Di Mana Bumi Dipijak, di Situ Langit Dijunjung

Di Mana Bumi Dipijak, di Situ Langit Dijunjung

“Komunitas A berlaku peraturan bla bla bla, kenapa di komunitas B tidak begitu?”

“Saya kurang sreg dengan komunitas X karena bla bla bla, dan lebih sreg dengan komunitas Y karena bla bla bla dan seterusnya.”

Ada orang-orang yang sibuk membicarakan satu komunitas di dalam komunitas lainnya. Sibuk membanding-bandingkan aturan-aturan yang berlaku di masing-masing komunitas. Bila mendiskusikannya lewat japri, dengan teman-teman terdekat dan terpercaya, mungkin sah-sah saja dilakukan. Takkan ada yang merasa tersinggung atau terusik.

Beda halnya dengan ketika kita melakukannya terang-terangan. Diekspos di medsos. Di semua akun yang kita punya. Hati-hati, lho, Sobat. Jika ada pihak yang tersinggung, bisa jadi omongan kita akan dianggap hoax, ujaran kebencian, omongan yang memprovokasi, dan tudingan-tudingan negatif lainnya.

Saat ini, banyak sekali hal-hal yang semula dianggap sepele, ternyata malah berkembang menjadi besar dan kian memanas. Jangankan mereda, yang ada justru semakin berkembang. Di era teknologi makin canggih sekarang ini, nyatanya tak membuat perilaku manusia semakin canggih alias makin beradab. Yang ada makin ajaib dan makin biadab. Karena gara-gara beda pendapat sedikit, lalu saling serang, saling mem-bully, hingga berakhir di polisi.

Sekalipun kita saat ini lebih banyak dan aktif berinteraksi di dunia maya, tak ada salahnya bila tetap memberlakukan yang namanya “etika dalam bertutur kata dan perilaku”. Ibarat kita masuk ke dalam sebuah rumah milik orang lain, tentunya ada peraturan dan tata tertib yang diberlakukan oleh si empunya pemilik rumah. Pasti sang pemilik rumah juga ingin setiap orang yang masuk ke dalam rumahnya mentaati peraturan yang ada.

Coba kita bayangkan apa yang akan terjadi bila seorang tamu masuk ke dalam rumah seseorang tetapi berlaku seenaknya? Ikut makan bersama tuan rumah, memakai baju tuan rumah, tidur di tempat tidur pribadi si pemilik rumah, dan sebagainya. Pemilik rumah pasti tidak akan menyukai perilaku sang tamu tersebut, bukan? Pasti rasanya ingin menegur atau bahkan mengusirnya keluar dari rumah saat itu juga. Untuk selanjutnya, pemilik rumah tidak akan mau lagi menerima tamu semodel itu.

Begitu pula ketika kita berada di dalam suatu komunitas di mana ada orang lain sebagai pemiliknya. Akan ada peraturan-peraturan yang dibuat, disepakati dan harus ditaati. Ada juga sanksi atau hukuman bagi yang melanggar peraturan-peraturan tersebut. Sahkah demikian? Tentu saja.

Sumber gambar : koleksi pribadi

Jika kita memasuki suatu komunitas, maka sudah seharusnya untuk mengikuti aturan main yang ada di dalamnya. Bila kita melanggarnya, secara sadar, maka pasti akan ada hukumannya. Adapun bentuk hukumannya seperti apa, itu semua terserah kepada tuan rumah. Kita tidak berhak untuk protes apalagi berupaya menggantinya agar sesuai dengan keinginan kita.

Lalu pantaskah jika kita masuk ke dalam suatu komunitas, kemudian melakukan kesalahan fatal hingga harus mendapatkan hukuman tetapi kita malah balik menyerang komunitas tersebut? Secara etika, hal tersebut sebetulnya tidaklah pantas. Sudah berbuat salah masih saja merasa paling benar dan tidak mau disalahkan? Wah, wah, sebaiknya belajar kembali tentang etika berperilaku di dalam masyarakat.

Saat tamu tidur di kamar pribadi pemilik rumah, mengenakan pakaian pemilik rumah tanpa seizin empunya, apakah hal tersebut benar? Bolehkan sang pemilik rumah menegur si tamu? Bolehkah si pemilik rumah mengusir tamu tak beradab tersebut dan melarangnya untuk bisa masuk kembali? Tentu saja boleh.

Bagaimana jika sang tamu ingin kembali masuk ke dalam rumah? Ya berubah menjadi lebih baik. Meminta maaf kepada pemilik rumah dan memperbaiki sikapnya. Dijamin si pemilik rumah mungkin akan mempertimbangkan agar tamunya diizinkan untuk masuk kembali ke dalam rumahnya.

Pada akhirnya, dalam menjalani peran sebagai makhluk sosial di masyarakat, kita perlu menjaga segala tindak tanduk diri sendiri saat bersosialisasi. Tujuannya agar di manapun kita berada, selalu menjadi sosok yang disukai. Bukan dibenci.

Di mana kaki berpijak, di sana langit dijunjung. Di mana saja kita berada, maka aturan yang berlaku harus kita taati dan ikuti. Semudah itu. Tidak sulit untuk dilakukan.

Siap bersosialisasi di mana saja? Maka mari jaga segala perilaku kita. Selamat berbaur dan bergaul seluas-luasnya.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah