Kembalilah ke Rumah

Kembalilah ke Rumah

Anak-anak remaja lelaki dan perempuan berbaur saat waktu magrib telah lewat. Bergerombol di pinggir jalan. Berdua-duaan berboncengan malam-malam, entah hendak kemana.

Anak gadis memilih calon suami kaya raya meski tanpa iman yang kuat. Bahkan tak jarang menggandeng lelaki yang usianya lebih tepat menjadi ayahnya. Tak merasa suatu hal yang penting bila menjalani nikah kontrak maupun nikah siri sebab si lelaki sudah beranak istri.

Anak perempuan dan anak lelaki tak sungkan mengumbar kemesraan yang hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri. Berpacaran, melakukan seks bebas, seolah sudah menjadi hal yang biasa. Tak lagi malu jika hamil tanpa menikah terlebih dahulu sehingga marak terjadi pembuangan dan pembunuhan bayi.

Remaja tak lagi asing dengan miras dan narkoba. Penyakit HIV AIDS yang mematikan semakin merajalela. Tingkat kesakitannya terus meningkat tajam setiap tahunnya.

Ada apakah ini? Mengapa sedemikian bobroknya akhlak generasi muda zaman now? Seolah mereka tak lagi mengenal norma dan agama. Hidup makin bebas tanpa aturan yang mengikat. Tak lagi malu melakukan hal-hal yang tabu.

Akar permasalahan yang paling utama, yang perlu diidentifikasi pertama kali adalah keberadaan orangtua. Ke manakah orangtua remaja-remaja zaman now tersebut? Masihkah memegang aturan agama dan norma? Masihkan mendidik anak-anaknya agar memiliki rasa malu berbuat maksiat meski tiada manusia yang memperhatikan aksinya?

Masihkah menerapkan jam malam bahwa menjelang waktu magrib maka anak-anak mereka tidak lagi diperkenankan berkeliaran di luar rumah bila tanpa ada urusan penting dan tanpa didampingi mahromnya? Masihkan mengajarkan anak-anaknya yang sudah akil baligh agar menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis? Masihkan mengajarkan anak-anak mereka untuk memilih calon suami atau istri berdasarkan kriteria agama yang baik sebagai poin utamanya?

Masihkah mengajarkan bahwa mendekat pada Tuhan adalah lebih baik saat jiwa merasa resah dan gundah gulana, dibandingkan berlari pada narkoba dan miras yang jelas-jelas hanya merupakan distraksi sesaat, yang haram dan merusak tubuh? Masihkah mengajarkan bahwa berpacaran itu hanya mendatangkan malapetaka dan mendekati zina? Masihkan mendidik anak gadisnya agar senantiasa menjaga mahkotanya yang paling berharga agar tiada bernoda?

Jika kerusakan akhlak dan moral generasi penerus kita sudah sedemikian parahnya, maka tak ada seruan lain yang lebih tepat selain, “Wahai para orangtua, kembalilah!” Kembalilah ke rumah! Kembalilah pada tuntunan ajaran Tuhanmu dan didik anak-anak kita sebaik mungkin. Apalah arti kita sibuk mencari uang agar kebutuhan duniawi terpenuhi bila kebutuhan agama anak-anak kita terabaikan?

Bukan harta yang akan merawat hari tua para orangtua, tetapi anak-anak yang saleh. Bukan jabatan yang akan kita bawa ke alam kubur, tetapi amalan karena telah mendidik generasi muda dengan pendidikan agama yang terbaik. Bukan pula perabotan dan sarana yang lengkap ataupun canggih yang akan membuat alam kubur kita terasa luas dan terang benderang, melainkan amalan ibadah di dunia. Bukan berapa jumlah deposito kita di bank yang akan meringankan siksa kubur melainkan doa dari anak-anak yang saleh. Anak-anak yang saleh hanya akan terbentuk lewat tangan-tangan orangtua yang saleh pula.

Maka sekali lagi, wahai para orangtua, kembalilah! Kembali ke rumah kalian masing-masing! Kembali pada ajaran agamamu! Kembali pada fitrah kita sebagai manusia yang beradab dan bukan biadab! Kembalilah! Rangkul anak-anak kita dengan sepenuh jiwa. Jangan biarkan jiwa mereka yang belum matang dan penuh gejolak, berkelana ke sana kemari tak tentu arah.

Bila para orantua segera bertindak cepat dan tepat, insya Allah generasi yang terlahir adalah generasi terbaik. Generasi yang menciptakan kedamaian dan rasa tenang, serta membanggakan bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Wallahu alam bishowab.

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah