Cara Kerjaku (Membimbing Mahasiswa)

Cara Kerjaku (Membimbing Mahasiswa)

Tidak ada cara lain selain menggunakan “hati” saat membimbing mahasiswa, baik yang sedang skripsi maupun tesis. Mencintai pekerjaan sebagai dosen, berati menerima tugas tanggungjawab melakukan penelitian bersama mahasiswa bimbingannya. Saya selalu menganggap bahwa apa yang mereka teliti adalah bagian dari penelitian saya juga. Demikian saya memperlakukan “pekerjaan” meneliti ini bagian dari pekerjaan saya juga. Nah, ini saya loh ya, bukan berarti ini berlaku juga pada dosen yang lain.

Setiap dosen memiliki gaya membimbing yang berbeda-beda. Masing-masing juga memiliki strategi yang berbeda. Karena semua harus dilakukan dengan cinta, maka saya selalu melakukan hal penelitian ini terkait dengan topik keahlian. Kalaupun berbeda, pasti tidak berbeda jauh. Kenapa demikian? Karena bagaimana kita bisa mencintai tanpa mengenalnya dengan lama. Artinya apa? Saya pastikan pemahaman yang utuh atas topik penelitian, memiliki beberapa bahan. Jika topik baru, maka saya akan belajar keras bersama mahasiswa, mengumpulkan bahan. Dan akhirnya terbentuk pola pikir yang sama.

Pertama kali, mahasiswa menemui saya untuk mendiskusikan terkait topik penelitiannya. Kita petakan persoalan penelitian, sampai dengan kerangka pikir penelitian. Setelahnya pemilihan metodologi yang tepat. Jika sudah tercapai kesepakatan atas semuanya itu, selanjutnya kita jadwalkan agenda pembimbingan.

Dalam proses pembimbingan. Banyak sekali masalah, hambatan tapi sebenarnya buat saya adalah sebuah tantangan. Saya selalu menekankan pada mereka, bahwa penyelesaian sebuah penelitian berkaitan dengan harapan. Banyak orientasi mahasiswa yang hanya fokus pada penyelesaian saja, tidak pada manfaat dari hasil penelitiannya nanti. “Yang penting cepat selesai Bu,” ini yang selalu saya dengar.

Jika hanya fokus pada selesaikannya penelitian, maka yang terjadi adalah terlalu fokus sama waktu. Tidak fokus dalam manajemen waktu. Mereka hanya terlihat sibuk mengerjakan, tetapi tidak menikmati tiap waktu yang mereka gunakan. Waktu akan berlalu begitu saja, tetapi mereka tidak dapat memperbaiki “isi” penelitian. Bukan hanya menulis di lembaran kertas, tetapi yang lebih penting adalah berproses dengan kritis.

Capaian hasil yang diharapkan akan sulit tercapai. Mereka terlalu pintar mencari alasan. Justru yang terlihat ketidakpahaman mengolah data. Alasan yang biasa mereka berikan adalah teorinya tidak ada, informannya rumahnya jauh, laptop rusak, dan lainnya. Mereka gemar berdalih jika terjadi kesalahan. Jika terdapat banyak alasan yang kadang tidak rasional, saya membantu mereka mencarikan solusi. Misalnya mencari teori, membaca beberapa jurnal, ini kita lakukan bersama-sama ya.

Meskipun kadang terasa berat ya, membimbing itu tidak mudah. Tetapi, ya harus punya banyak senyum. Semakin lama ketemu dengan banyak tantangan saat membimbing, selama itulah saya menabur banyak senyum dalam bibir saya. Biar senyumnya tumbuh dan keluar di saat yang tepat. Nikmat yang luar biasa.

Membimbing itu juga bisa dikatakan sebagai proyek tertentu. Proses yang dilalui tidak semua berjalan lancar. Dan membutuhkan waktu lama, minimal satu semester (6 bulan). Jadi ya, ketemu kamu lagi, kamu lagi, lagi-lagi kamu. Proyek akan selesai jika sudah diujikan dalam pengujian skripsi atau tesis. Dan dicetak.

Berakhirnya penelitian jika selesai diujikan. Ada seseorang yang sedang berjuang dalam ruangan ujian. Menyampaikan dan mendiskusikan hasil temuan di hadapan penguji. Ada senyum, ada terharu, ada tangis bahagia. Ada juga yang gagal lulus. Berhasil ataupun gagal ujian, buat saya adalah hal yang biasa. Artinya jika semua prosedural metodologi sudah dilakukan dengan tepat, maka hasil penelitian dipastikan benar. Kalaupun gagal lulus berarti ada hal yang penting tidak dilakukan dengan benar.

Apapun hasilnya disyukuri. Semua tergantung upaya yang telah dilakukan. Mereka selalu menjabat tanganku. Terdengar lirih ucapan terimakasih. Dan akupun menjabat tangan mereka, sambil mengucapkan selamat telah lulus. Tapi bukan berarti prosesnya selesai ya. Ada banyak PR yang harus dilakukan. Ada proses “membaca” yang belum selesai. Proses membaca dalam konteks “belajar” tidak akan pernah berhenti. Berpikir kritis dan menyelami apapun prosesnya.

Ekspresikan apapun tulisannya dalam bingkai kejujuran ya.

rumahmediagrup/Anita Kristina