Curug Jenggala yang Memesona

Curug Jenggala yang Memesona

Libur tiga hari tanpa ada kegiatan, bagiku sangatlah membosankan. Minggu pagi, 4 April 2021, tercetus keinginan, kenapa nggak ngebolang saja? Yap, aku gagal ikut temanku ke Gunung Ciremai jalur Apuy, jadi kenapa tidak jalan-jalan sendiri saja? 

Tepat pukul 07.36 WIB meluncurlah motor metik hitamku menuju ke Purwokerto. Salah seorang kawan, bersedia menemaniku jalan-jalan. Dalam waktu satu jam, aku sudah ada di hadapan Sari, temanku itu.

“Gila, baru aja telpon, kok sudah sampe?” ujar Sari keheranan.

“Jalan 80-90 km/jam, ” ucapku.

Jarak kotaku, Cilacap, ke Purwokerto sekitar 60 km. Waktu yang kutempuh 1 jam. Lumayanlah.

“Mau kemana kita?”

Akhirnya, motor Sari memecah keramaian jalanan di salah satu sudut Purwokerto.

“Mana ajalah, yang enak buat ngobrol!” teriakku.

Setelah menitipkan motor di rumah salah seorang penduduk, kami pun segera berjalan. Rupanya Sari mengajakku ke Curug Jenggala.

Setapak yang kami lalui berbatu dan tertata rapi. Pepohonan dan rerumputan serba hijau bak permadani. Di sebelah kiriku, tampak sebuah bukit, Cendana. 

Cendana adalah sebuah bukit yang terletak di sebelah selatan lereng Gunung Slamet. Cendana biasa digunakan untuk kemping dan diksar (Pendidikan Dasar) pecinta alam. Deretan bukit-bukit berada di sekitar Cendana. Tahun berapa terakhir aku ke Cendana? Ah, lama sekali aku tidak kemping di sana.

Perjalanan menuju ke Curug Jenggala

Kami pun terus berjalan di antara hijaunya sawah dan rerumputan. Sesekali berhenti untuk mengambil gambar panorama yang menyejukkan mata. Berapa menit kemudian, sampailah kami di PLTA Ketenger. Lalu, kami pun berjalan mengitari PLTA karena pintu masuk Curug Jenggala ada di belakang PLTA.

PLTA Ketenger

Setelah membayar tiket sebesar Rp10.000,-perorang, kami pun mulai memasuki wisata alam yang sudah terkelola dengan baik. Terdapat beberapa spot untuk swafoto.

Meniti jembatan
Spot foto kekinian
Katanya tidak boleh ada bangunan permanen di sekitar sini

Saat sedang duduk beristirahat, seorang lelaki menyapa kami dengan ramah. Dialah Mas Rudianto. Beliau merupakan pengelola Curug Jenggala. Kami berbincang-bincang cukup banyak tentang curug ini. Ingin tahu kisah apa yang diceritakan Mas Rudi? Datang langsung saja, ya, pokoknya seru dan bikin penasaran hahaha ….

Mengorek sejarah Curug Jenggala dari Mas Rudianto

Usai berbincang-bincang dengan Mas Rudi, kami pun melanjutkan berjalan, karena curug berada di atas kami.

“Ada pantangannya, Mas? ” tanyaku sebelum pergi.

“Nggak boleh berenang di curug, Mbak,” jawab Mas Rudianto.

“Asiyaaap!” jawab kami kompak.

Bergaya kekinian di Curug Jengala

Masya Allah. Pujian pun terucap untuk Sang Maha Pencipta yang telah menciptakan Curug Jenggala sedemikian indah begitu kami tiba. Air deras mengalir tiada henti. Tentu saja kami tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengambil gambar. Namun, karena ada beberapa pengunjung lain, kami pun tak bisa lama-lama berada di dek berbentuk love itu.

Curug Jenggala merupakan air terjun setinggi kurang lebih 30 meter. Air terjun ini berada di kawasan Gunung Slamet. Oh ya, untuk mencapai puncak Gunung Slamet juga bisa melalui Baturraden. Sayang aku belum pernah melalui jalur Baturraden, tapi Bambangan lagi dan Bambangan lagi.

Sari pun tak mau kalah bergaya
Melihat tulisan ini merupakan tantangan bagiku

Saat itu waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB. Karena masih siang dan udara pun cukup bagus tidak mendung, maka kami berdua pun melanjutkan perjalanan ke Curug Penganten. Kata Mas Rudianto, 1 jam saja perjalanannya …. Ternyata, perjalanan ke Curug Penganten wow banget hahaha. Kapan-kapanlah kutulis.

Alhamdulillah, perjalanan ke Curug Jengala dan Curug Penganten ini cukup membuatku terhibur. Tak apalah tidak mendaki gunung hiks..

2 comments

  1. Keren wind…kamu memang berbakat ….Teruslah berkarya kawan…tulisanmu bisa membuat orang lain seakan larut dalam petualangan kita

    1. Terima kasih, Kawan. Engkau sudah cukup bagus menjadi guide-ku kemarin🥰

Comments are closed.