Buku Terakhir untukmu, Losa

Pagi ini nampak cerah, Langit tanpa mendung dan awan berarak seperti kapas bersih yang menggantung di langit biru. Setiap di Minggu pertama pagi hari, para pelajar yayasan tuna netra “Harapan Bangsa” selalu mengadakan acara mendengar dan membaca.

“Assalamualaikum, Cantik. Wah Losa, pagi ini kamu tampak lebih cerah, cantik warna kerudungmu yang pink, baru ya?” tanya Mira.

“Ah, kak Mira bisa aja, jangan digangguin dong kak, malu,” balas Losa.

“Alhamdulillah, kemarin Ttantenya Losa datang menjenguk dan bawakan oleh-oleh dari Jakarta,” cerita Losa.

“Beneran loh, cakep banget, cocok dengan gamis yang dipakai. Emmh, btw hari ini mau dibacakan apa?”

” Losa pengen dengar puisi kak Mira kemarin, Kakak kan sudah janji mau bacakan buat Losa,” pinta Losa.

” Oke deh, buat adik tersayang, Kakak akan bacakan.”

“Makasih, Kakak.”

Sert-merta wajah losa menjadi sumringah, senyum remaja itu ikhlas meneduhkan.

Losa sudah berada di yayasan panti tuna netra sejak 10 tahun yang lalu, sejak ia berusia 8 tahun. saat itu ia mengalami kecelakaan bersama kedua orang tuanya hingga merenggut nyawa umi dan abinya, serta mengambil paksa penglihatannya. Tinggallah dia seorang diri dengan kebutaannya.

Sebenarnya masih ada harapan Losa untuk bisa melihat lagi jika ada donor mata yang mau menyumbangkan kornea matanya, itu jelas sangat sulit didapatkan dan sekaligus harus mengeluarkan biaya yang mahal.

Losa Tumbuh menjadi remaja yang cerdas, selalu ingin tahu. Mira sebagai ketua tim pembaca buku di tempat itu seringkali sampai kewalahan meladeni semangat Losa untuk dibacakan banyak buku, mulai dari buku sastra, buku staqofah Islam, sirah Nabawi, bahkan sampai buku-buku yang membahas politik Islam. cerdas, jenius, salihah. Itu yang tertangkap dalam sosok Losa.


***

Minggu pertama di bulan April, seperti biasa jadwal rutin acara baca membaca berlangsung, saat Mira membacakan kisah tentang wanita wanita hebat di zaman Rasulullah, tiba-tiba terhenti.

“Assalamualaikum, kak Mirna.”

Sesosok pemuda tampan menghampiri dan mengucap salam pada Mirna. Sambil terperanjat Mirna menjawab salamnya.

“Waalaikum salam, Masyaallah, Dik Fabian! Apa kabarnya Dik? Kapan datangnya? Kak Mirna sampai kangen banget, ditelepon gak pernah diangkat diwhatsapp juga gak dibalas, sok sibuk deh.”

“Eh kak Mirna, orang muda itu memang sibuk, banyak urusannya, jiahhhh …. Kemarin sore baru nyampe di Surabaya, Kak. Ini tadi baru selesai ngikutin acara seminar di UNAIR. eh Kak … itu siapa?”

“Eh iya, sampai lupa kenalkan ini Losa, pelajar terpandai di panti ini,” ucap Mira memperkenalkan Losa.

Losa yang sedari tadi terdiam menyimak, melemparkan senyumnya tanda menyambut perkenalan dengan Fabian, meski tak bisa melihat keberadaan adik Mirna itu, Losa berusaha mengarahkan pandangannya ke arah Fabian, meski terasa dalam gelap senyuman Losa terasa hangat.

***

Bersambung

Penulis: Lelly Hapsari

Editor: Ilham Alfafa

Rumah Media Grup