Cabin Fever

Selama beberapa hari ini di masa darurat covid-19, gawaiku terabaikan. Whatsapp kubaca hanya sebatas berita di grup kedinasan sekolah dan menjawab siswa-siswa yang menanyakan tugas. Tak pernah kubaca yang lain, terabaikan olehku.

Tapi akhirnya aku tertarik dengan artikel yang disampaikan temanku di grup kedinasan. Artikel tentan cabin fever.

Apa itu? Cabin fever adalah emosi atau perasaan sedih yang muncul akibat terlalu lama “terisolasi” di dalam rumah ataupun tempat tertentu. Selain itu, merasa “terputus” dari dunia luar juga dapat menyebabkan munculnya cabin fever.

Gejala cabin fever

Gejalanya tidak sekedar rasa bosan saja, tetapi ada ada yang harus lebih diwaspadai, yaitu : turunnya motivasi, mudah tersinggung, mudah putus asa, sulit berkonsentrasi, pola tidur tidak teratur, sulit bangun dari tidur, lemah lesu, sulit percaya pada orang sekitar, tidak sabaran, merasa sedih dan depresi untuk waktu yang lama.

Beberapa orang dapat menemukan distraksi tepat di dalam rumah dan dapat menghindari gejala seperti disebut divatas. Tetapi mungkin karena adanya perpanjangan masa darurat covid-19, sebagian orang akhirnya merasakan gejala itu.

Hal itu saya alami beberapa waktu lalu. Kegiatan di rumah yang menyita waktu dan menjaga mood anak-anak untuk tetap enjoy melakukan aktivitas di rumah, ternyata tanpa sadar membawa saya pada gejala tersebut.

Rasanya tidak ada ada me time, semua tercurah untuk keluarga. Begitu pula untuk kegiatan menulis yang akhirnya terabaikan karena hilangnya mood dan ide-ide. Untunglah beberapa tulisan sudah sempat dibuat di awal-awal masa darurat covid-19, sehingga tidak perlu dikejar-kejar deadline.

Akhirnya, kucoba menata langkah kembali, sesuai tips yang diberikan.

  1. Membawa dunia luar ke dalam rumah. Kucoba dengan menata kembali tanaman-tanamanku di halaman minimalisku. Lumayan, meredakan rasa sedihku beberapa hari lalu.
  2. Buat rutinitas. Aku meminta ijin keluarga untuk memberi waktu selama 3 jam sehari untuk full di depan laptopku, entah untuk memantau program BDR (Belajar Dari Rumah) atau membuat tulisan. Tentunya setelah tugas utamaku sebagai ibu rumah tangga terselesaikan. Saya minta keluarga menganggap saya ‘kerja’ seperti biasa.
  3. Menjaga komunikasi. Akhirnya whatsappku kembali kugunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga dan dan teman di luar sana.
  4. Ekspresikan sisi kreatif. Kubuka lagi bahan-bahan paper quillingku, benang sulam dan pita-pita. Mulai kupilih kreatifitas apa yang akan aku buat terlebih dulu, sulam benang, sulam pita, atau paper quilling.
  5. Berolah raga. Cukup dengan membuka youtube, mengikuti gerakan aerobik selama 15-20 menit cukup membuat keringat.

Entah kapan pandemi ini akan berakhir. Kita harus tetap mendukung program pemerintah selama masa darurat covid-19, tetapi kita pun perlu memanage diri untuk tetap sehat jiwa dan raga. Semangat dan dan tetap optimis menghadapi virus civid-19.

One comment

Comments are closed.