COFFEE VS LIFESTYLE

Coffee vs Lifestyle

Kopi identik dengan kalangan paruh baya, biasanya dijadikan teman ngobrol hangat pagi hari di warung kopi tradisional, tak luput pisang atau ubi goreng sebagai pelengkap. Fenomena hidup di desa, jauh dari kebisingan dan motif lain.

Tren kopi telah menyasar kaum milenial dengan pemandangan yang jauh berbeda. Coffee shop tumbuh bak jamur terutama di kota-kota besar maupun kota kecil dengan design interior yang cozy. Berbagai fasillitas pendukung, seperti wifi yang membuat pemburu free wifi akan betah duduk berlama-lama, terkadang waktu terbuang percuma. Seiring dengan pergeseran penikmatnya, kopi juga mulai berpindah tempat dengan suasa yang lebih kekinian. Mulai gerai kelas dunia dengan brand ternama sampai brand lokal.

Menyeruput kopi tak lagi sebagai sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi tetapi lifestyle yang mesti diikuti. Brand asing yang menjamur di tanah air bak sihir yang menarik perhatian kaula muda. Harga selangit tak lagi masalah untuk hanya sekedar minum kopi ditempat brand ternama demi prestise semata. Perbedaan yang mencolok dapat dilihat dari harga. Hal ini terjadi karena kehidupan hedonisme yang dipropagandakan barat, kemudian  adanya paham kecenderungan pada asing yang mengerogoti isi kepala umat saat ini.

Kualitas terbaik, tempat yang nyaman, dan strategi pasar akan menyamarkan betapa mahalnya harga secangkir kopi.  Pada umumnya kopi ditawarkan dalam 3 ukuran, tall (kecil), grande (sedang), dan venti (besar) dengan harga beragam, tentunya sesuai jenis kopi yang dipesan. Jika harga secangkir kopi di warkop hanya 2.5k, jika sedikit tambahan susu ya hanya sekitar 5k maka dengan penamaan asing harga akan berubah. Seperti, kopi yang diberi nama freshly brewed coffee atau dark roast dengan ukuran besar (venti) mencapai harga 27k,  jika diberi sedikit tambahan susu dapat mencapai harga 49k. Penggunaan bahasa asing untuk penamaan sebuah produk makanan atau minum berkorelasi dengan harga yang ditawarkan. Bagi mereka dibawah garis kemiskinan harga secangkir kopi tersebut dapat membeli kebutuhan sehari-hari keluarga dengan dua anak.

Tak hanya di dalam negeri kebudayaan minum kopi juga terdapat dibeberapa negara seperti Finlandia, Italia, Belanda, Korea, dan negara lainnya. Tentu budaya ini tak lupa mereka selipkan ketika memproduksi sebuah film hingga dapat menjadi konsumsi kaum milenial. Hal ini jelas memberi dampak pada kehidupan sehari-hari “awali harimu dengan secangkir kopi” membuat penikmatnya merasa keren. Hal ini terlihat dari aktivitas pagi ketika berangkat kerja atau kuliah salah satu tangan memegang paper coffee cups dan dengan santainya berjalan sambil seruput tanpa lagi memperdulikan adab. Ini adalah satu contoh ketika menjadikan asing sebagai role model dalam kehidupan. Padahal kita memiliki Rasulullah sebagai role model terbaik sepanjang masa.

“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QTS. Al Ahzab: 21)

Apa sesungguhnya yang kita cari di dunia ini? Hidup di dunia bukan untuk bahagia tapi untuk taat pada Pencipta agar tak sengsara di akhirat nanti. Tidak ada yang salah dengan perkembangan bisnis kopi, namun ada hal yang mesti diperhatikan ketika ngopi tak hanya sekedar minum tapi lebih pada lifestyle, maka disaat itulah standar hidup seorang muslim bergeser bahkan tergantikan.

rumahmediagrup/firafaradillah