Celaka, Skandal Inses Rame Di Berita. Ini Ada Apa?

Celaka, Skandal Inses Rame Di Berita. Ini Ada Apa?

Oleh : Sera Alfi Hayunda, S.Pd
(Aktivis Muslimah Milineal Ponorogo)

Akhir-akhir ini muncul berbagai film yang membuat akal sehat geleng-geleng. Ya salah satunya adalah kemunculan film Sin. Jika kita lihat di trailers-nya maka jelas film ini akan merusak akhlak generasi muslim. Film yang disutradarai Herwin Novianto, dibintangi Mawar de Jongh dan Bryan Domani tersebut mengisahkan kakak beradik yang terlibat cinta sedarah (inses). Ini bukan yang pertama. Sebelumnya ternyata sudah muncul beragam film bernuansa inses lainnya. Dan kita bisa lihat sebelum film ini dirilis saja sudah banyak kejadian yang mirip seperti itu.

Akhir-akhir ini menyeruak ke permukaan sebuah kasus yang membuat jijik sembari berkata kok bisa ya ada orang yang bisa berbuat bejat seperti itu. Ya kasus itu adalah Inces (baca Inses) bukan Incest ala-ala Syahrini ya tapi ini inces / inses. Sebuah penyimpangan seksual yang dalam bahasa Indonesia sering disebut hubungan sumbang adalah perkawinan ( resmi maupun tidak resmi) antar anggota keluarga. Atau tepatnya hubungan seksual yang dilakukan diantara mereka. Bisa ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak lelakinya, antar saudara kandung, saudara tiri atau juga paman atau tante dengan ponakan dan sebaliknya.

Terlihat dari penjabaran pengertian inses saja sudah bikin bikin mual, jijik dan merinding kan ya. Tapi yang terjadi di lapangan kasus ini bukan sepi pelaporan tapi malah rame. Contohnya saja yang terjadi baru-baru ini di Jawa Timur ada seorang kakek warga Kecamatan Kraksaan, ditangkap Unit Perlindungan Anak dan Perempuan Satreskrim Polres Probolinggo lantaran tega menyetubuhi cucunya sendiri, yang masih berusia 14 tahun. Perbuatan bejat pelaku bahkan mengakibatkan korban hamil hingga melahirkan anak perempuan. Dan kini sudah berusia 4 tahun. Kepala Unit Perlindungan Anak dan Perempuan Satreskrim Polres Probolinggo Bripka Isana Reny Antasari mengatakan persetubuhan pelaku terhadap cucunya dilakukan sekitar Juli 2014.

Sejumlah kasus inses sebelum nya juga sudah pernah terjadi di Indonesia. Teranyar terjadi di Bulukumba, Sulawesi Selatan, di mana seorang kakak menikahi adiknya yang sudah di hamili olehnya. Sebelum di Bulukumba ini ada beberapa kasus inses lain. Pada Februari 2019 misalnya di kabupaten PringSewu Lampung terungkap kasus pencabulan terhadap remaja yang berusia 19 tahun yang dilakukan seorang ayah, kakak, dan adik kandungnya sendiri. Pada Maret 2019, kasus inses juga terjadi di Pasaman, Sumatera Barat, yang dilakukan oleh ayah terhadap putri kandungnya. Dari pengakuan korban, pencabulan sedarah itu terjadi selama tujuh tahun. Melihat hal ini Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel membagi faktor penyebab kasus-kasus inses berdasarkan jenis hubungannya. Dalam hal hubungan inses antar saudara, dia menyebut itu bisa dipengaruhi sejumlah faktor.

Pertama, ketiadaan kesempatan dan pasangan untuk menyalurkan hasrat seksual secara wwajar “Menyalurkan secara wajar [artinya] heteroseksual, dewasa, dalam ikatan pernikahan, menurut saya merupakan faktor-faktor yang saling berkaitan menciptakan kondisi ideal bagi inses,” kata Reza kapada CNNIndonesia.com, Kamis (4/7).

Kedua, menurut Reza, kerahasiaan hubungan sedarah yang membuat itu tidak diketahui oleh lingkungan Sekitarnya. Ketiga, Reza berpendapat, hubungan sedarah itu juga dipicu oleh nilai-nilai yang diterapkan dalam sebuah keluarga. “Sebetulnya berakar dari nilai-nilai keluarga juga,” ujarnya.

Terkait dengan hubungan sedarah antara ayah dengan anak, dikatakan Reza, itu bisa terjadi karena, pertama, hambatan penyaluran hasrat seksual kepada istri. Misalkan karen Istrinya kerja di luar negeri selama beberapa tahun. Bisa juga dalam kasus hubungan sedarah antara kakak dan adik hak itu di karena kan kesalahan asuh orang tua dalam mengajarkan ke anak-anaknya tentang hal mana yang boleh dan tidak boleh di lakukan kepada sesama anggota keluarga. Misalnya, soal kebiasaan tidur bersama. Saat masih kecil wajar bila seorang kakak dan adik tidur bersama. Namun, ketika keduanya sudah menginjak masa akil balig seharusnya orang tua mulai memisahkan keduanya.

Nabi Muhammad saw. mengajarkan umatnya untuk memisahkan tempat tidur anak-anak sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud berikut ini. Bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika mereka umur tujuh tahun, dan pukullah jika mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)

Lebih lanjut Imam Ibnu Rusy dalam al-Muqadimat juga menjelaskan,
يفرق بين الصبيان في المضاجع، قيل: لسبع سنين إذا أمروا بالصلاة، وقيل: لعشر إذا أدبوا عليها، وهو ظاهر الحديث، ولا يجتمع رجلان ولا امرأتان متعريين في لحاف واحد
Tempat tidur anak-anak mulai dipisahkan, dikatakan sebagian ulama; pada umur tujuh tahun saat mereka mulai diperintahkan untuk salat, dan ada pula yang mengatakan; pada usia sepuluh tahun ketika mereka dididik melakukan salat demikian berdasarkan dhahir hadis. Dan jangan mencampurkan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan yang telanjang dalam satu selimut.

Menurut Ibnu Rusyd, pendapat yang mengatakan bahwa pemisahan tempat tidur sejak umur tujuh tahun karena pada usia tersebut bisa dikatakan sebagai akhir masa kanak-kanak, ditandai dengan tanggalnya semua gigi susu dan telah berganti dengan gigi tetap. Sementara itu, pendapat yang mengatakan pemisahan dimulai pada umur sepuluh tahun karena biasanya pada usia ini rata-rata mulai tumbuh rasa ketertarikan antar lawan jenis.

Sebab memang masalah inses ini tidak bisa di anggap sepele. Sebagaimana kita tau banyak ahli kesehatan yang telah memaparkan bahwa inses memberikan pengaruh yang buruk dan berbahaya. Sebab hubungan tersebut berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang lemah, cacat, baik fisik maupun mental. Bahkan bisa mengakibatkan kkematian. Hal ini dimungkinkan karena gen-gen pembawa sifat lemah terakumulasi pada keturunannya. Penelitian menunjukkan bahwa anak hasil perkawinan seperti ini memiliki risiko lebih besar menderita penyakit-penyakit genetik tertentu dari pada perkawinan pada umumnya. Biasanya penyakit tersebut adalah penyakit yang berhubungan dengan kelainan darah. Thalasemia dan Haemophilia adalah salah satunya. Seperti yang terjadi pernah pada abad 19, di lingkungan keluarga kerajaan Inggris, dimana perkawinan antar keluarga masih sering dilakukan.

Lalu bagaimana ajaran Islam sendiri memandang perkawinan antar keluarga seperti ini ?
“ Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”,(QS. An-Nisa (4):23).

Subhanallah, ayat ini telah diturunkan pada abad 7, jauuuh sebelum adanya penemuan ilmiah bahwa perkawinan antar anggota keluarga beresiko menurunkan keturunan yang rentan dan lemah, bahkan bisa mematikan. Ini makin membuktikan bahwa perintah dan larangan yang diturunkan Allah swt itu pasti mengandung hikmah, yang pada akhirnya akan menguntungkan kita. Meski sebenarnya, takwa, adalah tujuan utamanya. Artinya, tidak penting apakah ayat tersebut menguntungkan kita atau tidak. Karena sebenarnya hanya dengan izin-Nya jua semuanya bisa terjadi.

Maka ketika melihat luar biasa detailnya Islam mengatur segala aspek kehidupan serta solusi-solusi yang menyelesaikan hingga ke akarnya membuat kita bertanya dan merenung. Coba kita bandung kan dengan sistem yang dipakai saat ini? Bukan menyepelekan atau me remehkan tapi jika kita teliti pemberian solusinya tidak sampai menyentuh akar bahkan kebanyakan malah melahirkan permasalahan baru. Maka dari itulah sudah selayaknya kita jenuh dengan sistem saat ini, sekarang waktunya kita berhijrah ke sistem yang terbukti mampu menjaga generasi serta kehidupan sosial. Ya sistem itu adalah sistem Islam, sebuah sistem yang terbukti mampu mewujudkan penerapan syariah secara kaffah. Wallahu’alam bis shawwab