Bundaku Bukan Aktivis Sosmed

Bundaku Bukan Aktivis Sosmed

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Desember, tidak muluk-muluk jika disebut bulannya perempuan. Karena ada tanggal 22 Desember yang ditetapkan sebagai hari Ibu di negeri tercinta ini. Bahkan jelang tanggal 22 Desember, di time line pertemanan Fb semua berusaha mengucapkan rasa terimakasih, penghormatan dan rasa syukur atas semua yang para ibu korbankan untuk anak-anak, yang kalau dihitung semua, tidak cukup harta untuk menggantinya.

Saya termasuk dari beberapa orang yang tidak menyampaikan “happy mother’s day” untuk Ibu tercinta. Bukannya saya tidak bersyukur atas Ibu yang dikaruniakan Allah, tapi lebih karena Ibu saya bukan aktivis sosmed, yang jika saya tag beliau, maka beliau akan tahu jika putrinya mengucapkan “Selamat Hari Ibu”.
****
Hingga akhirnya muncul dalam benak, mengapa sih tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu?

  1. Tanggal 22 Desember merupakan hari diselenggarakannya kongres perempuan pertama.
    Hari Ibu ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959 yang menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu. Hal ini karena pada tanggal tersebut pertama kalinya diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang dilangsungkan di Yogyakarta tahun 1928. Peristiwa ini dikenang sebagai awal mula perjuangan kaum perempuan di Indonesia.

    Pada tanggal tersebut berbagai pemimpin dari organisasi perempuan di seluruh Indonesia berkumpul untuk bersatu dan berjuang untuk kemerdekaan serta perbaikan nasib kaum perempuan.
  2. Banyaknya warga Indonesia yang protes terhadap Hari Kartini.
    Ketika Presiden Soekarno menetapkan Hari Kartini sebagai bentuk penghargaan terhadap aktivis yang memperjuangkan emansipasi wanita, yaitu R.A Kartini, banyak warga Indonesia pada saat itu memprotes kebijakan Presiden karena Kartini dianggap hanya melakukan perjuangan di daerah Jepara dan Rembang.

    Kartini juga dianggap lebih pro terhadap Belanda. Untuk menghindari protes dari para warga tersebut, Presiden Soekarno yang terlanjur sudah menetapkan Hari Kartini, akhirnya menetapkan Hari Ibu untuk mengenang para pahlawan perempuan lainnya.
  3. Pidato Djami (Organisasi Darmo Laksmi) berjudul “iboe”
    Djami menceritakan pengalaman masa kecilnya yang dipandang rendah karena menjadi seorang perempuan. Di masa kolonial dulu, hanya anak laki-laki yang diperbolehkan mengakses pendidikan.

    Sementara perempuan hanya boleh berkutat dalam urusan rumah tangga. Pandangan usang itu mengakar kuat bahkan hingga saat ini. Pendidikan bagi perempuan juga dianggap tidak penting karena selalu berakhir ke dapur.

    Tetapi, Djami mempunyai pendapat lain soal itu. Ia mengatakan:
    “Tak seorang akan termasyhur kepandaian dan pengetahuannya yang ibunya atau perempuannya bukan seorang perempuan yang tinggi juga pengetahuan dan budinya.”

    Yang artinya adalah tidak akan berhasil seorang anak jika ibunya tidak memiliki pengetahuan dan budi yang baik.
  4. Para pahlawan perempuan Indonesia berkumpul menjadi satu membela hak perempuan.

    Hampir seluruh agenda dalam kongres ini membicarakan hak-hak perempuan. Hal itu bisa dilihat dari pertemuan hari kedua kongres, di mana Moega Roemah membahas soal perkawinan anak. Pada zaman dahulu sebelum kemerdekaan, perempuan acap kali dikawinkan walau masih belia.

    Perwakilan Poetri Boedi Sedjati (PBS) dari Surabaya juga menyampaikan tentang derajat dan harga diri perempuan Jawa. Kemudian disusul Siti Moendji’ah dengan “Derajat Perempuan” dan Nyi Hajar Dewantara—istri dari Ki Hadjar Dewantara— yang membicarakan soal adab perempuan.
  5. Perjuangan para pahlawan perempuan, “seorang ibu yang inginkan keturunannya sekolah”

    Para pahlawan perempuan seperti Rohana Koedoes, Kartini, dan juga Dewi Sartika memiliki peran penting dalam pembangunan sekolah-sekolah untuk perempuan di Indonesia. Mereka berpikir bahwa seorang ibu yang pintar dan cerdas akan memiliki modal besar untuk menjadikan anaknya pintar.
    ****
    Banyak versi kan alasan kenapa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai hari ibu. Tapi bagi saya, bahwa hari-hari adalah hari ibu. Bahkan Allah SWT sangat memuliakan Ibu, Allah tidak pernah memilih hari tertentu untuk beliau, tapi Allah alirkan pahala lewat tangan-tangan beliau. Bukankah “Al jannatu tahta akdamil ummahat”, ” Bahwa surga berada di bawah telapak kaki Ibu”.

    Rumahmediagrup/endahsulis1234