Dia Istimewa (1)

Dia Istimewa (1)

Namanya Muhammad Fadhil.
Hanya dengan sekilas menatap garis bibirnya tersenyum dengan baris gigi tertata rapi, aku langsung jatuh cinta.

“Ini warna apa Fadhil?” Tanganku menunjukkan kubus berwarna kuning.

Mata Fadhil menatapku lama, bibirnya tersenyum, “Kenapa bertanya Bu ?,” tangannya memegang tangan kanan ku yang tengah menunjuk kubus, “Bu guru tidak mikir, ini warna kuning.”Fadhil menghentikan suaranya sambil tersenyum penuh kemenangan. Aku tergelak, menatap Bu Dwi yang tengah tersenyum simpul.

30 menit menjalankan assessment bersama Fadhil dipenuhi dengan senyum sesekali gelak tawa.

Kemampuan Fadhil menjawab pertanyaan sangat bagus, Fadhil selalu balik bertanya “mengapa” atau “kenapa”.
Sebuah kata yang jarang diucapkan oleh peserta didik dengan hambatan intelegensi. Biasanya mereka cukup bertanya dengan kata ”apa” dan aku sebagai gurunya akan menjawab dengan kalimat singkat.
Hasil assessment menunjukkan kemampuan motoriknya juga cukup bagus, ini ditunjukkan dengan ia dapat memegang pensil, berdiri dengan satu kaki dan berlari. Fadhil dapat mengikuti seluruh perintah dengan baik, hingga pada…”Fadhil, tolong ambilkan pensil itu!” Tangan Bu Dwi menunjuk pensil yang berada di dekatnya duduk.

Fadhil menatap pensil dan Bu Dwi bergantian, tangannya diam. Seakan enggan mengikuti perintah. “Kenapa harus aku?” Mata sayunya menatap Bu Dwi, “aku tidak mau.”

“Kenapa tidak mau?” Bu Dwi menatap Fadhil tajam.

“Kenapa harus aku?” Fadhil terlihat mengunci mulutnya, bibirnya mencibir. “Kenapa harus aku Bu? Aku tidak mau disuruh-suruh.” Wajah putih Fadhil memerah, tangannya bergerak mengguncang tangan Bu Dwi “kenapa harus aku”, “kenapa harus aku.”

Tiba-tiba fadhil menjatuhkan semua benda di meja assessment. Ia terlihat emosi, tangannya berulang kali mengguncang tangan Bu Dwi keras. Bu Dwi terlihat kaget, kami sama-sama tidak menyangka emosi Fadhil cepat tersulut. “Kenapa harus aku Bu?”, “Kenapa harus aku?”, Kalimat itu terus menerus Fadhil ucapkan.

Wajah Fadhil terlihat datar, dengan tangan masih mencoba memukul dan melempar benda di sekitarnya.

IMG-20191101-WA0026-1.jpg

Aku menatap Fadhil tajam, wajah Fadhil terlihat tidak sesuai dengan emosi yang sedang ia alami. Bibirnya tetap merancau “kenapa harus aku” sementara ekspresi wajahnya tetap ceria dengan senyum khasnya.

Mataku menyapu hasil tes intelegensi yang dilakukan Psikolog, tertulis tingkat IQ anak 50 dengan kondisi : emosi belum matang, impulsive, dan merusak.

“Diterima?” Bu Dwi berbisik tepat ditelinga kananku. Aku menatap sekilas, tanganku masih mencatat beberapa isian assessment yang aku tangkap tentang kondisi Fadhil. Kepalaku mengangguk pasti.

Rumahmedia/ Sri Suprapti