Cadas Ngampar

Tahun 3000

            “Pergi! Pergi menjauh dariku!” jeritku berusaha mengusirnya. Ku lihat sosoknya makin mencacap diriku. Aku takut!

“Bukankah kau yang mendesis mengharapkan diriku menjadi temanmu?”, desahnya, “dan kaupun berharap serbuk serbuk dandelion mengantarkan desisanmu itu padaku. Ingatkah kau kala itu?”, bisiknya bak mafela yang menggelung di leher. “Aku datang untukmu dan teman-temanmu!” serunya sambil menatapku tajam.

Netraku menggelap. Aku ingat, enigma membuatku ingin bertemunya. Corona. Mengingatkanku pada tahun itu.

Tahun 2020

            Corona mendesah, membuat semua orang di Wuhan terpedaya. Terkecoh sehingga tak mampu lagi meninggalkan Wuhan. Sayangnya, Corona tak secantik nama dan artinya. Selayaknya padmasana yang membutuhkan Corona, tapi tidak untuk Corona yang satu ini.

            Dari kejauhan, aku mencoba memecahkan enigma ini. Desahan Corona sungguh hanya alibi. Sungguh sebuah  enigma yang belum terbeset. Tahukah kalian? Begitu cepat manusia takluk oleh Corona. Begitu cepat Corona merajalela, menguar ke penjuru dunia. Pun dengan Indonesia, ikut sibuk menyambutnya. Jakarta, Bandung sampai Cirebon sudah disinggahinya. Silaturahmi yang akan meninggalkan jejak enigma mengapa Corona hadir.

Sebenarnya aku ingin berkenalan dengannya. Kala itu aku ingin raba-rubu menyambutnya. Tapi urung kulakukan. Bapak-bapak penggali pasir selalu membicarakannya. Sehingga aku hapal tanpa tatap muka dengannya. Sungguh aku tersungging membayangkan Corona.

Namun, bapak-bapak penggali pasir itu menolaknya. Aku tahu dari cara mereka bercerita begitu membencimu. Begitu juga aku bertahun-tahu kemudian. Hanya saja aku telat membaca kelakuan burukmu.

Masyarakat kian eklektif. Kian menala hal-hal apa saja yang bisa membuatmu tercabik tanpa meronta. Inilah yang membuat para penggali makin bergiat menggali. Walaupun dalam keadaan neniti, mereka bersemangat mendapatkan rupiah 120-150 ribu per hari guna menghalau Corona.

Masyarakat makin menjaga kesehatan karena Corona. Begitu aku dengar dari berita Emak-Emak penggali pasir. “Ah baguslah!”, desisku menyahut dalam hati obrolan mereka. Ada satu hal yang ku amati, rupanya pekerjaan bapak-bapak penggali pasir itu sekarang dibantu oleh para emak yang seharusnya berada di rumah.

Cadas Ngamparpun sekarang ramai. Semua kalangan turun menggali tebing. Oh antara sakit dan senang melihat keriuhan mereka saling beradu, chit-chat tentang semua hal. Menambah wawasanku hahaha.

Tahukah kalian? Mengapa para emak ikut mencari rupiah bersama bapak-bapak? “Aku harus bayar BPJS yang makin melonjak. Belum lagi anakku sakit setelah berkenalan dengan Corona! Apalagi dayaku? Sebatas bawang merah dan minyak tak mampu menyembuhkan sakit anakku. Corona sungguh kejam!” seru salah satu emak sambil menitikkan air mata. Ehm, tak kusangka begitu memikatnya Corona hingga membuat seseorang sakit. Sakit karena memendam cintakah? Aku makin penasaran dengan Corona. “Maukah kau menjadi temanku, Corona?”, desisku. Berharap serbuk serbuk dandelion mengantarkan desisanku ini padamu ya Corona.

Semenjak berita Corona berjebah, tak ayal Cadas Ngamparpun sering dikunjungi banyak pihak. Pihak pemerintah, pihak dinas kesehatan, pihak perusahaan air minum dan lainnya. Masyarakat sekitar mendapatkan asupan banyak vitamin, air bersih, makanan sehat dan suntikan berbagai obat! Wow, aku pikir pemerintah sungguh berubah saat ini. Memerhatikan warganya untuk sehat. Ini karenanya! Ya, karena Corona. Senyumku berkelebat membayangkannya.

Tapi aku kaget. Aku selalu mendengar rintihan lirih di siang hari. Dan teriakan yang menggema di malam hari. Dalam netraku yang menggelap, tak kulihat sosok siapapun malam itu.   Entahlah rintihan dan teriakan siapa itu? Akan ku cari tahu diantara kerumunan para penggali pasir itu.

“Mak, sudah dapat obat belum? Anakku hampir tiap hari ditengok bu dokter,” seru Mak Ratminah kepada Mak Juminten.

“Wah, ya semuanya dapat. Orang kayak kita yang seringnya di luar rumah, ya mesti dapat tiap satu minggu sekali. Alhamdulillahnya aku sudah ga bayar BPJS. Mau tiap hari disuntik, diberi obat, ya mangga. Gratis ini” Ujar Mak Juminten girang.

“Masa? Aku belum tahu tuh. Bagaimana cara mengurus biar BPJS tidak bayar?” Tanya Mak Ratminah.

“Datang saja ke Pak Baridin”, jawab Mak Juminten.

Aku bersyukur mendengar berita ini. Artinya Corona sungguh membuat pemerintah sadar bahwa masyarakat butuh diperhatikan kesehatannya. Aku tersenyum, makin ingin bertemu Corona.

Tahun 2030

Baru beberapa tahun Corona menjadi hits di penjuru dunia. Tiba-tiba hari ini tidak ada lagi para penggali yang datang. Suasana sepi tanpa gurauan para penggali.

Tiba-tiba “Aww!” aku berteriak. Ternyata alat suntik itupun mulai menancap di tubuhku. Beberapa truk membawa kiriman berupa alat suntik, limbah rumah sakit. Dan tiba-tiba hari ini aku dikagetkan pula oleh Tanah Cadas Ngampar yang menampar dirinya agar tampil memelas. Tahukah kalian mengapa hal itu dilakukannya? Tanah Cadas Ngampar berupaya agar alat alat suntikan itu tidak ikut menghujam di tanah.

“Aku lelah! Aku sakit! Aku tidak mau” teriaknya.

“Mengapa aku yang menjadi kambing hitam? Mengapa aku yang merasakan semua ini? Dzikirku tak hanya untukku. Tak hanya untuk memuja Sang Pencipta. Tetapi dzikirku juga untuk manusia. Tapi apa balasannya? Hai Manusia, mari kita bersama menuntaskan ini semua” ujarya lirih memelas.

Namun, apa daya? Rumah sakit di Cirebon seluruhnya kelebihan stok alat-alat suntik. Limbah rumah sakit berjebah. Cadas Ngampar selalu berbaik hati menampungnya.  Tanpa protes. Di ketinggian ini, Tanah Cadas Ngampar melenguh panjang. Tanah Cadas Ngampar tertampar oleh suntikan.  Suntikan yang katanya untuk melindungi masyarakat.

“Dimana Maesens? Yang katanya melindungi masyarakat beserta lingkungan. Dimana para pelindung, para aparat?” teriaknya.

Aku tergugu. Tak sengaja ku lantunkan namanya, Corona, Corona, Corona. Tolong kami!

Tahun 3000

“Hai Tebing, sudah ingatkah kau memanggilku dulu? Kini aku datang!” sahut Corona terkekeh.

Aku melengos melihat tatapannya yang merayu. Aku menahan sakit. Teramat sakit. Alat-alat suntik itu makin mendekatiku. Makin menghujamkan jarum tajamnya tanpa perasaan. Tanah di depanku sudah ambruk menampung semua alat suntik tersebut beserta limbah rumah sakit lainnya. Rupanya inilah akhirku di Cadas Ngampar.

Penuh sesak dengan limbah rumah sakit yang mengandung virus Corona, aku tak tahan. Aku menyerah. Ya Tuhan, aku si Tebing yang dulu menjulang tinggi berwibawa di Cadas Ngampar. Aku yang dulu berhasil menaikkan tingkat ekonomi masyarakat Cadas Ngampar sehingga menghasilkan banyak uang. Kini aku terkapar di Cadas Ngampar.

Maka benarlah para ulama yang berkata “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (41) Katakanlah (Muhammad), “ Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Ar Rum 41-42)

Kemana para padri? Kemana para pecinta lingkungan? Kemana para dewan? Aku, si Tebing Cadas Ngampar mencarimu. Memelas meminta pertolongan.

“Sudahlah Tebing, mari bermain denganku. Para penggali sudah tidak ada. Di dunia ini hanya ada aku dan kamu. Kita nikmati kesunyian ini bersama.” Seru Corona sambil terbahak-bahak puas.

“Jika ini adalah akhirku bersama alat suntik dan limbah rumah sakit lainnya, maka aku ikhlas Ya Tuhan” desis Tebing pelan.

“Aaaaaaargh! Allohu Akbar!”, pekik Tebing sebelum dirinya ambruk menutupi limbah rumah sakit.

*Cerita ini hanya fiksi belaka. Berharap kepadaMu ya Robb, agar virus Corona bisa dihilangkan. Begitu juga dengan pengelolaan tempat pembuangan sampah di Cadas Ngampar semoga makin dikelola dengan baik.

rumahmediagrup/nurfitriagustin

sumber gambar: pixabay