Cerita Anak: Sahabat Baru Arini

Sahabat Baru Arini

“Aku nggak mau satu kelompok sama Nanik! Dia kan larinya lambat!”
Arini meletakkan kedua tangannya di pinggang lalu mendengus.

Nanik menatap tanpa bersuara pada Arini. Sebenarnya dia tak mengerti kenapa Arini selalu bersikap ketus padanya. Padahal Nanik tak pernah membeda-bedakan sikap pada teman. Bagi Nanik, semua teman sama, nggak ada beda.

“Ada apa ini?” Bu Wati mendatangi murid-muridnya yang sedang bersiap untuk lari estafet pagi itu.

“Itu, Bu. Arini nggak mau sekelompok sama Nanik, Bu.” Kali itu Intan yang bersuara.

“Arini, kenapa kamu nggak mau sekelompok sama Nanik? Kan tidak boleh pilih-pilih teman.” Bu Wati menasihati Arini.

“Bu, nggak papa. Nanik kan memang larinya lambat, Bu.” Nanik tersenyum pada bu Wati. Dia khawatir kalau gurunya nanti akan memarahi Arini.

“Sudah, Nanik sama aku saja, yuk,” ajak Intan lalu meraih lengan Nanik.

“Baik. Karena semua sudah dapat kelompok, anak-anak silakan bersiap di posisi masing-masing. Kelompok satu diketuai Arini, kelompok dua diketuai Intan.”

Perlombaan lari estafet pun dimulai. Tahap satu dimenangkan oleh kelompok Arini. Arini memang jago di pelajaran olahraga. Karenanya kelompok Arini berhak bertanding lagi untuk final, melawan kelompok Bayu, murid laki-laki yang sekelas dengan mereka.

“Maaf ya, kelompok kita jadi kalah, deh,” kata Nanik murung.
“Nggak papa, Nanik. Bukan karena kamu, kok. Lagian, menang atau kalah itu kan nggak penting. Yang penting kita olahraga biar sehat,” jelas Intan menghibur Nanik.

“Aduh!”
Nanik yang sedang duduk di pinggir lapangan terkejut mendengar seruan Arini. Arini yang sedang berlari untuk perlombaan final tiba-tiba terjatuh.

“Aw!” teriak Arini sekali lagi. Tampak raut wajahnya begitu kesakitan. Kelompok Bayu melanjutkan pertandingan dan dengan mudah sampai di garis finish.

“Kamu sih, Arini! Pakai jatuh segala. Kelompok kita jadi kalah, kan!” Siska yang seharusnya berlari setelah Arini datang sambil menghentakkan kakinya.

“Udah, kamu jangan begitu, Sis. Kasian Arini lagi kesakitan.” Kali itu Lala yang juga sekelompok dengan Arini datang membela.

“Arini, kamu nggak papa? Yang mana yang sakit?” Nanik sudah tiba di dekat Arini dan menyentuh pundaknya.

“Kakiku … aduh ….” Arini mencoba untuk berdiri namun kesulitan.

Nanik memeriksa pergelangan kaki Arini yang tampak memerah.
“Cepat, kita antar Arini ke UKS,” perintah bu Wati.

Akhirnya Nanik, Lala dan Intan menolong Arini menuju UKS. Ternyata kaki Arini terkilir karena pertandingan lari tadi. Akibatnya dia tidak diperbolehkan berlari dulu untuk sementara.
Arini sedih sekali karena tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga yang sangat disukainya.

“Arini, kamu udah makan, belum?” Arini terkejut melihat kedatangan Nanik ketika ia masih beristirahat di UKS sambil menunggu papanya menjemput. Dia pikir semua temannya pasti sudah pulang, karena bel sudah berbunyi tiga kali tanda pelajaran sudah berakhir.

“Kok kamu belum pulang?”

“Iya, rumahku kan dekat, Rin. Tadi aku ke kantin dulu, sekalian aku bawakan kamu roti. Karena kulihat, kamu belum makan dari tadi.”

Arini memegang perutnya yang berbunyi. Mau tak mau dia menerima roti pemberian Nanik.

“Papa kamu belum jemput, ya?” lanjut Nanik bertanya. “Aku temani sampai papa kamu jemput ya, Rin.”

“Nik, kok kamu tetap baik sama aku? Tadi kan aku udah jahat sama kamu.” Diam-diam Arini menyesali perbuatannya tadi sewaktu pelajaran olahraga.

Nanik tersenyum pada Arini. “Kamu itu kan temanku, Rin. Aku diajari mamaku kalau kita harus berbuat baik pada teman-teman kita, nggak boleh pilih-pilih.”

“Aku minta maaf sama kamu ya, Nik. Karena aku tadi pilih-pilih teman sekelompok waktu olahraga tadi.”

“Ya sudah. Nggak papa. Nggak usah diingat lagi. Yang penting kamu cepat sembuh ya, Rin. Aku senang lihat kamu lari. Kamu kan jago olahraga, Rin. Nggak kayak aku.”

“Eh, kalau gitu, nanti kalau kakiku sudah sembuh. Gimana kalau aku ajari kamu olahraga?” ujar Arini tiba-tiba.

Kedua mata Nanik berbinar saat mendengarnya. “Serius, kamu mau ajari aku olahraga, Rin?”

“Iya, Nik. Anggap saja untuk penebus kesalahanku sama kamu. Tapi, nanti tunggu aku sembuh dulu, ya.”

“Wah, mau, Rin. Mau banget! Makasih ya, Rin.”
Nanik memeluk erat Arini.

“Nah, ini dia anak papa yang katanya kakinya terkilir. Tapi tampaknya senang sekali ditemani sama sahabatnya.” Papa Arini tiba-tiba muncul dari depan pintu UKS.

“Iya dong, Pa. Nanik kan sahabat Arini!” Nanik dan Arini tertawa bersama.

rumahmediagrup/emmyherlina

2 comments

Comments are closed.