Dia Istimewa (6)

Pahlawan Bagi Riko

“Selamat pagi Bu Prapti”

Riko berlari, menyambut kedatangan Scoopy ku memasuki area parkir.

“Wah, Riko sudah berangkat.”

“Ialah, aku mau upacara hari Pahlawan.” Riko membusungkan dadanya, berlalu meninggalkan aku yang masih kesulitan melepaskan tali helm.

“Oh ia, belum salim, Bu”

Riko membalikkan badannya dengan kaku, melangkah panjang kearah ku.

“Salim Bu,” Tangan Riko mengambil tanganku yang tengah memegang helm “selamat pagi Bu Prapti!”

Riko kembali meninggalkan aku, tanpa menunggu aku menjawab salamnya.

Hari ini, Minggu 10 November. Setelah debat panjang dalam grup dewan guru tentang perbedaan surat keputusan dari menteri pendidikan dengan dinas pendidikan provinsi Jawa tengah, akhirnya kami sepakat tetap menjalankan upacara tanggal 10 November sesuai dengan surat keputusan kepala dinas pendidikan provinsi Jawa Tengah.

Ets, jangan salahkan peserta didik yang berangkat hanya hitungan jari ya?, karena ini memang hari libur bagi mereka, dan terus terang kemarin sore di beberapa grup whatshapp kelas juga ramai antara upacaranya tanggal 10 atau tanggal 11.

“Bu guru kenal Bung Tomo?” Langkah Riko sejajar dengan langkahku, “kata mama dia pahlawan.”

“Yap” Ibu jari ku bergerak, memberi kode kalau mama Riko benar.

“Kata Mama, bung Tomo hebat ya?, Hebat mana dengan Candra?” Pandangan Riko kosong, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan gerakan kaku.

“Candra hebat ya Bu Prapti, tapi Candra suka nakalin Riko” suara Riko berlahan pelan.

“Hebat bung Tomo ya Bu?,”

Aku mengangguk.

“Bung Tomo tidak pernah nakalin Riko.”

Aku tersenyum.

“Kalau pahlawan pasti tidak pernah nakilin temannya.” Suara Riko semakin pelan, langkahnya yang kaku berhenti.

“Riko mau nonton film pahlawan?” Aku menepuk punggung Riko pelan. Riko mengangguk cepat.

“Habis upacara kita ke ruang audio ya?, Ajak teman-teman yang lain.

“Haiiii…, Kita mau nonton film” Riko berlari, “nonton Film… Nonton film….” Riko berlari sebelum aku menyelesaikan kalimat ku.

Rumahmediagrup/srisuprapti