CINTA – Cintaku Padamu, Buta (1)

CINTA – Cintaku Padamu, Buta (1)

“Ciieeeee! Romeo sama Juliet kampus, kayak perangko sama amplop, nih! Nempel teruuuussss!”

Tara hanya tersenyum menyaksikan beberapa teman kelasnya berisik menggoda ketika ia dan Firman, sang kekasih, melintasi kantin kampus siang itu. Genggaman tangan Firman semakin erat memeluk bahunya.

“Siapa itu?” tanyanya penuh selidik.

“Teman-teman sekelas, ada senior juga. Udah diemin aja. Jadi makan nggak?”

“Enggak usah. Kita pindah tempat.”

Tara menghela napas panjang tanpa banyak komentar.

“Tara! Tara! Kamu kenapa? Tara! Buka pintunya!”

Malam itu pintu kamar kos Tara diketuk Anti sahabatnya. Ia mendengar suara gaduh datang dari dalam kamar kos Tara, ketika sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Bukan sekali dua kali, Anti mendengar cekcok antara Tara dan Firman. Malam itu ia mendengar suara benda keras sekali dihantam ke dinding, yang tepat bersebelahan dengan kamar kosnya.

Anti mengetuk pintu kamar dengan keras sekali. Malam itu suasana memang sepi, karena semua penghuninya keluar menikmati malam pergantian tahun yang meriah di alun-alun kota. Bahkan bapak penjaga kos pun tidak nampak batang hidungnya.

Pintu pun terbuka sedikit, dan nampak wajah Firman yang memerah dan berkeringat dengan napas menderu muncul.

“Jangan ikut campur!”

“Heh! Mana Tara? Jangan macam-macam kau Firman! Aku panggil Polisi kalau kau sakiti Tara! Awas kau! Tara! Tara! Di mana kamu?”

“Pergi sana!”

Firman pun menutup pintu kamar dengan keras. Anti berlalu dengan lemas.

‘Semoga Tara baik-baik saja.’

Semalaman itu ia tidak bisa tidur, dan berusaha mendengar apa yang terjadi di kamar sebelah. Namun ia justru tertidur ketika Firman pergi dan memacu motor besarnya dengan kencang.

Keesokan harinya, tanpa sengaja Anti berpapasan dengan Tara ketika hendak pergi membeli sarapan. Wajahnya tampak pucat, tubuh kurusnya tertutup jaket tebal.

“Tara? Kamu enggak apa-apa? Semalam kamu ribut lagi ya sama pacarmu? Apakah ia menyakitimu?”

“Aku enggak pa pa Ti. Maaf ya semalam bikin kamu khawatir. Terima kasih ya Ti. Kamu baik sekali. Mau kemana kamu?”

“Beli sarapan. Ikut, yuk. Kamu sudah makan?”

“Belum. Aku titip saja boleh enggak?”

“Boleh. Mau makan apa?”

“Sama saja denganmu.”

“Okay. Nanti aku kasih ke kamar, ya.”

“Terima kasih, Ti.”

“Sama-sama, Ra.”

Dua bungkus lontong sayur, seplastik buah segar, dan 2 bungkus teh panas menjadi hasil belanjaan Anti pagi itu. Ia bergegas menuju ke kamar Tara untuk mengajaknya sarapan bersama di ruang makan rumah kos besar itu.

“Ra, Tara. Makananmu sudah aku taruh di meja. Ayo, kita makan sama-sama. Tara ….”

Anti mengetuk pintu kamar Tara yang letaknya persis di sebelah kamarnya. Namun Tara tak juga keluar. Apa mungkin ia tertidur? Tadi wajahnya pucat sekali. Jangan-jangan ia sakit.

“Tara? Aku masuk ya. Kamu enggak apa-apa? Pintunya kok enggak dibuka-buka?”

Pelan, Anti membuka pintu kamar Tara.

“Astaga! Tara! Kamu kenapa? Tara! Toloooong! Pak Toto! Tolong, Pak! Tara, Paaakk! Toloooong! Taraaaaa!”

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda