Di Antara Corona, Harus Tetap Cinta

Sumber gambar : dokumentasi penulis

Di Antara Corona, Harus Tetap Cinta

Happy wedding anniversary, mama dan papa!”, kehebohan kakak dan adik bersuara keras dalam heningan subuh. “ Wow…apa ini?” seakan kami kaget, padahal kami sudah menduga. Kejutan seperti ini sering kami dapatkan dari mereka. Putri kami yang sangat perhatian. Senyum dan tawa kami buat seakan kami kaget, biar mereka senang saja, ha..ha..ha…

“Ayo, tiup lilin dan maem kuenya” kata mereka hampir serentak. “Ok!” kamipun menjawab hampir bersamaan.

Ya, sebuah kue sederhana. Roti tawar berlapis selai strawberry, bertaburkan coklat kecil-kecil. Dan berbentuk love. “Cantik banget, terimakasih kesayangan,” kataku kencang sambil cium mereka satu persatu.

“Ini dari kami berdua ya, ini juga” sebuah tulisan dalam kertas. Ucapan happy wedding anniversary, yang lucu. Lalu, mereka seperti biasa membawa kertas itu, dan menempelkan di tembok kamar. Ya, seperti tahun lalu, berderet ucapan yang tertulis dengan lucu.

Ah, pagi ini kami saling menyemangati. Banyak kemungkinan yang tak bisa kami lakukan di saat moment spesial ini. Nggak enak memang, tapi menerima keadaan ini adalah keharusan. Ulang tahun pernikahan kali ini berbeda. Unik. “ Karena corona masih saja bergentanyangan di dunia ya, sedih dech nggak bisa makan di luar”, kata adik memelas.

Dari obrolan kami pagi ini, ternyata respon kami berbeda tentang situasi ini. “Papa, yang paling pusing mungkin ya. Kebiasaan mengajar dilakukan tiap hari melalui daring, pagi sampai malam masih ada kelas ya pa?” tegas si kakak dengan seriusnya. Mama dan papa harus tiap hari mengajar melalui video teleconference atau webinar. Semua jadi tegang saat si internet mulai merengek minta pulsa.

Padahal, saya dan si papa adalah generasi kekinian, yang setiap hari harus bekerja dengan teknologi. Tapi, memang kami masih butuh ruang beradaptasi.  Sangat berat, berat di ongkos…he..he..he…

Yang lucu adalah mereka tuch, si kakak dan adik. Rasanya mereka happy sekali di rumah.”Belajar di rumah sangat menyenangkan” kata kakak, dan adikpun mengiyakan setuju. Video call dengan guru, mengerjakan tugas dengan video dan foto sangat mereka nikmati. Hmmm, kenapa demikian? Ya karena memang mereka generasi kekinian, teknologi yess, kuper no!. Mereka bahkan tidak bisa belajar tanpa internet. Mereka berkarya dengan internet. “Fun saja” kata mereka senang.

Situasi karena corona ini sangat unik, menarik. Mempertegas bahwa kami harus saling menyemangati. Seperti ultah pernikahan kali ini, tetap di rumah. “ Dan saling mencintai ya!”, saut mereka kompak. Dan kitapun saling peluk.

20 April 2020. Pagi yang menyenangkan. Tanpa perayaan. Tapi tetap dengan saling cinta.

Rumahmediagrup/Anita Kristina