Hujan di Penghujung Tahun

Meja lipat taman di seberang kota itu mulai terlihat agak memudar warna kayunya. Setiap hari tersiram hujan lebat yang seakan tak memberi ampun seseorang yang tengah berlaku berlaku salah.

Gini memang tidak pernah tahu sama sekali akan kelakuan Roman, yang hanya ingin memberi harapan kepalsuan. Setitik pesan di sore itu,menandakan ketidaksukaan Roman untuk menjemput kekasih bayangannya itu.

Gini baru tersadarkan setelah semua apa yang diberikannya selama apa yang diminta Roman masih dibatas toleran, tentu akan dia lakukan.

Namun sekarang, hanya meminta dijemput saja untuk pulang, Roman berkelit berjuta alasan.

“Maaf ya, Gin. Kali ini aku benar-benar sibuk dan banyak kerjaan, kebetulan aku membawa pekerjaan kantor ke rumah, biar tidak keteteran besok di kantor.”

“Iya lah Mas, tak apa-apa. Gini biar naik taxi saja.”

“Baguslah, hati-hati.”

Sesingkat itu Roman memperlakukan kekasihnya itu, meski sebenarnya hanya kekasih bayangan menurut Roman.

Bayangkan saja dari awal bertemu, hanya mengandalkan ketampanan untuk menjerat kekayaan Gini, yang notabene seorang wanita karir dengan posisi Bos di kantornya.

Sementara Roman hanya pegawai biasa di beda kantor perusahaan. Namun entah kenapa Gini mau saja di bodohi, entah memang Gini tidak ingin dianggap wanita jahat menolak lelaki tampan seperti Roman.

Meski teman-teman yang lain sudah memperingatkan Gini, agar tidak menerima Roman. Semua tahu akal bulus Roman kecuali Gini yang terlalu polos menganggap semua orang memiliki sikap yang sangat baik kepadanya.

Gini akhirnya sampai di depan rumahnya yang lumayan mewah, dia tinggal dengan ayah ibunya yang diboyong dari kampung.

Karena memang selama ini Gini bekerja dengan niatan ingin membahagiakan keluarganya, terutama orangtuanya yang selama ini selalu bersama menemani keberadaannya setiap saat.

Hujan yang semakin lebat, membuat suasana terasa sangat sepi. Ayah ibunya sudah duluan pergi ke kamar untuk beristirahat. Sementara Gini, masih melirik HP nya yang tergeletak di pinggir tempat tidurnya.

Berharap mas Roman memberinya ucapan sekedar mengucapkan selamat malam, namun semua diluar ekspektasi.

Ginipun mulai sedikit berpikir, dengan sikapnya terhadap mas Roman selama ini dengan sikapnya kepada mas Roman. Sangat jauh berbeda untuk saling memberi perhatian. Sementara mas Roman sama sekali tidak pernah sedikit saja memberinya perhatian.

Ah, untuk apa Gini memikirkannya. Mungkin do’a-do’anya akan segera terkabul. Kalau memang mas Roman baik untuknya, pasti Tuhan memberi jalan. Namun apabila mas Roman bukan yang terbaik, maka Tuhanpun akan segera memperlihatkan.

Entah kenapa hatinya yang risau mulai tenang. Melihat handphone yang masih tetap tidak menyala. Gini akhirnya tertidur dengan pulsanya, hingga menjelang pagi hari.

Pagi telepon berdering lama. Selesai merapihkan diri, Gini terjejut. Panggilan tidak terjawab dari Rudi dan Riska beberapa kali belum sempat di angkatnya. Dengan sedikit bertanya, kenapa sahabat lamanya itu menghubungi sepagi itu. Jam 3.15 dini hari tadi, tak diangkat karena HP di silentkan volume suaranya.

Jam dinding diliriknya, dan kembali melihat HP. Betapa lebih terkejutnya lagi ketika Riska mengabari lewat WA kalau Roman meninggal semalam tadi akibat minum-minuman keras over dosis. Riska tahu dari Rudi yang semalam menemukannya tergeletak di depan jalan trotoar dekat bar dan segera memboyongnya ke rumah sakit utama kota.

Entah perasaan apa yang ada di hati Gini saat membaca kabar itu. Air mata mulai menetes di setiap sudut mata sayunya itu.

“Mas Roman… Kamu…”

Saat itu juga Gini tak sadarkan diri, untung saja mbok Anah yang melewati kamarnya untuk menyapu kamar langsung sigap mengangkat tubuh lemahnya ke atas tempat tidur.

“Neng, eling neng,, eliiing…,” teriak si mbok yang juga panik melihat majikan muda itu pingsan.

Semua do’a pasti akan dikabulkan oleh Tuhan. Do’a yang semalam Gini pinta ternyata benar-benar memberinya kekuatan yang teramat memberi syok. Tidak pernah menyangka, namun memang itulah Tuhan memberi jawaban terbaik-Nya.

Sejak itu, Gini semakin yakin, kalau selama ini dia hanya dibohongi oleh sosok Roman. Masalah jodoh biar Tuhan yang mengaturnya. Gini hanya memandangi jendela kaca bening yang semakin buram dengan kucuran derasnya air hujan yang turun di sore itu. Mengetahui betapa sedihnya perasaan yang sedang menyapanya saat itu.

Tetapi Gini berucap syukur, semua kejadian pasti hikmah baik yang akan diambilnya. Semoga ini menjadi ladang kesabaran akan dirinya yang selalu di bohongi Roman.

“Apapun itu, semoga Tuhan memaafkanmu Mas Roman. Karena aku sudah memaafkan mu dan hanya bisa memberi kenangan do’a yang mungkin kamu harapkan disana.”

Tanpa pernah sekalipun membayangkan sosok orang yang telah meluluhkan hatinya itu akan memberi sedikit lupa dan cerita di hidup Gini.

Foto : haokan.