Cita-cita Anak dan Impian Orangtua

Cita-cita Anak dan Impian Orangtua

Beberapa hari yang lalu, si Babang, anak kedua saya pulang sekolah membawa selembar pemberitahuan bahwa ia lolos seleksi tahap pertama Olimpiade Matematika.

Saya takjub, tak menyangka karena terus terang si nomor dua ini bukan tipe anak penggemar Matematika. Bisa lolos seleksi? Wow!

Singkat cerita, saya ucapkan selamat kepadanya dan menawarkan untuk belajar soal-soal matematika bersama. Masih ada waktu dua hari sebelum seleksi tahap kedua.

Jawaban anak saya berhasil membuat saya melongo.

“Nggak usah belajar, Mi. Aku nggak ingin lolos tahap kedua, kok.”

Lho?

Sebenarnya saya agak kecewa. Saya ingin dia bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk seleksi olimpiade ini. Tapi apa daya. Si Babang tidak terlalu berminat.

Coba kalau itu adalah futsal. Wah, bisa dipastikan dia akan sangat bersemangat dan antusias menyiapkan diri ikut lomba. Ya, anak lelaki saya ini memang penggemar futsal. Setiap hari dia bermain bola, sepulang sekolah, sore sehabis Ashar bahkan kadang di sela-sela menunggu giliran mandi pun, ia sempatkan berlatih menggiring bola di rumah.

Akhirnya saya biarkan ia sebisanya dan semampunya mengikuti seleksi tahap kedua olimpiade matematika itu. Saya tidak akan memaksakan ambisi saya. Saya juga tidak akan menitipkan mimpi terpendam saya yang mungkin dulu belum tercapai ke anak saya. Karena ia adalah seorang yang unik, berhak punya impian sendiri, passion sendiri.

Tugas kami sebagai orangtua seharusnya hanyalah menyediakan fasilitas untuk ia belajar dan menemukan minat bakatnya. Mengarahkan anak agar selalu melangkah dengan berpedoman kepada nilai-nilai agama. Selebihnya, tersenyum bahagia melihatnya melesat meraih cita.

rumahmediagrup/meikurnia