Kaget yang Membuat Bahagia

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu,” salam bu Sari saat memasuki kelas XI akuntansi. “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatu,” serempak mereka menjawab salam bu Sari. Wajah anak-anak XI akuntansi mendadak tegang, ibarat sosis yang baru diangkat dari panggangan. Mereka langsung merapikan tempat duduk dan meja, yang sedang jajan langsung memasukkan makanan itu ke dalam mulut padahal potongan kue lumayan masih besar. Mereka mengunyah tanpa berpikir panjang, seolah-olah sedang berlomba makan.

Bu Sari masuk dengan membawa sebundel map cokelat dalam dekapannya. Kebiasaan bu Sari ketika memasuki ruangan membuat anak-anak menjadi penasaran dan tegang. Apalagi dengan membawa map cokelat. Oo berarti bu Sari akan mengawas di kelas XI akuntansi. “Wah, bu Sari akan mengawas di kelas ini tahu.” bisik salah satu siswi dalam kelas itu. “Iya nih, tuh lihat di tangannya ada amplop cokelat.” jelas anak yang lain sambil berbisik.

“Mana puteri?”tanya bu Sari dengan tegas. Bu Sari terkenal galak dan tegas tak memandang itu anak ikhwan atau akhwat. Pandangan mata bu Sari kerkeliaran, layaknya elang mencari buruannya. “Itu Bu.” sambil menunjukkan ke arah Puteri anak-anak serempak menunjuk puteri. Wajah Puteri yang ditunjuk teman-temannya mendadak tegang, sedikit pucat. Ia kaget mengapa bu Sari mencarinya, apakah kesalahan yang dia lakukan. Puteri maju dengan ragu-ragu, apa gerangan keperluan bu Sari sehingga namanya dipanggil.

“Iya Bu, ada apa yaa.” sambil menunduk puteri menghampiri bu sari. Dag dig dug, detak jantung Puteri mendadak berdetak lebih kencang. “Sini Puteri, ayo mendekatlah.” sambil melambaikan tangannya bu Sari memanggil Puteri. Semua mata tertuju kepada Puteri dan bu Sari, mereka menduga-duga.

“Berapa harga es mambonya Puteri?” tanya bu Sari. “Seribu Bu,” jawab Puteri. Puteri menerima uang dari bu Sari, lalu mengembalikan sisa uangnya kepada bu Sari. Lepas memberikan uang, bu Sari pamit dan langsung mengucapkan salam lagi.

“Alhamdulillah, hore bu Sari nggak jadi ngawas di kelas kita.” teriak anak-anak pecah saat bu Sari sudah di luar kelas. “Wah, ana kira bu Sari akan mengawas di sini yaa. Sudah siap-siap padahal, dan lihatlah kursi dan mejaku sudah bersih, kinclong malahan” ucap Mita sambil tertawa.

“Eh gaya ya kamu, lihat dong mejaku sudah rapi jugakan,” tukas Aura. “Alhamdulillah ya, lega rasanya bukan bu Sari yang mengawas di kelas kita. Setelah kepergian bu Sari dari kelas XI akuntansi, anak-anak merasa lega dan gembira. Mereka mengira bu Sari akan mengawas di kelasnya, sehingga air muka mereka mendadak menegang. Namun akhirnya mereka kembali mampu bernapas dengan lega

rumahmediagrup/suratmisupriyadi