Dialog Kecil Part-1

Siang hari menjelang hari pertama puasa. Gendhis ditemani maminya melukis. Mereka berdua tinggal bersama kakek neneknya. Papinya kerja dan tinggal di Tangerang.

Mami: Dhis, besok ikut puasa yaa
Ndhis: Iya. *seolah mengerti apa itu puasa.
Mami: Kalau puasa itu tidak boleh makan dan minum pada siang hari.
Ndhis: He’em *Masih menjawab dengan asal. Tangannya masih memegang kuas.
Mami: Dhis, lihat mami dong…
Ndhis: *mimiknya tersenyum dibuat-buat. Wajahnya memaling ke maminya tapi matanya tertuju kepada kertas gambarnya.
Mami: Dhis matanya lihat laah… Sebentar saja. Ayo letakkan semua alat gambarnya! *Dia pun menghadap maminya
Ndhis: ya mami
Mami: Dhis, ayuk baca doa puasa
Ndhis: Iyah. *Dia mengangguk
Mami: bismillahirrahmanirrahim. Nawaitu saumahudin
Ndhis: bismillahirrahmanirrahim. Nawaitu saumahudin
*Ndhis mengikuti dengan patuh meski harus terbata
Mami: Dhis, nanti malam ikut makan saur ya…!
Ndhis: Iyah. *Cuek lagi. Mana mungkin dia mengerti makna saur.
Mami: besok tidak makan dan minum
Ndhis: *Terkejut. Nah benar kan
Ga mau… *Geleng kepala kencang, bibir manyun, sinar mata menolak
Mami: Itu namanya puasa.
Ndhis: Gendhis ga mau puasa.
Mami: katanya mau jadi anak solihah.
Ndhis: Iyah. *Secepat itu pula menjawabnya. Ini anak unik.
Mami: Jadi belajar puasa. Dengan mami juga.
Ndhis: *berpikir, rupanya dia mengingat tentang konsep anak sholihah yang maminya gambarkan jauh sebelumnya.
Iya mami
Mami: *maminya tersenyum penuh cinta. Diciumnya putri kecilnya penuh syukur.
Sekarang Dhis boleh melukis.
Ndhis: Yah. *Melempar senyuman. Pertanda kebahagiaan yang sebenarnya. Tidak seperti yang tadi. Ndhis lupa konsep puasa. Ndhis mau jadi anak solihah yang disayang mami papi yang diperbolehkan bermain, melukis dan nonton kartun kesayangan.

Mungkin untuk sementara harus begitu, karena yang riil menjadikan anak senang adalah yang bisa dia lihat, pegang dan rasakan dengan lima indera.

Foto: oleh Berty