Cernak

=Duka Induk Burung Pipit=

Pada suatu pagi yang cerah, saat matahari tersenyum ceria membentangkan cahayanya keseluruh permukaan bumi. Terlihatlah seekor burung pipit sedang berkeliling di sekitaran pohon cemara, tampaknya dia akan membuat sarang yang nyaman untuk mengerami telur telurnya.

Saat asiknya si pipit merajut daun daun kering juga ilalang untuk membangun sarang, ia dikejutkan suatu pemandangan yang sangat menakutkan. Di bawah pohon itu ternyata ada sarang ular hijau yang sedang tertidur, ia tidak bergerak tetapi sisik sisiknya mengelupas satu persatu. Ooo … rupanya sang ular sedang berganti kulit, perlahan setelah sisiknya mengelupas semuanya, ular itu mulai bergerak dengan kulitnya yang baru yang lebih bersinar.

“Wah, gawat …, ternyata tempat ini tidak aman untuk telur telurku hingga menetas nanti, biasanya ular itu setelah ganti baju pasti rakus mencari mangsa apapun yang ada. Jadi sebaiknya aku cari tempat yang lainnya saja.” Pikir induk pipit kemudian melesat pergi.

Terbang dari pohon satu ke pohon lainnya. Akhirnya induk pipit memutuskan untuk membuat sarangnya di atas pohon mangga yang rimbun sekali dahannya. Kembali ia merajut satu persatu dedaunan dan ilalang yang kering. Dengan terampil juga cekatan, tidak begitu lama jadilah sarang yang nyaman. Kemudian dia mulai mendiami dan bertelur.

Dalam kurun waktu seminggu, jumlah telur induk pipit ada 5, butuh waktu beberapa hari lagi untuk mengerami telur telurnya. Hingga ke 5 telurnya menetas sempurna. Bayi bayi pipit mulai bermunculan dari cangkang telur yang pecah. Dengan sabar induk pipit menjaga dan melindunginya, mencari makanan untuk disuapkan dengan paruhnya.

Keriuhan cicit …cericit suara anak anak pipit yang berebut ingin di sayang induknya, membuat ayah pipit juga bersemangat bekerja mencari banyak makanan untuk keluarganya. Anak anak pipit semakin besar, beberapa bulu sayap mulai tumbuh dan 3 diantaranya sudah mulai belajar mengepakkan sayap mungilnya. Ibu pipit merasa terharu dan bangga, karena sebentar lagi pasti anak anak akan meninggalkan sarang untuk hidup mandiri terbang melintasi awan dan menyambut sinar mentari.

Saat pagi hari ayah dan ibu pipit keluar sarang untuk mencari makanan, hingga siang hari seperti biasanya ibu pipit akan pulang duluan untuk memastikan keadaan anak anaknya. Setelah begitu lama dia berputar putar di sekitaran pohon mangga tapi induk pipit tetap juga tidak menemukan sarangnya, lalu kemanakah gerangan?

Di pucuk pohon mangga tadi, terbang jesana kemari tak henti henti, induk pipit merasa sedih. Bersiul menyanyikan lagu duka, ia kehilangan sarang dan ke 5 anaknya. Murung dengan meneskan air mata, sambil terus mencari anaknya.

Rupanya, ada segerombolan anak anak yang tadinya bermain bola telah mengusik sarang pipit dengan sengaja di ambilnya sarang pipit tersebut dan nenjadikan anak anak pipit menjadi mainan mereka.

Ibu pipit hanya bisa memandanginya tanpa kuasa, airmata ibu terus berderai karena tidak berdaya menyelamatkan anak anaknya dari tangan jahil manusia.

Demikian cerita kali ini adik adik, hikmah yang bisa kalian ambil adalah harus saling menyayangi makhluk ciptaan Alloh SWT. Karena meskipun seekor burung kecil sekalipun ia punya keluarga, punya mama dan papa. Bagaimana perasaan kalian jika kalian dipisahkan dari ayah dan bunda kalian, pasti sedih bukan? Jadi tetaplah ikut menjaga kelestarian alam lingkungan. Agar semuanya hidup tentram dan damai.

rumahmedia/lellyhapsari