ada Mira beserta mama dan papanya ada di dalam ruangan itu, sementara jam masih menjukkan pukul 7 pagi, masih ada 3 jam lagi.

“Kak Mira, kok sedari Losa masuk rumah sakit ini Fabian gak pernah datang menengokku, Kak? Juga gak pernah nelepon, kenapa, Kak?”

“Losa, tenangkan pikiranmu, mungkin Fabian saat ini sedang memberikan hadiah kejutan buatmu, jadi bersabar ya.”

Tak-tok-tak-tok … suara sepatu dokter yang melangkah memecah ketegangan.

“Halo, assalamualaikum Losa, bagaimana kabarnya hari ini? Sudah siap perban matanya dibuka?”

“Waalaikum salam bu Dokter, insyaallah saya siap bahkan tak sabar lagi ingin tahu hasilnya.”

“Oke, kita mulai .. dan yang ada di sini ikut berdoa, ya! Bismillah.”

Dag-dig-dug, jantung Losa berdegup kencang, besar harapannya untuk kembali melihat dunia, bisa melihat wajah kak Mira sekeluarga, terutama sekali Losa sangat berharap bisa menatap Fabian pujaan hatinya.

Proses membuka perban di mata Losa itu tidak lama, 20 menit terlewati, selesai sudah.

“Sabar ya Losa, tutup mata dulu dan perlahan lahan buka matanya, kemudian ceritakan apa yang dirasakan.” Dr. Salwa menerangkan. Dengan perlahan lahan Losa membuka mata.

“Subhanallah …. Allahuakbar, ini pasti Kak Mira, ini pasti Tante Rina mama Kak Mira, dan itu pasti Om Bimbo papa Kak Mira, betulkah? Alhamdulillah ya Allah, saya sekarang sudah bisa melihat.”

“Allahuakbar … subhanallah, Losa!!! Fabian, engkau hidup kembali, Nak!”

Tante Rina histeris terharu sambil menangis memeluk Losa. Perempuan separuh baya itu terus menangis sambil mengatakan, “Fabian engkau telah hadir di depan mata mama Nak.”

Losa menangis terbawa suasana haru, dan Mira pun tak luput dalam tangisnya.
“Losa, sebenarnya inilah kejutan yang diberikan Fabian untukmu, kami sengaja merahasiakan semua ini darimu karena permintaan Fabian, tepat sehari setelah hari ulang tahunnya Fabian telah meninggalkan kita semuanya untuk berpulang, Biyan mengalami kecelakaan parah, dan sebelum masa kritisnya terlewati ia sempat berpesan agar tetap menerima Losa sebagai adik perempuan kak Mirna pengganti Fabian, dan kepada Mama ia berpesan jika Fabian meninggal maka donorkan kedua mata Biyan pada Losa, agar Mama bisa merasakan tatapan mata Fabian tetap hidup meski dalam raga Losa, dan ini ada sebuah buku diary Fabian sebagai kenangan terakhir buatmu.”

Losa terpaku dalam tangisnya yang deras, tergugu tapi tak mampu berkata apa pun, jiwanya tergetar seakan akan dalam hatinya akan melompat sebuah kata, “Bian, aku terlanjur menyanyangimu.”

Kemudian dibukanya perlahan buku diary Fabian, di halaman depan ada secarik kertas dengan warna indah, bertinta emas.

“Kak, tolong bacakan untukku, apa kalimat kalimat itu?”

Dengan bergetar dan menahan Isak tangis Mira mulai membacanya.

Teruntuk Losa sang pembawa senyum purnama

Terima kasih atas hadirmu yang telah memberiku warna

Aku seorang pujangga yang rapuh

Sedang dalam perjalanan menggapai impian bersamamu

Engkau laksana rembulan yang tinggi di atas tahta bidadari surga

Jagalah asa agar takkan pernah sirna.

Andai mengering sudah rasa dalam dekapan

Dalam khayalan yang tak pernah tersampaikan

Tak perlu ada derai air mata.

Kumengejar hatimu dengan deru roda motorku

Tak sampaikah salam yang kusampaikan untukmu?

Yang telah kutitipkan pada hembusan angin malam

Bahkan kupaksa burung-burung itu menerjang badai

Sampaikan impian

Dalam pelukan senja, aku tetap menanti

Jika dihalalkan kita suatu hari nanti.

Fabian

***

Penulis: Lelly Hapsari

Editor: Ilham Alfafa

Rumah Media Grup