Dia Istimewa (3)

“Bu, kenapa sudah doa?.”

Fadhil masuk kelas dengan tergopah. Napasnya memburu dengan wajah memerah.

“Makanya jangan telat.” Suara Ragil, sang ketua kelas memecah keheningan suasana kelas diawal kegiatan belajar mengajar. Aku menarik napas panjang, memprediksi kemungkinan yang akan terjadi.

Sumber gambar koleksi pribadi Sri Suprapti

“Aku tidak telat.” Fadhil menatap Ragil penuh emosi, “Aku tidak telat Bu?.” Pandangan Fadhil beralih ke arahku.

“Aku tidak telatkan?” Tangan Fadhil memegang lenganku keras, “Bu, aku tidak telatkan?.” Badannya yang besar dengan tenaga penuh mendorong tubuhku. Agak limbung kakiku melangkah kebelakang. Fadhil terlihat mulai tantrum.

“Berhenti Fadhil !.” Volume suara sengaja aku tinggikan, “Kalau Fadhil mau ikut do’a bersama, datang sebelum jam tujuh.”

“Tapi, aku tidak telat Bu.” Suara Fadhil terdengar frustasi, Ia tetap bersikukuh dengan pendapatnya, “Aku tidak telat.”

“Kamu telat!.” Telunjuk Ragil mengarah ke muka Fadhil.

“Tidak Ragil, aku tidak telat!.” Tangan Fadhil melempar tas punggungnya ke arah Ragil. Kakinya melangkah cepat menuju tempat duduk Ragil. Fadhil terlihat agresif, tangannya menyambar semua benda disekitar. Melemparkan ke arah Ragil.

“Cukup Fadhil.”

“Aku tidak telat Bu!.” Tangan Fadhil masih berusaha memegang Ragil, berusaha memukulnya. Badan Ragil yang kecil dengan mudah menghindar. Pukulan Fadhil mengenai tempat kosong, dan Fadhil terlihat semakin emosi.

Fadhil mendorong meja Ragil hingga jatuh. “Ragil nakal!.”, Ragil berlari, berusaha menghindari amukan Fadhil.

‘Bu guru Ragil nakal.”

Fadhil tidak telat, dan Fadhil tidak kena denda.” Tanganku menjangkau tangan Fadhil, mengusap kepalanya dengan lembut, “Fadhil hanya membaca doa mau belajarnya, untuk hari ini sendirian.”

“Tapi aku tidak mau berdoa sendirian.” Mata sayu Fadhil terlihat memohon. Napasnya masih terlihat memburu.

“Kalau Fadhil tidak mau berdoa sendirian, besok berangkat lebih pagi ya?.”

Fadhil mengangguk pelan, “Aku tidak telat ya Bu?.”

Rumahmediagrup / srisuprapti