Derita Selama Tujuh Belas Tahun Lamanya (Bagian 1)

Derita Selama Tujuh Belas Tahun Lamanya
(Bagian 1)

Oleh : Ribka ImaRi

Siang itu matahari bersinar dengan teriknya. Gemerisik daun pohon ketapang yang berada di luar jendela kelas, saling menyapa seraya ditiup angin. Suara riuh rendah siswa dan siswi berseragam putih biru di kelasnya membuat perutnya semakin nyeri hebat.

Gadis remaja berambut panjang sepunggung itu akhirnya menelungkupkan kepalanya di meja kelasnya. Namun, tiba-tiba ia berdiri dan berlari secepat kilat menuju kamar mandi yang berada di ujung lorong sekolahnya. Rasa mual yang dirasakan sudah sampai di ujung tenggorokan. Ia sudah hapal. Sebab ini bukan yang pertama kalinya. Jika telat sedetik saja, membuncahlah semua isi perutnya keluar dari mulut. Pastilah ia akan malu dihadapan teman-teman sekelasnya.

Dengan sekuat tenaga tangan kanannya menahan muntah yang hampir berhamburan. Tangan kirinya meremas perutnya yang sakit tak tertahankan lagi. Hingga akhirnya sampai juga ia di kamar mandi.

Tubuh mungilnya terhuyung. Dengan sisa tenaga yang ada, dirambatinya dinding kamar mandi sampai mendekati lubang WC. Akhirnya … lega …. Semua keluar pada tempatnya.

Meski sepertinya semua sudah keluar, tetap saja masih menyisakan nyeri luar biasa. Perutnya bagai diperas seperti cucian baju yang hendak dijemur. Sekaligus dipelintir supaya airnya tidak menetes lagi sehingga bisa cepat kering. Bahkan perumpamaan tersebut tak bisa melukiskan rasa sakit di sekujur tubuh gadis ceria itu.

Bulir keringat sebesar biji jagung mengalir deras membasahi wajah imut, rambut di kepala dan seluruh badannya. Bibirnya yang mulai membiru sedang merapal doa mohon ampun karena rasa sakit yang sungguh menyiksa.

Tangan dan kakinya dingin seketika. Membuatnya menggigil ditengah cuaca yang panas. Karena jam dinding di kelasnya tadi sudah hampir menunjukkan pukul 12 siang.

Tak kuat lagi menahan serangan bertubi-tubi. Akhirnya tubuhnya terkulai lemas tak berdaya di pojok kamar mandi. Setelah muntah tak berjeda selama bermenit-menit. Mengeluarkan semua yang sudah dimakannya saat sarapan tadi pagi. Meski tampaknya semua isi perutnya sudah keluar semua, tetapi kontraksi muntahnya tetap berlanjut.

Sejenak gadis itu ingin memejamkan mata lebarnya. Ia ingin sekali tertidur sebentar saja. Meski ia tahu itu tak mungkin. Tapi dilakukannya demi membuatnya sedikit merasa lebih nyaman.

Ia tak lagi peduli jika ada siswi lain mendapatinya tertidur meringkuk di kamar mandi sebuah sekolah menengah pertama di bilangan Meruya Utara, Jakarta Barat pada tahun 1994. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya.

(Bersambung)

-Ribka ImaRi-

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#RumediaNubarBla
#menulismengabadikankebaikan
#RNB33
#week4
#day2
#temabebas

sumber foto : https://m.viva.co.id/amp/blog/kesehatan/718356-ini-obat-tradisional-untuk-atasi-sakit-perut-pada-anak

Kisah nyata penulis mengalami nyeri haid hebat selama 17 tahun lamanya. Karena mengidap kista endometriosis sejak tahun 1994-2011. Lanjut PMS dan nyeri haid selama 25 tahun (1994-2019). Baru benar-benar sembuh tanpa PMS dan nyeri haid selama 3 bulan terakhir.

Penulis sekaligus mentor Kelas Mengasuh Inner Child, akan mengadakan Kulwap Gratis “Mengasuh Diri Sendiri Saat Mengalami PMS dan Nyeri Haid”, pada:

Hari: Minggu, 29 Desember 2019

Pukul: 19-21

Untuk bergabung, silakan klik tautan ini https://chat.whatsapp.com/CNLGoIGwRnSKyseZOeZqhM

rumahmediagroup/ribkaimari