Corona Menggeser Peradaban

Corona Menggeser Peradaban

Nilai-nilai kebenaran selalu bertataran pada persoalan pertumbuhan ekonomi, persaingan, kesejahteraan, kompetisi, dan kompetensi. Semua diselesaikan secara matematis, praktis, dan empiris. Hampir semua bicara bukti, bicara tentang data. Padahal dalam data itu belum tentu juga terbersit kebenaran. Transaksional berpikir selalu berujung pada gagasan materialistis.

Sekarang ini, tantangannya bukan pada berpikir kritis, mentalis yang masif. Head to head berhadapan dengan virus. Kontruksi berpikir dengan paradigma keilmuan porak poranda, hanya karena virus. Rujukan individual terhadap kesombongan hilang hanya karena virus. Kecil tapi mematikan. Bukan hanya mematikan kehidupan, tapi juga mematikan gaya kita saat di rumah.

Kehadiran virus ini menghapus kebiasaan lama, mengkuburkan kultur tua. Adaptasi kebiasaan baru mulai terasa. Secara tidak langsung, kita tidak lagi dapat menatap senja. Hanya tembok-tembok rumah saja. Sesekali berhalusinasi seakan melihat bintang bulan di pegunungan, ternyata hanya lampu kamar bulat putih saja yang ada.

Dan covid-19 ini, virus kecil tapi mampu menjadi titip puncak pertemuan pergeseran peradaban. Ketika terjadi perubahan, coba lihat maka akan ada banyak kegaduhan. Sedangkan jika kita gagal membaca situasi ini, maka kita hanya akan menjadi asesoris peradaban. Walaupun memang, bukan hanya rebahan saja…tapi perubahan. Berubah lebih bersihan, jadi sering-sering cuci tangan, sering memakai masker. Perubahan cara menyapa orang, berubah juga cara bekerja dan belajar.

Perubahan-perubahan sederhana yang tak mungkin kembali karena waktu. Setelah sebuah titik perubahan, maka mungkin saja datang titik balik. Sinar sempit, mungkin saja akan tergantikan dengan matahari. Ada aliran yang bergerak walau tak berbentuk, yakni kemudahan. Yang lama akan berhenti, lalu hilang tak tersisa. Yang baru akan terlahir. Keduanya lalu berpapasan pada titik temu di saat tertentu. Karena pasti ada luka yang ditinggalkan. Ada harapan mulai tumbuh.

***

Ah, hari ini gaduh sedikit, karena tetangga depan rumah sedang di karantina (ODP). Lalu, sudahlah aku pergi, ucapkan selamat tinggal. Bismillah, mulai perubahan diri tanpa kegaduhan.

rumahmediagrup/Anita Kristina

2 comments

Comments are closed.