Curhatan Emak-Emak Gaul

“Nda laper, pengen jajan.” Rengek Nizam pengen beli jajanan di luar. padahal kami sudah sarapan. Memang sudah terbiasa Nizam dan Nzariel jajan keliling malah sudah jadi langganan. Tukang jualan malah sudah hapal nama anak-anak di rumah, karena terbiasa jajan. Alhamdulillah selama ini mereka jajan tak pernah ada keluhan sakit atau keluhan apapun.

Kali ini aku prihatin sama tukang jualan keliling, tukang bubur kacang ijo biasa anakĀ² beli. Roti bakar biasa dibeli anak-anak untuk sarapan dan jajanan sore. Eh Karena kami mengisolasi diri. Kami tak berani untuk membeli jajanan dulu. Masak sendiri untuk sarapan dan makan. Walaupun masak ala kadarnya yang penting itu masakan sendiri.

“Teng, teng.” Nyaring sekali suaranya. Bunyi mangkuk kena sendok. Mungkin tujuannya agar kami mendengarnya. Namun kami hanya diam saja di dalam rumah. Dari awal tanggal 16 Maret hingga hari ini tanggal 22 Maret 2020, kami tak berani untuk keluar rumah sama sekali.

Kami sudah menyetok beras dan bahan makan yang sekiranya bisa dimasak. Kami sekeluarga mencoba mengisolasi sendiri, kami laksanakan program Lockdown dari pemerintah. Anak belajar dari rumah menggunakan google classroom dengan dipantau oleh orang tua. Begitu juga dengan kami, sebagai orang tua dan sekaligus guru kamipun memberikan tugas untuk siswa dan siswi dari rumah.

Kamipun melakukan Work from home karena untuk mengantisipasi penyebarluasan virus. Secara naluri kemanusiaan kami merasakan simpati terhadap Abang penjual keliling. Untuk menghidupi keluarganya mereka berjualan, mereka tidak memikirkan virus yang sedang menggoncangkan dunia. Ia tak menghiraukan keselamatan dirinya sedang terancam. Namun kamipun harus waspada dengan penjual keliling, khawatir dan menjaga dari segala hal.

Memang terkesannya kami berlebihan, dari dini hari kami buka mata hingga lembayung kuning terlihat, kami tidak keluar sama sekali. Semua ini kami lakukan untuk menjaga dari segala kemungkinan. Jika dikatakan nyaman atau tidak, bagaimanapun juga pasti jawabannya tidak nyaman. Namun kami tetap bersyukur masih bisa makan.

Masih banyak saudara-saudara kita di luar sana sedang berjuang meregang nyawa melawan virus covid-19. Berharap ada keajaiban semoga ini segera berakhir. Kami lantunkan doa di sela-sela ruku dan sujud, kami mengharapkan semua akan indah pada akhirnya.

Untuk Abang penjual keliling langganan Nazriel dan Nizam, maafkan kami bukan maksudnya kami tak mau membeli. Kami mau membeli, tapi kekuatan suara Nda lebih kuat dari suara cacing dalam perut kami. Padahal kami ingin jajan, akan tetapi Nda melarangnya. “Nda pelit banget siih, nggak tahu apa dede laper banget, ini perut bunyi terus.” rajuk dede sambil memegang perutnya.

“Perut, sabar ya. kamu jangan laper mulu. Ndanya sekarang pelit banget.” ucap Nizam ke perutnya sendiri. Ada lucu, kasian lihat Nizam begitu. Karena dibiasakan jajan di luar begini, saat tidak jajan dia akan menagih. Aku mencoba pelan-pelan menjelaskan bahwasannya kita sabar menahan untuk tidak jajan di luar.

Aku coba, mencari bahan di dapur. Siapa tahu ada bahan yang bisa dijadikan jajanan. Alhamdulillah ada puding agar-agar, yang belum dibuat. dengan semangat langsung aku buatkan puding agar-agar itu. Kasian anak-anak menjadi korban kemalasan Ndanya. Nda malas masak. hehehehe

rumahmediagrup/suratmisupriyadi