Cinta Kasih yang Hakiki untuk Anak

Cinta Kasih yang Hakiki untuk Anak

Jika para orangtua ditanyakan apakah mencintai anak-anaknya, mereka pasti akan menjawab, “Tentu saja!”

Lalu, bukti apa saja yang sudah dilakukan sebagai bukti cinta pada anak? Memberi mereka berbagai fasilitas mewah? Melimpahi dengan kecukupan materi? Menyekolahkan di sekolah bergengsi yang mahal? Menuruti semua keinginan anak-anak?

Faktanya, banyak orangtua mengukur bukti rasa cinta pada anaknya lewat hal-hal berbau materi. Hingga tak aneh bila anak-anak zaman now sedikit sekali yang mau hidup sederhana alias bersahaja. Orangtua begitu mudah luluh oleh rengekan dan rajukan sang buah hati saat meminta sesuatu. Padahal yang diminta juga belum tentu baik dan bermanfaat.

Beberapa waktu lalu, terjadi kehebohan di salah satu WAG orangtua murid. Saya mendapat kabar bahwa ada sekitar 200-an anak usia 6 hingga 12 tahun yang mendatangi salah satu rumah sakit jiwa yang ada di kota kami. Mereka datang dengan satu keluhan yang sama, yaitu “kecanduan gadget”. Entah itu kecanduan game online, youtube, maupun aplikasi di dunia maya lainnya.

Untuk klarifikasi, saya segera mengkonfirmasi salah seorang sahabat yang kebetulan bekerja di rsj tersebut. Jawaban dari teman saya itu ternyata membenarkan isi informasi dari berita yang termuat di WAG orangtua murid. Artinya berita tersebut memang benar adanya. Valid. Naudzubillah min dzalik.

Menyedihkan, bukan? Anak-anak di usia produktif, masa-masa selepas golden age nyatanya bukan berkembang semakin baik, malah sebaliknya. Mengalami banyak kemunduran dan hambatan. Maka, siapakah gerangan yang bersalah jika sudah demikian?

Kita! Para orangtua! Iya. Kita. Siapa lagi?

Ingatkah ketika kita dengan mudahnya menjanjikan akan memberikan fasilitas gadget untuk menghentikan rengekan anak-anak? Lupakah ketika kita sodorkan gadget full kuota untuk anak habiskan agar mereka anteng berselancar di dunia maya dan tak mengganggu aktivitas harian kita?

Ingatkah kita ketika dengan bangganya memamerkan kemampuan anak yang lebih mahir mengoperasikan gadget dibanding orangtuanya, padahal usia mereka masih di bawah 17 tahun? Apakah akan memungkiri bila sudah sejak anak-anak berusia balita kita sudah memperkenalkan gadget kepada mereka? Lupakah kita saat mengabaikan himbauan dari para ahli parenting dan psikolog bahwa usia ideal anak untuk diberikan gadget adalah di usia 17 tahun?

Stop! Untuk menyalahkan orang lain. Berhenti untuk mencari berbagai alasan sebagai pembenaran atas kekeliruan kita! Sudahi menyalahkan kesibukan kita sehari-hari sebagai kambing hitam!

Akui saja, bila semua itu terjadi karena kealpaan kita. Bukti dari rasa cinta yang kebablasan. Bukti betapa lemahnya kita, para orangtua, dalam prinsip membangun pondasi untuk pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak secara psikis.

Maka wahai para orangtua. Mari renungi kembali akan arti cinta yang hakiki untuk anak-anak kita. Kembalikanlah mereka kepada fitrahnya, yaitu dengan mendekatkan kepada Tuhan dan ajaran agama masing-masing. Mencintai bukan berarti memanjakan berlebihan tanpa batas. Mencintai bukan berarti membuai anak-anak dalam hal-hal duniawi yang penuh kepalsuan.

Wallahu alam bishowab.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah