Kisah Unik di Balik Jembatan Cirahong Manonjaya-Tasikmalaya

“ARTIKEL”
Oleh : Allys Setia Mulyati, S.I.Pust.

Seperti yang telah kita ketahui, bahwa di Indonesia terdapat beragam sejarah, cerita atau bahkan bisa disebut juga sasakala, dimana hal tersebut masuk ke dalam cagar budaya, yang tentu saja harus kita lestarikan bersama, sebagai ciri khas suatu daerah.

di Tasikmalaya ada banyak sekali tempat wisata, bahkan salah satunya sebagai harta warisan sejarah di masa lalu, khususnya di daerah Manonjaya, yang kebetulan posisi-nya tidak jauh dari tempat kediaman-ku.

Di sana ada sebuah jembatan yang dibuat pada masa penjajahan Belanda. Jembatan ini menjadi penghubung antara (Manonjaya), Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Ciamis.

Pada jaman-nya di masa itu, Indonesia sedang dijajah oleh bangsa Belanda yang terkenal dengan sikap mereka yang kejam dan mau menduduki kekuasaan di Indonesia. Itupun sudah sangat diketahui, sampai ke pelosok tanah air.

Cerita Jembatan Cirahong ini memang unik. Banyak juga mitos-mitos yang tidak masuk akal, bahkan kita tidak usah takut akan hal apapun. Semua memang begitu adanya bagi yang percaya.

Ketika kita hanya percaya sekecil apapun itu, asalkan semua berawal dari sang Pencipta. Maka hidup akan berjalan sempurna. Dibalik semua itu, kita-pun harus percaya pada hal yang demikian, sebagai sebuah ketetapan-Nya

Belanda pada waktu itu, ingin mempermudah lalu lalang pengangkutan hasil pertanian yang di minta secara paksa dari masyarakat, yang sudah pasti sangat merugikan mereka. Sehingga pihak penjajah pun memaksa untuk mendirikan lajur kereta api. Untuk memudahkan lalu lintas penarikan upeti tersebut dari Ciamis ke Tasikmalaya via Manonjaya.

Mereka memaksa kepada kaum yang di jajah, untuk membuat Jembatan penyebrangan, sekaligus sebagai jalur kereta api yang pada saat itu amat sangat dibutuhkan oleh penjajah. Semua dipekerjakan siang dan malam tiada henti, laksana kerja rodi siang dan malam tanpa ada balas budi.

Penjajah tidak mau tahu, pengerjaan Jembatan Cirahong itu harus segera terselesaikan.

Masalah terjadi ketika pengerjaan rel kereta terhenti, karena ada jalan yang anjlog di daerah perbatasan Manonjaya ke Ciamis, yang dibatasi serta terhalang sungai besar Citanduy. Tidak ada yang mau melintas sendirian ketika sudah masuk ke ranah malam.

Sementara para pekerja yang memang merasa enggan mengerjakan pekerjaan ke daerah itu, merasakan takut akan kejadian-kejadian aneh yang tidak diinginkan. Meskipun Belanda memaksa dengan berbagai cara.

Karena para pekerja paksa takut untuk turun ke sungai Citanduy, sekedar memperbaiki yang rusak, akhirnya pemimpin Belanda mengalah, ikut serta turun.

Kejadian aneh-pun terjadi. Sesampainya di bawah, sesosok kakek-kakek datang, dengan janggut panjang, dengan rambut tidak karuan, gimbal dan kotor.

“Rghhhh.”

“Siapakah kisanak? Yang berani-beraninya datang di hadapanku,” sahut pemimpin penjajah Belanda, yang memang dikejutkan oleh suara sang kakek tersebut.

Sang kakek yang berperawakan tinggi besar, tetapi terlihat sangat menakutkan itu, tidak segera menjawab. Hanya memegang batang tenggorokannya saja bak sedang kehausan yang teramat sangat.

Sang pemimpin Belanda pun memiliki niat jahat dan licik, dengan pikiran menerawang, dia memprediksi kalau si kakek tentu bisa ia suruh sesuka hati-nya, hanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Tanpa berpikir panjang lagi. Si kakek diberikan minuman memabukkan oleh pemimpin Belanda.

Selesai diberikan minuman, si kakek-pun diberi pertanyaan yang sama.

“Hai, siapa namamu sebenarnya kek?.”

Tiba-tiba si kakek-pun dengan gerakan suara bergema, yang cukup menakutkan menjelaskan.

“Aaakuuuu, wrahoongg.” Haaawhaaawhaa..! sambil diakhiri tertawa yang benar-benar menakutkan.

Penduduk yang juga para pekerja pun, banyak yang pingsan mendengarnya, saking ketakutan.

Dan pada akhirnya, si kakek rahong-pun, yang merupakan penjelmaan jin itu, menyetujui keinginan pimpinan Belanda yang ingin dibantu dalam penyelesaian bangunan jembatan tersebut.

Karena kejahatannya itulah Ki rahong-pun mau bersahabat dengan para penjajah. Bahkan membantu membangun jembatan tersebut.

Namun dibalik semua cerita itu, ada suatu yang jadi pengingat, bahwa jembatan itu akan membawa baik apabila orang yang melewati jembatan itu memang orang yang baik. Namun apabila ada orang yang memang jahat, bahkan tidak beriman yang ingin melakukan hal diluar nalar kita, maka akan seperti itulah mereka, karena berkongsi dengan jin Ki Rahong.

Ki Rahong akan takut pada orang-orang baik yang pada dasarnya memiliki ilmu agama.

***

Ada juga informasi yang menceritakan tentang sejarah Jembatan Cirahong (Aksara Sunda Baku: ᮏᮙ᮪ᮘᮒᮔ᮪ ᮎᮤᮛᮠᮧᮀ, Jambatan Cirahong) adalah merupakan jembatan kereta api, yang terletak di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis, tepatnya di Manonjaya, Tasikmalaya.

Jembatan ini melintas di atas Sungai Citanduy yang merupakan perbatasan dari kedua kabupaten tersebut. Jembatan ini mempunyai nomor BH 1290 dan berada di timur Stasiun Manonjaya Daerah Operasi 2 Bandung.

Jembatan ini menggunakan konstruksi baja yang banyak dan cukup rapat. Jembatan yang memiliki panjang 202 meter ini merupakan jembatan yang unik, karena memiliki 2 fungsi.

Bagian atas jembatan berfungsi untuk lalu lintas kereta api, sedangkan bagian bawah jembatan berfungsi untuk lalu lintas kendaraan. Namun kendaraan yang melintas harus bergantian masuk, karena ukuran jembatan yang sempit.

Jembatan ini merupakan jalur alternatif dari Tasikmalaya menuju Ciamis lewat Manonjaya dan sebaliknya. Jembatan Cirahong merupakan satu-satunya jembatan peninggalan belanda di Kabupaten Ciamis.

Maka, Jembatan ini-pun dikenal, dengan nama “Jembatan Cirahong”
**********************************************
#Sumber Buku :
Cucu Wijayanto, M.Pd.(2019). Wandacarita Sukapura-(Fiksi Berbahasa Sunda) : Kumpulan Dongeng Sasakala ti Sabudeureun Tasikmalaya.
Tasikmalaya : CV. Cahaya.

#sumber lain diambil dari google : http://id.wikipedia.org.

repost ulang*

Gambar : app.google