Derita Selama Tujuh Belas Tahun Lamanya (Bagian 2-Tamat)

Derita Selama Tujuh Belas Tahun Lamanya (Bagian 2-Tamat)

Oleh : Ribka ImaRi

(Bagian 1) https://wp.me/p8793X-2EZ

“Kasihan kamu, Nok. Buat Mama saja sini sakitnya.” Wanita berusia hampir setengah abad itu sungguh tak tega melihat penderitaan putri ketiganya yang baru beranjak remaja.

Sungguh, tak ada jeda sama sekali. Bahkan sekadar air putih yang masuk pun sudah dapat dipastikan akan segera dimuntahkannya lagi. Sehingga mengharuskan ada ember di samping tempat tidur. Demi menampung muntahan si gadis bertubuh mungil yang baru saja naik kelas 2 SMP.

Bulan berganti bulan. Bahkan tahun berganti tahun. Selalu saja menghadapi keadaan yang sama. Pernah satu kali ia dibawa berobat oleh sang mama. Lalu dokter umum memberinya obat penghilang nyeri. Tapi tak banyak membantu. Saat datang siklusnya di bulan berikutnya, ia tetap serangan yang seolah melumpuhkan hidupnya.

Ya, dalam waktu seharian–dimulai subuh sampai magrib– ia tidak bisa beraktivitas sama sekali selain berbaring dan muntah. Bahkan untuk BAK (Buang Air Kecil) ia harus merangkak ke kamar mandi yang berjarak 3 meter saja dari kamarnya.

Rasa takut yang begitu kuat akan mengalami serangan tak tertahan membuatnya tak ingin lagi nekat pergi ke sekolah.

“Ya, Tuhan sampai kapan seperti ini? Rasanya aku sudah tak sanggup.…” gumamnya lirih.

***

Selama 17 tahun lamanya, sejak tahun 1994 hingga tahun 2011, nyeri haid hebat pernah membuatku ingin bunuh diri saja rasanya. Karena benar-benar tak terlukiskan dan tak terkatakan sakitnya yang disebabkan oleh kista endometriosis sebesar 6,5 cm. Nyeri haid kronis ini pernah membuatku depresi.

Aku berobat ke sana ke mari. Aku mencari tahu tentang sakit yang kuidap selama belasan tahun. Namun saat itu, mencari informasi tak seperti zaman sekarang yang semudah di genggaman tangan. Memang aku mendapat informasi dari dokter kandungan yang aku kunjungi, tetapi hanya sekilas-sekilas saja.

Sampai akhirnya, aku bisa mendapat informasi valid dari bacaan yang aku peroleh dari brosur kesehatan. Yang akhirnya, sekarang bisa aku peroleh dengan mudah dari mengakses situs kesehatan.

Pada orang dengan kista endometriosis, darah yang harusnya dikeluarkan malah kembali ke rahim, melewati tuba fallopi, dan akhirnya masuk lagi ke ovarium. Semakin banyak aliran darah yang masuk, maka semakin mungkin endometrioma terbentuk dan membesar. Lama-kelamaan kista cokelat ini akan semakin besar dan bisa pecah. (Shabrina, Andisa. 2018. Sering Nyeri Saat Haid? Hati-hati, Bisa Jadi Kista Endometriosis. https://www.google.co.id/amp/s/hellosehat.com/pusat-kesehatan/nyeri-kronis/kista-endometriosis-adalah/amp/. Diakses 25 Desember 2019).

Mengerikan! Demi mendapat penjelasan tentang sakitku di atas. Dulu, dari sembilan dokter kandungan yang aku kunjungi dalam rentang waktu 8 tahun (2003-2011), ketika aku bertanya tentang obat apa yang benar-benar bisa membuatku sembuh total, semuanya menjawab, “Obatnya hamil.”

Jika kamu sedang mengalami endometriosis, maka kemungkinan untuk sembuh saat hamil memang ada. Dijelaskan di Health Line, saat hamil maka perempuan akan menghasilkan hormon progesteron. Hormon inilah yang akan menekan atau bahkan menyusutkan pertumbuhan endometrial. Bahkan, sintesisnya yang bernama progestin biasanya dipakai untuk merawat perempuan dengan endometriosis. Dilansir dari Medical News Today pengobatan dengan hormon progestin dapat mengurangi sakit karena endometriosis pada sekitar 90% perempuan. Itulah alasan kista jenis ini dapat disembuhkan dengan cara hamil hingga melahirkan. (Arum, Nurma. 2019. Benarkah Kista Bisa Disembuhkan dengan Kehamilan? Jangan Salah Kaprah, Ini Penjelasan Medisnya. https://www.hipwee.com/young-mom/kista-sembuh-kehamilan/. Diakses 25 Desember 2019).

Singkat cerita, aku menikah di Agustus tahun 2010. Kemudian menjalani berbagai rangkaian pemeriksaan kandungan, akhirnya aku bisa hamil di pada Agustus 2011. Mukjizat Allah Yang Maha Kuasa, kistaku bisa sembuh karena hamil. Sujud syukur tiada terkira atas anugerah Allah yang luar biasa.

Seumur hidup selama 17 tahun menjalani fase menstruasi, akhirnya aku bisa merasakan kelegaan hidup karena menstruasi tanpa nyeri haid hebat. Aku ingat betul hari bersejarah itu di tanggal 28 Juni 2011 adalah hari terakhir aku menstruasi sebelum dinyatakan hamil.

Akan tetapi fase unik menstruasiku tak berhenti sampai di tanggal tersebut di atas. Selanjutnya aku menyadari bahwa justru fase PMS (Premenstrual Syndrome) yang aku alami luar biasa menguras emosi dan kembali menghadirkan nyeri haid (dismenore) meski tak sehebat nyeri pada saat sebelum hamil.

Fase PMS ini, pada akhirnya membantu mengirim sinyal tubuh padaku bahwa ada yang tidak beres dengan jiwaku. Ya, sekitar 4 tahun lalu, di tanggal 10 November 2015 aku mengalami kejadian terpuruk akibat emosi meledak-ledak. Emosi yang hampir menghancurkan diriku sendiri dan kedua anakku yang baru berusia batita dan belum genap baduta. Setelah aku telusuri penyebab PMS dan nyeri haidku ini melalui teknik Kupas Bawang dari Mindfulness Parenting selama 3 tahun terakhir, mengupasnya satu per satu lapisan ternyata ada hubungannya antara PMS dan nyeri haid yang memicu depresi atau sebaliknya, depresi justru menyebabkan PMS dan nyeri haid.

Setelah Cerita selengkapnya akan kutulis dipostingan selanjutnya sampai akhirnya aku bisa terbebas dari PMS dan nyeri haid sekaligus merasa sembuh dari depresi dan bipolar yang sepertinya kuidap sejak masih duduk tingkat SD.

-Ribka ImaRi-

***

Penulis sekaligus mentor Kelas Mengasuh Inner Child, akan mengadakan Kulwap Gratis “Mengasuh Diri Sendiri Saat Mengalami PMS dan Nyeri Haid”, pada:

Hari: Minggu, 29 Desember 2019

Pukul: 19-21

Untuk bergabung, silakan klik tautan ini https://chat.whatsapp.com/CNLGoIGwRnSKyseZOeZqhM

rumahmediagroup/ribkaimari