Dia Istimewa (7)

Jam menunjukkan angka 06.54 WIB. Aku berdiri diantara barisan guru dan karyawan SLB Nusantara mengikuti apel pagi. Tempat ku berdiri tepat sejajar dengan pintu gerbang, sehingga dapat melihat siapapun yang masuk ke sekolah.

Entah mengapa aku tertarik dengan motor merah yang baru saja berhenti di gerbang sekolah berjarak sekitar 100 m dari posisiku berdiri. Menatap motor yang baru berhenti. Otakku mulai mengkritik, Vario itu terlihat penuh, dinaiki tiga penumpang dengan badan besar-besar.

Bruk.

Vario merah bersama supirnya jatuh. Berdiri Fadhil, salah satu penumpang Vario dengan tangan dipinggang. Ia terlihat menendang dan melempar tas. Badannya yang besar bergerak tidak terkontrol. Sesekali berlari, menjauhi tangan Mamanya yang mendekat. Fadhil semakin tantrum, tangannya bergerak mendorong motor-motor yang terparkir dekat tempatnya berdiri.

“Fadhil ngamuk tuh.”

“Ia nih, pagi-pagi dah sarapan masalah.”

Aku tersenyum kecil, merespon pembicaraan teman satu barisku.

Kakiku melangkah cepat, begitu ucapan salam pembubaran apel selesai diucapkan.

“Fadhil kenapa?”

“Fadhil berangkat sekolahnya minta naik bis Bu guru” Mama Fadhil mengambil tas yang tergeletak di dekat motor Vario yang sudah berdiri. “Hari ini, kakak Fadhil libur kerjanya. Dan pengin mengantar Fadhil sekolah.”

“Wah, naik motor asyik sekali” tanganku mengembang, meniru gerakan menepuk nyamuk dengan wajah aku buat gembira.

“Bu guru suka naik motor, bisa menghirup udara segar, melihat pemandangan secara langsung.”

“Bu guru suka naik motor?” Suara serak Fadhil memotong pembicaraan ku. Aku mengangguk dengan semangat.

“Bu guru suka semua kendaraan.

Naik motor suka, naik bis suka, naik apapun Bu guru suka.”

Aku memandang Fadhil yang mulai terlihat tenang. “Kendaraan diciptakan untuk mempermudah kita menuju sekolah, coba bayangkan kalau Fadhil jalan kaki dari rumah.” Tanganku menepuk pundak Fadhil.

Fadhil mengangguk.

Rumahmediagrup/srisuprapti