Ceck List Instrumen Wawancara

Sumber gambar: http;//www.femina.co.id/

Ceck List  Instrumen Wawancara

Peneliti mengembangkan alat wawancara melalui pemilihan kata dan mengatur urutan pertanyaan. Idealnya, instrumen dapat dikritisi sebelum digunakan untuk wawancara. Siapa yang mengkritisi? Yaitu seseorang yang mengetahui tentang permasalahan di lapangan, peneliti lain, atau ahli penelitian dengan topik yang sama.

Langkah pertama, peneliti mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan dalam instrumen. Apakah kalimat pertanyaan yang sudah ada mengandung kata-kata yang emosional? Pertanyaan dengan kalimat yang membingungkan? Menyinggung nilai-nilai personal? Identifikasi ini sebagai salah satu bentuk cara mengkritisi instrumen pertanyaan wawancara.

Langkah kedua, instrumen wawancara diujikan untuk mengetahui seberapa efektifkah wawancara yang akan dilakukan? Ada beberapa pertanyaan yang direkomendasikan untuk menguji perangkat wawancara, yaitu:

  1. Sudahkah peneliti memasukkan seluruh pertanyaan yang dibutuhkan untuk menguji pertanyaan penelitian yang sudah dirumuskan?
  2. Apakah pertanyaan tersebut menggunakan bahasa yang mudah?
  3. Apakah bahasa yang digunakan memiliki makna yang tepat?
  4. Apakah pertanyaan bermakna ganda atau ada dua masalah dalam satu pertanyaan?
  5. Apakah pertanyaan dibuat memungkinkan pengembangan jawaban informan, bukan hanya jawaban iya atau tidak?

Perangkat wawancara dirancang sebagai instrumen yang penuh kehati-hatian, menghemat waktu, dan biaya dalam perjalanan penelitiannya nanti. Mau waktu yang panjang atau pendek, tergantung pada teknik pengumpulan data yang dipilih. Inisiatif peneliti dibutuhkan untuk membuat wawancara yang singkat, langsung dan profesional. Hal ini dilakukan untuk menjaga informan agar tetap konsisten dan terjaga emosinya dengan emosi yang baik.

Jawaban informan tergantung pada permasalahan yang ditanyakan. Jika jawaban diperoleh hanya dengan beberapa pertanyaan saja, maka mungkin waktu yang dibutuhkan sangat singkat. Namun, berbeda jika tingkat permasalahan yang kompleks, maka membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tidak hanya dua kali. Membutuhkan jumlah pertanyaan yang banyak. Dalam beberapa hal, juga dijumpai kebutuhan jawaban informan yang detail, panjang dan lengkap. Situasi yang lain, informan juga dapat menjawab pertanyaan yang sama walaupun dengan jawaban yang pendek, langsung dan kadang tidak jelas.

Jumlah pertanyaan paling tidak berhubungan dengan berapa lama waktu wawancara. Bayangkan jika dalam instrumen terdapat 100 lebih jumlah pertanyaan, maka akan memakan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan 50 pertanyaan. Terdapat konsep yang salah, jika peneliti mengganggap bahwa informan akan menolak untuk diwawancarai jika berlangsung dalam waktu dua jam atau lebih. Tetapi yang lain, percaya bahwa informan akan menolak dari waktu tersebut jika wawancara tersebut tidak menarik. Artinya bahwa bukan terletak pada berapa lama waktu wawancara untuk membuat informan tetap semangat untuk menjawab wawancara, tetapi pada ketertarikan informan untuk mengungkap jawaban yang dipertanyakan.

Wawancara itu tidak seperti survey tertulis. Responden akan bosan jika harus menjawab soal tertulis sebanyak 100 lebih pertanyaan. Namun, wawancara itu mengandung makna jika pewawancara membicarakan hal-hal yang menarik, membahas persoalan yang menarik untuk dikupas. Informan akan memberikan tanggapan yang baik jika ia tertarik untuk membahasnya. Jadi, tugas peneliti adakah menyediakan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat informan tertarik untuk menjelaskannya.

Jenis penelitian yang mengupas sejarah seseorang atau kehidupan seseorang, maka akan berlangsung lama. Mungkin dilakukan dalam beberapa sesi, beberapa hari. Sebaliknya, jika wawancara dilakukan untuk mengetahui atau topik masalah saja, maka hanya membutuhkan wawancara yang singkat. Peneliti yang tertarik untuk mengetahui latar belakang seseorang atau pengalaman sosial seseorang, maka akan menjadi menarik pula diketahui bukan hanya penjelasan kenapa? Bagaimana? Tetapi juga mengetahui pandangan mereka terkait dengan kehidupan di masa lalu dan masa depan. Bahkan terkait dengan hal lain di luar dugaan peneliti.

Namun perlu disadari peneliti bahwa semua informasi adalah menarik dan penting. Walaupun dilakukan dari wawancara yang singkat. Lama dan singkat atau sebentar adalah hal yang relatif. Gaya wawancara peneliti berbeda. Interaktif atau interpretatif yang singkat juga relatif. Idealnya adalah dibutuhkan ketelitian dan kedalaman jawaban. Tidak mengenal waktu yang panjang ataupun sebentar.

Jika tidak memungkinkan melakukan wawancara yang panjang dikarenakan kesibukan informan, maka peneliti dapat melakukannya dalam beberapa sesi. Dan tidak harus bertemu langsung, bisa melalui telepon, email dan atau video call. Meskipun bukan cara yang utama, wawancara yang tidak bertemu langsung dapat dilakukan sebagai alternatif. Jika memang informan tersebut sebagai informan utama. Wawancara melalui telepon, email atau video call misalnya, menjadi terbaik jika peneliti memiliki pertanyaan yang jelas, semi terstruktur. Wawancara juga akan efektif jika bertemu langsung, jika dibutuhkan pengamatan atas emosi informan. Jika memang telepon, email dan video call  sebagai alat wawancara, maka harus diperhatikan bahwa peneliti harus membangun legitimasi, yaitu menyakinkan informan bahwa informasi tersebut lengkap, dan memberikan sumbangkan yang bermakna bagi penelitian.

Legitimasi tersebut dapat diawali melalui surat, atau pemberitahuan sebelumnya. Melakukan janjian terlebih dahulu. Membutuhkan suart resmi, surat rekomendasi. Atau dokumen penting lainnya. Peneliti harus tepat memilih informan, potensial memiliki jawaban yang diinginkan penelitian. Dan memberitahukan informan bahwa informan diharapkan memberikan waktunya untuk diwawancari melalui telepon, email ataupun video call. Kesepakatan waktu telepon juga harus dibicarakan sebelumnya. Jangan sampai informan terganggu dengan waktu yang lama di telepon. Jangan paksa informan untuk menjawab semua pertanyaan dengan waktu yang singkat.

Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/Anita Kristina