CROWN SHYNNES

Crown Shynnes

Crown shyness adalah istilah untuk fenomena dimana pohon saling berdekatan, namun tidak saling menyentuh.  Istilah ini mengingatkan saya terhadap sesuatu hal yang tak akan pernah bercampur dan bersatu di dunia ini, yaitu haq dan bathil. Kita tidak bisa melakukan dua hal secara bersamaan karena hidup itu pilihan. Disaat memilih beriman maka disaat yang sama kita harus meninggalkan kekufuran. Apabila sudah memilih beriman kepada Allah maka disaat yang sama kita harus meninggalkan selain Allah. Disaat kita memiliki visi surga maka harus tinggalkan semua yang akan menjauhkan kita dari visi tersebut. Ketika kita melakukan perintah Allah berarti disaat yang sama kita harus tinggalkan laranganNya.  Semua pilihan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Kita hari ini terbentuk dari pilihan dimasa lalu.

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya …”(TQS Yunus [10]: 26)

“Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan…” (TQS. Yunus [10]: 27)

Dalam hidup, kita juga akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan dan harus memilih satu diantaranya. Disaat seseorang sudah memutuskan dirinya untuk hijrah maka itu adalah pilihan. Memilih yang satu berarti meninggalkan yang lainya. Tak akan mampu ia bertahan kuat jika dalam hijrahnya tetap bermaksiat, hanya akan membuatnya lelah, futur, mundur dan pada akhirny lenyap. Poinnya adalah harus fokus pada satu pilihan, jika kita fokus pada tujuan hidup bervisi surga maka kita akan mengabaikan seluruh hambatan dan rintangan yang ada.

Kita bisa belajar dari Rasulullah, manusia mulia kekasih Allah. Beliau tidak sembarangan dalam membuat pilihan. Rasulullah lebih memilih memperjuangan dakwah Islam dan mempertaruh nyawa dan menghabiskan seluruh hartanya hingga nikmat Iman itu sampai pada kita hari ini.

“Demi Allah, andai saja mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku (lalu mereka minta) agar aku meninggalkan urusan (agama) ini, maka demi Allah, sampai urusan (agama) ini dimenangkan oleh Allah atau aku binasa dijalannya, aku tetap tidak akan meningggalkannya” (HR. Ibn Hisyam)

Rasulullah fokus terhadap tujuan yang ingin diraihnya, tidak mau berkompromi dengan sesuatu yang akan mengagalkan misinya. Manusia mulia dengan jaminan surga dari Allah memilih tujuan luarbiasa, kita? Tak memiliki jaminan apapun, terkadang untuk belajar Islam saja masih banyak malasnya dan memiliki seribu alasan untuk tidak hadir. Benarkah kita menginginkan surga? Bukankah surga yang kita tuju sama dengan Rasulullah, lalu usaha apa yang sudah dilakukan? Kenapa masih lalai? Menjadikan kesibukan dunia alasan segalanya, percayalah itu semua tak akan pernah bisa melepaskan dahaga.

Rumahmediagrup/firafaradillah