Catatan Kecil : Pasar Tradisional Wadah Entrepreneur (1)

Catatan Kecil : Pasar Tradisional Wadah Entrepreneur (1)

Sejak memutuskan berhenti bekerja di salah satu usaha busana jadi, aku fokus mengurus anak-anak yang masih kecil.

Sewaktu masih bekerja dulu, aku terbiasa belanja bulanan di toko swalayan. Praktis, bersih dan nyaman tempatnya, serta tanpa tawar menawar.

Setelah berhenti bekerja dan hanya mengandalkan penghasilan suami, tentu saja pengeluaran lebih ketat dirinci. Berangsur pula aku mulai menjelajah pasar tradisional. 

Disini pula awal mulanya jiwa entrepreneur terasah.

Mengapa pasar tradisional mampu membuka wawasan tentang belajar wirausaha bagi diri ini?

Konotasi yang ada bagi orang awam tentang pasar tradisional adalah, tempatnya terbuka, kesannya kotor dan bau. Namun mereka juga senang dengan situasi tawar menawar yang terjadi.

Begitu pula pandangan pertama aku dulu saat berbelanja di pasar tradisional. Saat akan masuk pasar masih ragu kalau nanti menawar ngotot-ngototan enggak ya. Bau-bauan yang menyeruak juga membuat mual dan ingin cepat-cepat berlalu dari sana. 

Perlahan, setiap hari kujalani situasi itu, akhirnya terbiasa dan malah jadi kesenangan untuk berlama-lama di sana terutama saat hari libur. Kenapa bisa begitu.

Yah, karena sering ke pasar, berinteraksi dengan sesama pembeli dan juga penjual, jadi punya teman ngobrol. Hal ini bisa jadi pengobat kejenuhan akan tugas rumah tangga. 

Obrolan beragam walaupun dominan seputar harga bahan mentah yang semakin melambung, sulitnya mengatur uang belanja supaya cukup, sampai kepada masalah anak-anak.

Hingga suatu hari, aku yang merasa kesepian saat suami bekerja dan anak-anak sekolah, meminta izin suami untuk berjualan.

Kalau selama bertahun-tahun hanya bekerja sebagai pegawai, ingin rasanya sekarang memiliki usaha sendiri. Alhamdulillah suami dan anak-anak mendukung, tapi belum ada modal cukup untuk buka lapak. 

Pertimbangan lain tentu karena tidak ada pengalaman berjualan. Jalan akhir yang manis, menjadi pemasok ke lapak yang ada di pasar. 

Produk yang dititipkan disesuaikan dengan kondisi keuangan dan keahlian yang dimiliki. Walaupun bukan keahlian tingkat tinggi, namun kemampuan untuk membuat jajanan pasar itu ada. 

Disela-sela mengurus suami dan anak-anak, aku memulai usaha menitipkan beberapa jenis jajanan pasar. Mulai dari rasa yang kurang pas, bentuk yang tidak cantik dipandang mata dan pemakaian bahan yang belum pas takaran, mengasah kemampuan untuk terus memperbaiki lebih baik dan lebih baik lagi.

Bersyukur pula, lapak awal yang kutitipi selalu memberi semangat untuk jangan menyerah karena hasil yang sedikit.

Itulah, dari sedikit semakin bertambah dan mampu menerima pesanan. Tidak terasa, semua sudah berjalan tiga tahun dan ada penawaran pembukaan pasar baru. Tekad untuk memiliki lapak sendiri makin kuat. Yakin jiwa entrepreneur di dalam diri ini sudah terasah. Akhirnya, aku mendaftar untuk mendapatkan bagian satu lapak.

*Nantikan kelanjutannya….