Catatan Kecil : Pasar Tradisional Wadah Entrepreneur (3)

Catatan Kecil : Pasar Tradisional Wadah Entrepreneur (3)

Aktivitas yang rutin pasti membosankan. Datang pagi-pagi buta atau setelah sholat subuh untuk buka lapak, mata pun masih belum melek sepenuhnya. Berjualan sepanjang pagi hingga mendekati waktu dzuhur. Begitu seterusnya setiap hari. 

Bosan akan sangat terasa bila pasar sepi dan barang dagangan masih banyak menumpuk. Kalau barang yang tahan lama masih dapat dijual keesokan harinya, tapi kalau cepat basi, berbau dan busuk? Kondisi sepi berakibat barang harus dibuang!

Keramaian di pasar itu berubah-ubah. Ada kalanya pembeli membludak dan parkir penuh dan sesekali parkiran sepi tanda pengunjung juga kurang.

Di Bali, ada hari-hari tertentu yang berkaitan dengan upacara Hindu yang mampu membuat pasar ramai pengunjung. Lapak yang paling banyak diserbu adalah penjual buah, jajanan pasar, dan tentu saja penjual sarana upacara seperti canang dan dupa. Para pedagang sengaja memasang kalender khusus yang sepertinya hanya terbit di Bali. 

Kalender Bali
Foto: dokumen pribadi

Kalender pada umumnya hanya berisi hari besar nasional, tapi kalender khusus ini berisi tanggal-tanggal suatu upacara baik untuk dilaksanakan, purnama – tilem, piodalan, dan tentu saja hari raya umat Hindu, semua jelas tertera.

Pada hari-hari tertentu ada juga instansi atau perusahaan suatu produk membuka stan dadakan di areal parkir. Biasanya mereka menyuguhkan panggung hiburan mini. Pedagang yang punya nyali bisa menyalurkan bakatnya ikut mengisi acara, menyanyi atau sekedar joget.

Panggung mini Pasar Tunjung di Denpasar
Foto : dokumen pribadi

Bila tak ada panggung bukan berarti pasar sepi tanpa suara musik. Pihak pengelola selalu memutar musik atau kidung tradisional sepanjang pasar buka. Para pedagang yang sedang santai, ada yang ikut berdendang lagu yang sedang diputar. Menghilangkan rasa jenuh juga ditepis dengan guyonan ringan.
Apakah kami rukun-rukun saja?

Ya, namanya sekumpulan orang yang berbeda watak dan tabiatnya tentu sesekali terjadi gesekan. Saat pedagang buah yang sedang panen, bisa seenaknya menaruh simpanan buahnya di lapak pedagang lain atau menutup badan jalan bagi pembeli. 

Melihat pedagang lain lebih ramai, bisa jadi pembicaraan ke arah jimat penglaris. Wallahualam.

Kini yang terasa adalah menurunnya daya beli masyarakat. Selain karena harga barang yang naik, para pembeli rata-rata bekerja di sektor pariwisata. Menurunnya tingkat kedatangan wisatawan ke Bali berdampak pada kurangnya tingkat hunian kamar, akhirnya para pekerja langsung di sektor itu juga berkurang pendapatannya. 

Di tahun keempat, pasar ini mengalami kebakaran. Walaupun hanya sebagian yang terkena, cukup membuat para pedagang prihatin.

Catatan lainnya, ternyata pasar bisa sebagai wadah belajar bagi entrepreneur muda. Beberapa pedagang mengajak anaknya yang sudah akil baliq untuk ikut membantu berjualan. Interaksi dengan orang lain mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan lebih menghargai setiap lembar uang saku yang mereka terima itu didapat dari usaha yang tidak ringan.

Semoga mereka kelak lebih tahan banting menghadapi tantangan di era milenial ini.

Catatan kecil ini diakhiri tepat di akhir tahun 2019. Semoga tahun baru esok dan selanjutnya. pasar kami masih ada. Disana bergantung hidup para penjual dan pembeli dari masyarakat sekitar.

rumahmediagrup/hadiyatitriono