Dia Istimewa (5)

Dia Istimewa (5)

#Mythomania

Fauziyah bergeming, badannya yang besar menutupi pintu kelas hampir 90 %. Tangan kanannya asyik memegang es teh di plastik dan sesekali menyeruput ke mulutnya.

Badan Fauziyah cukup besar untuk usianya yang masih 8 tahun. Berat badanya sekitar 60 kg dengan tampilan acak-acakan. Baju yang ia pakai selalu rangkap, baju tidur dan seragam sekolah. Lucunya baju tidurnya lebih panjang dari baju sekolah.

“ Bu guru tidak boleh masuk.” Senyum kecil tersungging di bibir Fauziyah. Mata sipitnya kosong menghadap jauh ke lorong. Aku tidak menjawab, diam menatap tajam pada peserta didik ku yang selalu usil.

Badan besar Fauziyah berlahan mundur, “Jangan nangis oh.” mulut kecilnya melengkung, mempersilahkan aku masuk.

Kakiku memasuki kelas yang sangat berantakan pasca istirahat. Beberapa tas terlihat di lantai, buku-buku memenuhi hampir setiap meja dengan posisi berantakan. Penghapus dan krayon tergeletak, tidak jauh dari papan tulis.

“Aku besok tidak masuk.” Suara serak Fauziyah memecahkan kesunyian.
Aku merapikan meja guru dengan enggan,mengambil beberapa buku pelajaran yang berserakan. Mungkin tadi peserta didik ku menggunakannya sebagai senjata, karena terlihat rusak di empat sudutnya.
“Aku besok tidak berangkat boleh?” nada suara Fauziyah terdengar sedikit melunak.
“Tidak boleh?” Fauziyah menggoyangkan lenganku.

Aku masih menunjukkan ekspresi tidak bersahabat, seakan sibuk dan tidak memperdulikannya.

Fauziyah menatapku ragu, kepalanya menunduk, tidak lama kemudian, dia mengambil krayon dan penghapus yang tergelak di lantai. Meletakkan penghapus di tempat penghapus yang menempel dengan papan tulis, sementara krayon diletakkan diatas lemari kelas.

Aku menatap Fauziyah, memperhatikan wajahnya yang sedang menatapku, dengan bibir tersenyum kecil, “Boleh.”

“Tidak… Aku besok berangkat.”

Aku sudah terbiasa, dan sangat paham karakter Fauziyah.

Suatu hari dia bercerita tentang 5 ekor anjing yang ia pelihara. Fauziyah bercerita tentang anjing – anjingnya yang lucu dan selalu menemani ia bermain.

Fauziyah dengan sangat nyata menceritakan kebiasaannya memberi makan anjing, mengajak mereka bermain. Kenyataannya saat home visit ke rumah Damma yang sakit lima hari, Fauziyah ketakutan dengan anjing penjaga rumah Damma.

Atau cerita Fauziyah tentang rumahnya yang besar dengan 10 kamar mandi. Sementara pada hari yang lain, dia bercerita belum mandi karena kamar mandi dipakai adiknya, sementara hari sudah siang.

Fauziyah bercerita apa yang ia khayalkan benar-benar ada.

rumahmediagrup/srisuprapti