Dampak Berbagi Informasi Pada Pelaku Migrasi

sumber gambar : www.google.com

Dampak Berbagi Informasi Pada Pelaku Migrasi

Migrasi dan mobilitas indovidu ke daerah lain menciptakan pergeseran informasi. Individu tidak menawarkan pengetahuan/informasi secara gratis. Karena itu, pengetahuan informasi ini dapat dianggap sebagai transaksi bisnis. Selama proses tersebut, individu menggunakan informasi yang dia miliki secara diam-diam, tetapi mungkin juga dalam diamnya tersebut sebenarnya ia telah melakukan evaluasi nilai informasi yang ia terima. Independensi berpikir inilah yang membentuk juga pada proses transaksi bisnis pengetahuan/informasi.

Di sisi lain, semua pelaku migrasi membutuhkan banyak pengetahuan/informasi di daerah tempat tinggalnya yang baru. Kebutuhan pengetahuan informasi ini juga digunakan untuk mengenali adat istiadat, kebiasaan, serta budaya perilaku masyarakat daerah tujuan. Sangat penting untuk diketahui berbagai pengetahuan informasi dan bahaya moral atas konsekuensi jika tidak memahami daerah setempat. Fokus pengetahuan dan informasi yang harus dikuasai pendatang adalah aspek sosial ekonomi.

Pengelolaan pengetahuan adalah cara terpenting menemukan motivasi seseorang untuk berbagi informasi. Hal ini membutuhkan modal intelektual, dimaknai sebagai persediaan pengetahuan yang dimiliki pendatang pada suatu waktu. Modal intelektual ini bisa disebut sebagai informasi awal yang dimiliki pendatang sebelum benar-benar mengenal daerah tujuan. Pengelolaan pengetahuan sebagai proses dalam melakukan sosialisasi dan adaptasi terhadap pengetahuan informasi “diam-diam” yang disajikan oleh penduduk asli. Proses ini menjadi tantangan, karena jika menginginkan pengetahuan dan informasi, dan bukan asimetris informasi maka pendatang harus melakukan kerjasama, bertegur sapa, bahkan menumbuhkan kepercayaan pada penduduk asli.

Bukan hanya peran kepercayaan yang menjadi modal sosial, tetapi juga informasi berperan utama selama terjadinya pertukaran pengetahuan. Bagaimana terjadinya? Pertukaran pengetahuan mencirikan berbagi pengetahuan dan manajemen pengetahuan sebagai proses penciptaan, mengkodifikasi, dan menyebarluaskan pengetahuan. Pengetahuan itu dapat disebarluaskan. Tetapi ada beberapa pengetahuan dapat dihilangkan sebagai aspek yang subjektif, kontekstual dan sosial. Misalnya pada daerah tertentu dikenal dengan daerah yang tidak aman, maka dimungkinkan penduduk asli tidak menceritakan semua peristiwa dan bahkan bisa saja penduduk pendatang tidak mengetahui hal tersebut. Informasi tersebut dihilangkan demi kebaikan, agar penduduk pendatang tidak ketakutan. Kesengajaan menutupi informasi tersebut tergantung pada interpretasi atas informasi tersebut. Terdapat potongan informasi yang sama yang tidak ditampilkan sebagai pengetahuan. Hal ini sangat subjektif dan tergantung pada motivasi seseorang untuk berbagi atau mengetahuinya. Akibatnya, hanya beberapa informasi yang disebarluaskan adalah informasi yang dirasa individu tersebut sebagai pengetahuan atau hanya sebatas kepentingan pribadi.

Dengan demikian, pengetahuan muncul akibat transfer informasi, namun belum dapat dijamin pengetahuan tersebut benar atau tidak, tergantung informasi yang diterima dan dibagi. Dan individu penduduk asli tidak membagikan informasi secara gratis, tergantung pada subjektivitas kepentingan.

rumahmediagrup.com/Anita Kristina