Dapur Sang Bakul

Dapur Sang Bakul

“Yah, Bunda ada pesanan makanan hari Sabtu, lho.”

“Ayah kan mau ke Kluang, Bunda.”

Alamak! Saya lupa kalau suami saya akan berangkat ke Malaysia di hari Jumat pagi. Waduh! Bagaimana saya harus mengatur waktu antara memasak pesanan dan mengantar anak-anak Madrasah. Belum lagi, siapa yang akan membantu saya mengangkat barang-barang ke mobil? Berat, nih.

Beruntung anak-anak kami terbiasa mandiri. Mereka menenangkan saya dengan janji bahwa mereka bisa pulang dari madrasah sendiri. Kekhawatiran saya sebenarnya hanya pada si bungsu, yang petakilan selalu. Tapi saya percaya ia mampu.

Setelah memberi pengarahan di malam sebelumnya hingga pagi tadi, akhirnya saya menyelesaikan masakan secepatnya. Kemudian mengantar anak-anak berangkat madrasah, dan kembali ke rumah meneruskan pekerjaan.

Memasak memang bukan hal yang sulit dan rumit bagi saya. The after effect nya yang membuat saya seperti mau pingsan. Hahaha!

Sebagai penyedia jasa katering yang bekerja sendiri, saya memang selalu berusaha tepat waktu. Walau kadang juga terpaksa datang terlambat. Karena itu biasanya jika waktu saya tidak cukup, saya terpaksa meninggalkan dapur dalam keadaan bak kapal pecah. Berantakan tak karuan.

Jangan bayangkan dapur saya selalu kinclong mengkilat, ya. Terutama ketika harus mengerjakan pesanan makan. Maklum, saya mengerjakan semua sendiri. Mulai dari belanja, memasak, mengirim masakan, hingga mencuci tumpukan perabot kotor sisa memasak.

Beginilah tampak dapur saya sehabis memasak pesanan. “Kinclong”, kan? Hahaha!

Bundaaaaa! The washing machine is leaking!”

Ya, salaam! Mesin cuci bocor pula!

rumahmediagrup/rereynilda