Di Sepertiga Malam

Di Sepertiga Malam

“Aku mau menikah lagi, Dik.”

Kalimat itu seakan tak pernah ingin aku dengar keluar dari mulut suamiku. Suami yang selama dua belas tahun lamanya membangun bahtera pernikahan dengan penuh perjuangan.

Jatuh bangun menata perekonomian yang kami mulai dari nol. Saling menguatkan kala kondisi kesabaran sudah di titik nadir. Mendidik kedua putra putri kami dengan penuh kasih sayang.

Semua itu telah mampu kami lewati dengan pengorbanan yang besar. Meniti anak tangga hingga kini bukanlah waktu yang sebentar. Lalu, haruskah aku rela mengizinkan suamiku untuk menikah lagi?

Air mata sudah jatuh tertumpah. Tak kuasa kutatap lelaki yang selama hidupku hanya ingin aku berlabuh di dadanya.

“Maafkan Mas, Dik. Mas tak kuasa menahan rasa ini untuk perempuan yang sering Mas temui dalam pertemuan kajian rutin itu. Mas bersimpati akan hidupnya.”

Bersimpati bukan berarti harus menikahi bukan? Tak cukup kuatkah ia menahan rasa terhadap perempuan lain? Ataukah rasa cintanya terhadapku sudah berkurang banyak?

Rasanya hancur hati ini mendengar penuturan suamiku yang dengan teganya mengatakan ingin menduakanku. Apa kurangnya diriku dalam melayaninya selama ini? Kurang sabar apa aku menjalani biduk rumah tangga dengannya?

Tubuhku bergetar. Tak terasa tangisku begitu kerasnya hingga tak hanya mengguncang batinku, akan tetapi mengguncangkan pula seluruh tubuhku. Pikiranku seketika tertutup kabut gelap. Tak bisa berpikir, tak juga mampu berbicara.

“Jika Adik mengizinkan, aku akan mengkhitbahnya segera.”

Sudah sejauh itukah pikirannya? Memutuskan sendiri apa maunya. Lalu, bagaimana jika aku tak mengizinkannya untuk menikah lagi? Akankah ia tetap memaksa?

Duh Gusti, salahkah jika aku menolak permintaannya kali ini? Tak pernah sekali pun aku menolak keinginnannya selama kami hidup berumah tangga. Berdosakah aku jika kali ini aku tak mengikuti kemauannya?

“Dik….”

“Aku tak mau dimadu, Mas,” ucapku dalam sela tangis.

Hanya kata itu yang meluncur dari mulutku. Yang mampu membuat mas Dimas bungkam sesaat.

Ia menarik napasnya dalam, kemudian membuangnya perlahan.

“Jangan hadapkan aku pada pilihan yang sulit, Dik,” ucapnya bersikeras.

Mas, jika aku memintamu memilih, memangnya kamu akan lebih memilihnya ketimbang aku?

Jangan lakukan itu, Mas. Perempuan itu hanyalah pendatang dalam kehidupan rumah tangga kita. Sedangkan aku, sudah dua belas tahun mendampingimu dengan penuh rasa sabar. Melahirkan anak-anak yang membanggakan. Masih kurangkah semua itu bagimu, Mas?

“Jika kamu bersikeras dengan pendirianmu, mohon maaf, dengan atau tanpa izinmu, aku akan tetap melakukan khitbah dengan Larisa.”

Ucapanmu semakin menggoncangkan pertahanan yang selama ini kujaga sedemikian rupa agar tak tergoyahkan oleh badai yang menerpa. Kini, tak bisa kupertahankan lagi apa yang aku miliki. Kamu sudah memilih. Akan percuma jika aku tetap mencegahmu.

“Kalau begitu, mohon maaf juga, tolong ceraikan aku,” kataku akhirnya.

Ada rasa perih ketika mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang paling Allah benci. Dan aku pun mengutuknya saat kalimat itu telah terucap dari mulutku.

Namun, aku tak bisa menariknya lagi. Sekali terucap, pantang bagiku untuk menariknya kembali. Dan setelah merenung sesaat, aku pun tak menyesali perkataan itu.

“Kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu itu, Dik?” tanyanya memastikan.

“Ya, aku sungguh-sungguh, Mas,” ucapku sembari mengangguk.

Mas Dimas tampak terdiam. Menatapku lekat seperti ingin membujukku agar aku tak memintanya untuk bercerai. Tapi, keputusanku sudah bulat, jika ia pun sudah bulat dengan keiingannya untuk menikah lagi, maka aku pun akan memintanya untuk menceraikan aku.

“Sudah dua belas tahun kita membangun rumah tangga kita, Dik. Haruskah semua itu berakhir sampai di sini?”

Aku mendengus kesal. Sungguh egois pemikirannya. Ia ingin memiliki dua perempuan sekaligus dalam hidupnya? Tanpa memikirkan perasaan istri yang selama ini setia mendampinginya.

“Ya, Mas. Sudah dua belas tahun kita hidup berumah tangga. Melewati semua kepahitan yang pernah ada berdua. Hingga kita merasakan kebahagiaan yang hakiki, saat anak-anak sudah mulai tumbuh besar. Lalu, begitu sajakah kau lupakan semua itu dengan menghancurkan hatiku.”

“Arini….”

“Sudahlah, Mas. Jika kau memang bersikeras ingin menikahi perempuan itu, aku ikhlas kau ceraikan.”

“Kau tidak memikirkan anak-anak kita, Dik.”

“Apa pernah kau juga berpikir, saat kau memutuskan untuk menikahi perempuan itu, bagaimana perasaan anak-anakmu. Bisakah mereka menerima ada perempuan lain dalam hidup ayahnya?”

“Kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik, Dik. Aku ingin kita bisa membangun keluarga yang harmonis, meski aku harus beristri dua.”

Aku tertawa sinis.

“Kau sangat egois, Mas. Menginginkan keluarga yang harmonis katamu? Aku tidak ridho membagi suamiku dengan perempuan lain, Mas. Bagaimana aku bisa menjalani rumah tangga yang harmonis denganmu dan perempuan itu?”

“Banyak suami yang beristri lebih dari satu, dua, tiga, bahkan empat, tapi mereka bisa akur, hidup mereka bisa harmonis.”

“Mungkin mereka bisa seperti itu, Mas. Tapi maaf, hatiku tak sekuat itu. Aku lebih baik tak memiliki suami jika harus dimadu.”

“Jadi, kau akan tetap dengan keputusanmu itu, Dik? Kau yakin?”

Aku diam sesaat. Mencoba mengumpulkan kekuatan untukku bisa mengatakan itu dan siap menjalani hidup tanpa suami.

“Aku yakin, Mas.”

Dimas menghela napas panjang. Ia tak berkata apa-apa lagi setelah itu. Kami diam dalam pikiran kami masing-masing. Meski sangat sulit, aku harus menerima keputusanku sendiri. Walaupun sakit, aku harus merelakan kenyataan jika suamiku lebih memilih perempuan itu dibanding diriku.


“Dik…Dik…bangun, Dik.”

Panggilan itu semakin jelas di telingaku. Tangan kekar itu pun semakin mengguncang keras bahuku. Lamat-lamat kubuka mata perlahan. Tampak mas Dimas tengah duduk di sisi tempat tidur.

“Kenapa kamu menangis, Dik?” tanyanya khawatir.

Aku menyapu air yang membasahi mataku. Kutatap lekat wajah suamiku. Segera ia mengambilkan segelas air yang berada di atas nakas, tak jauh dari tempat tidur.

Ia memberikannya padaku. Aku menerimanya, dan meminumnya hampir habis separuhnya. Kemudian mas Dimas mengambil lagi gelas itu dan menyimpannya kembali di tempat semula.

“Aku hendak membangunkanmu untuk menunaikan sholat tahajud bersama, tapi aku melihatmu menangis kesakitan. Kau mimpi apa, Dik?”

Mimpi? Jadi obrolan aku dengan mas Dimas itu hanya mimpi? Lalu, keinginannya untuk menikah lagi? Apa itu juga bagian dari mimpi?

“Dik?”

“Mas, apa kau akan menikah lagi?” tanyaku tanpa basa-basi.

Mas Dimas tersenyum lebar. Ia memijit hidungku agak keras. Aku meringis.

“Ngawur kamu, Dik. Kamu itu mimpi apa toh, sampai membuatmu bertanya seperti itu?”

“Aku mimpi kalau Mas mau menikah lagi.”

“Itu hanya mimpi, Dik.”

“Jadi benar, Mas tidak akan menikah lagi?”

“Benar, Dik. Perempuan yang aku cinta dalam hidupku ya cuma kamu seorang, Arini Larasati.”

“Lalu, perempuan yang biasa Mas temui di kajian rutin itu, bagaimana?”

“Siapa toh?”

“Larisa.”

“Oh, Larisa. Bukankah tadi siang aku sudah ceritakan padamu siapa itu Larisa? Dia itu perempuan yang baru ditinggal suaminya meninggal, dia akan menginvestasikan uang warisan almarhum suaminya di perusahaan travel kita, untuk membuka cabang baru di kota Jogja. Kamu ingat ‘kan?”

Aku mencoba mengingat obrolanku dengan mas Dimas tadi siang mengenai Larisa. Dan memang benar apa yang dikatakan suamiku. Larisa, salah satu jamaah kajian islami yang diadakan suamiku itu baru ditinggal pergi suaminya yang meninggal karena serangan jantung.

Suaminya yang pejabat pertamina itu memiliki warisan yang cukup banyak. Dan Larisa berniat untuk menginvestasikan sebagian warisannya untuk bekerja sama dengan mas Dimas, membuka cabang travel kami di Jogjakarta.

Mungkin, aku yang sudah berpikiran yang tidak-tidak, sehingga akhirnya terbawa dalam mimpiku.

“Ayo, ambil air wudhu sana, kita sholat tahajud berjamaah. Kita minta sama Gusti Allah, agar kita terhindar dari perbuatan-perbuatan buruk,” titah mas Dimas menyadarkan lamunanku.

“Mungkin aku hanya takut, Mas.”

“Takut kenapa?”

“Aku takut kalau Mas tergoda dengan perempuan itu.”

“Astagfirullah, Dik. Makanya, perbanyaklah istigfar, memohon pada Allah, agar kita dijauhkan dari prasangka-prasangka buruk. kita perbanyak berdoa saja ya.”

“Aku takut Mas menikah lagi.”

“In Sya Allah, tidak. Kita berdoa saja agar rumah tangga kita selalu dalam lindungan-Nya. Selalu sakinah, mawaddah dan warrohmah hingga ke surga-Nya nanti.”

“Aamiin.”

Aku beranjak dari tempat tidur dan segera mengambil air wudhu. Kukenakan mukenah dan kugelar sajadah di belakang mas Dimas yang sudah menantikanku.

Kami khusyuk menjalankan titah Allah untuk melaksanakan sholat tahajud di sepertiga malam, diakhiri dengan sholat witir.

Kucium tangan Mas Dimas. Aku menangis, masih menggenggam tangannya.

“Maafkan aku, Mas. Karena telah berprasangka buruk padamu, meski itu hanya lewat mimpi.”

“Aku sudah memafkanmu sebelum kau memintanya, Dik. In Syaa Allah, Mas akan menjaga fitrah Mas sebagai suami untuk selalu melindungi dan mencintaimu sebagai istri hingga akhir hidup Mas, Dik.”

Setelah berkata begitu, Mas Dimas mencium keningku, dan meniupkan di ubun-ubunku sholawat yang biasa dilakukannya. Kemudian ia merengkuhku ke dalam pelukan hangatnya.

Cerita yang pernah ditulis 22 Februari 2019 dan pernah dipost di akun Facebook dan Wattpad.

rumahmediagrup/bungamonintja