Dera di Dunia Kala Jauh Dari-Nya – Bagian 2

Dera di Dunia Kala Jauh Dari-Nya – Bagian 2

Sebagaimana diulas sebelumnya bahwa orang yang jauh dari Allah, ia tidak akan merasakan nikmat dalam beribadah.

Dikisahkan pada satu malam, Abbad bin Bisyr tengah tenggelam dalam shalat, terbuai bersama kalamullah yang dilantunkannya. Malam itu ia mendapat giliran jaga bersama sahabatnya, Amar bin Yasir. Abbad terlena dalam kelezatan shalat, sehingga tak menyadari ada seseorang dari kejauhan bersiap-siap membidikkan anak panah kepadanya.

Tanpa dapat terelakkan, satu persatu anak panah yang diarahkan kepadanya itu pun menancap pada tubuhnya yang mulia. Amar bin Yasir yang semula tidur lalu terjaga, ia berseru keheranan manakala melihat ada tiga lubang bekas anak panah yang masih mengucurkan darah pada tubuh sahabatnya.

Subhanallah! Mengapa kamu tidak membangunkanku ketika anak panah pertama mengenaimu?” Serunya. Abbad bin Yasir dengan penuh ketenangan menjawab. “Aku sedang membaca Al-Qur’an di dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai. Demi Allah, kalaulah tidak karena takut akan menyia-nyiakan tugas yang dibebankan Rasulullah menjaga mulut jalan tempat kaum muslimin berkemah, biarlah tubuhku putus dari pada memutuskan bacaan dalam shalat.”

Begitulah gambaran tatkala kelezatan ibadah telah menyatu dalam jiwa dan raga, semua penderitaan menjadi ringan terasa, sebagaimana sahabat Abbad bin Bisyr yang lebih memilih meneruskan bacaan shalatnya shalatnya ketimbang memedulikan rasa sakit akibat anak panah yang menancap pada tubuhnya.

Kelezatan iman adalah kelezatan tertinggi, manisnya tidak akan pernah sebanding dengan kenikmatan jasadi. Terkadang, meski apa yang semestinya nikmat dikecap secara jasadi, namun oleh karena secara ruhiyah dalam kondisi hampa, maka kenikmatan jasadi tersebut tidak berbuah kelezatan dan sebaliknya.

Ibnu Qayyim rahimahullah bertutur, “Allah menjadikan ketaatan kepada-Nya sebagai penyebab turunnya nikmat, dan menjadikan kemaksiatan sebagai penghalangnya.” Untuk memperoleh kelezatan dalam beribadah, maka mutlak diperlukan kedekatan kepada Allah, karena rasa nikmat adalah anugerah-Nya dan Dia tidak akan menancapkannya pada hati yang jauh dari-Nya.

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: Pixabay