Coding Data Kualitatif

sumber gambar : htp://www.indonesia.go.id/

Coding Data Kualitatif

Proses coding data seringkali menjadi perhatian utama setelah data dikumpulkan. Peneliti pemula, yang belum memiliki pengalaman juga mengalami proses ini. Biasanya peneliti pemula seringkali “tersesat” pada proses coding.  Proses yang sesungguhnya tidak dilakukan dengan benar. Nah, untuk mengetahuinya lebih lanjut, baca ya ulasan berikut ini.

Proses megidentifikasi temuan atas transkip memang dibutuhkan ketelitian. Sisi berat penelitian kualitatif, salah satunya adalah saat proses coding. Biasanya peneliti disarankan untuk bersikap terbuka, menerima apapun jawaban informan. Meskipun interpretasi atas jawaban informan yang dianggap penting bagi peneliti, ternyata beda dari perspektif informan. Untuk menjaga interaktif pada kondisi obyektif, maka peneliti seyogyanya bersifat terbuka menerima perbedaan tersebut.

Kontradiksi pada saat coding ini, tidak dapat dihindari oleh peneliti. Hati-hati akan jebakan-jebakan pengetahuan peneliti atas topik atau kasus penelitiannya. Karena hal tersebut akan mempengaruhi peneliti pada proses coding berikutnya.

Ada hal yang penting saat coding berlangsung, yakni proses analisis. Menemukan konsep dan kategori dalam semua materi yang dikodekan. Agar mempermudah proses coding, peneliti dapat melakukan analisis tiap data tiap menit. Memberikan kode khusus jika terdapat pertanyaan khusus. Membuat catatan teoritis atau seperti mapping teoris. Hal ini dilakukan untuk mempermudah cara analisis dalam coding.

Peneliti hendaknya jangan menganggap semua data itu mudah ditemukan. Karena harus ditemukan konsistensi data dan relevansi analisis dari beberapa pertanyaan umum. Misalnya umur, jenis kelamin, kelas sosial, dan lainnya. Hal-hal yang dianggap pertanyaan umum ini, juga harus dianalisis secara detail. Data-data spesifik dalam rangkaian pertanyaan pada informan harus memuat konsistensi. Apakah jawaban dari informan sudah tepat? Pertanyaan ini sudah harus dihilangkan dari pikiran peneliti. Apapun jawaban informan, mau tepat atau tidak akan tetap analisis melalui coding terlebih dahulu.

Mungkin juga akan ditemui bahwa informan belum memberikan jawaban yang utuh. Artinya peneliti kurang mendapatkan jawaban yang detail. Tujuan semula dari peneliti tidak dapat diselesaikan dan alternatif tujuan tidak dapat diantisipasi oleh peneliti, maka peneliti disarankan untuk melakukan evaluasi proses coding. Mengidentifikasi kembali data yang dikumpulkan. Misalnya tujuan awal peneliti adalah menemukan efektivitas biaya, namun data yang terkumpul gagal ditemukan. Selanjutnya peneliti melakukan evaluasi atas indikator efektivitas dengan teori yang ada. Dimungkinkan ada indikator lain yang peneliti tidak ketahui, dan hal itu menjadi jawaban informan. Evaluasi ini harus didiskusikan dengan ahlinya, misalkan dengan dosen pembimbing atau dengan pakar yang sesuai.

Analisis data di tiap menit, ini maksudnya adalah peneliti mengadakan prosedur inisial kode. Memberikan kode atas jawaban informan, disesuaikan dengan rumusan masalah. Mulai dengan pernyataan-pernyataan yang luas, sempitkan lingkupnya, dan akhirnya pada substansial. Keluasan dalam hal banyak kategori, interaksi, tema atau semacamnya. Kubur dalam-dalam terkait pengetahuan peneliti atas pertanyaan penelitian. Karena hal ini akan mempengaruhi tingkat ekstensif teori yang peneliti ketahui. Biarkan jawaban informan menguasai coding.

Sifat pengkodean ini selesai jika peneliti membangun dari sejumlah elmen yang muncul tiap fase selesai. Tiap pertanyaan yang muncul menjadi kode baru, begitu seterusnya sampai pertanyaannya habis. Fase coding ini sistematik dan terbuka atas semua jawaban-jawaban informan. Dan biasanya, peneliti tiap menit akan menemukan coding yang berulang-ulang. Hal ini selanjutnya peneliti cepat pindah pada dokumen lainnya.

Secara rutin, kode dilakukan bersamaan dengan menulis catatan teoritisnya. Peneliti dekat dengan wilayah teori. Dalam prosesnya, proses coding bersamaan dengan memberikan komentar dalam  dokumen yang dianalisis. Catatan ini akan memunculkan ide yang mungkin berguna pada proses berikutnya. Setidaknya akan menjadi bahan saat diskusi dengan teori. Jika peneliti lupa atau gagal dalam memberikan komentar catatan teori, maka dapat dikatakan bahwa peneliti telah melupakan idenya. Misalnya, peneliti melakukan coding pada studinya tentang keterlibatan remaja dengan kejahatan dan narkoba. Transkip jawaban informan akan banyak berbicara tentang narkoba dan aktivitas kejahatan. Catatan yang muncul adalah teori terkait dengan kejahatan dan narkoba, susunan kejadian, dan lainnya.

Proses coding dapat juga menggunakan kontruksi pikir analitik, yaitu pertanyaan-pertanyaan tertentu yang ditanyakan saat wawancara. Tambahan yang spesifik atas pertanyaan yang ada. Hal ini digunakan untuk memilah respon dari variasi banyaknya pertanyaan. Analisisnya dapat menggunakan sebuah outline tertentu. Prosedur ini dilakukan dengan hati-hati, menit demi menit, baris demi baris, huruf demi huruf. Hal ini dilakukan untuk membedakan konsep dan kategori yang sesuai data.

Semoga bemanfaat.

rumahmediagrup/Anita Kristina