Dian VS Atang (Bukan Kisah Twilight)

Dian VS Atang (Bukan Kisah Twilight)

Pathilga menarik napas. Gadis itu sudah kehabisan cara untuk membujuk Dian, kekasihnya.

“Ayolah, Bebeb. Aku pergi nggak akan lama, kok, Ciin. Cuma sebentar. Sebentaaaarr banget. Ibarat kata kamu ngupil tuh ya, belon kelar ngupil pasti aku dah muncul lagi di hadapan kamu. Cling! Kayak gitu.”

Dian manyun. Lelaki itu menekuk wajahnya hingga lipatan keempat belas. Masalahnya tu cowok udah curiga dengan Pathilga. Kenapa akhir-akhir ini, tiap Dian datang menemui pacarnya itu, seolah-olah waktu ketemuan mereka dijatah.

Padahal Dian masih ingin berlama-lama. Tapi selalu saja, setelah bertemu selama satu jam, Pathilga langsung bolak-balik lirik jam, trus pasti pamit mau pergi. Emangnya da ape sih? Apa ni cewek dah bosan kali sama Dian? Padahal, kurang apa coba dia sebagai kekasih selama ini.

“Udaaah, nggak usah manyun. Aku tuh mau cari beha di mall bentar. Masa cari underwear sama laki-laki, kan malu, Bebeb. Biar kata dah empat tahun pacaran, tapi kan kita belum sah.”

Dahi Dian berkerut. Ya memang benar sih yang dikatakan Pathilga. Jangankan tahu ukuran beha pacarnya, selama empat tahun pacaran aja mereka kagak pernah ciuman! Sumpe deh. Biar mati Dian disambar gledek juga berani!

Dian berusaha mematuhi aturan dari Pathilga untuk menjaga batasan. Pacaran pun kudu sesuai norma dan etika yang berlaku di negara Indonesia tercinta. Biar kata Pathilga katanya ada darah turunan bule nih, tetep aja.

Pokoknya Dian cukup puas lah, masih diperbolehkan gandengan tangan. Atau cium tangan sekali-kali, misal pas ngucapin selamat ulang tahun gitu ke Pathilga, deuuu.

“Okay, kalau begitu. Tapi Bebeb janji cuma bentar ya! Jangan langsung pulang kayak kemaren. Masa perginya aku pamitin ke Bunda, pulangnya nggak aku anterin,” sahut Dian akhirnya.

Yah, begitulah sodare-sodare. Namanya juga pacaran bukan hitungan hari yee. Jadi si Dian dah berani panggil camer-nya, alias ibunya Pathilga dengan sebutan “Bunda”.

“Iya, suer. Makanya kamu tungguin aku di sini ya. Jangan ke mana-mana. Okay, Dear!” Pathilga memberikan sun jauh kepada Dian.

Selang satu jam berlalu akhirnya Dian merasa tak betah. Lelaki itu berinisiatif mengikuti Pathilga. Dia bangkit dan berjalan menuju mall terdekat kafe tempat mereka tadi bertemu. Mobilnya sengaja ditinggalkan di parkiran kafe. Toh, jaraknya memang cukup dekat.

Mendekati tempat jual underwear, Dian mulai merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Bukan. Bukan karena bayangan lingerie yang melambai-lambai di manekin. Tapi karena Dian takut, kalau kepergok Pathilga nanti dia marah. Ceweknya itu kalau marah mah parah. Bisa ngediemin Dian tujuh hari tujuh malam. Kalau Dian-nya kangen ntar gimana.

Tapi tunggu. Kok itu seperti punggungnya Pathilga? Dian mengamati seorang gadis yang sedang berbincang mesra dengan lelaki di sana. Dibilang mesra, soalnya tu cewek menggamit lengan yang cowoknya. Ah, nggak mungkin kan itu Pathilga.

Sesaat kemudian, tu cewek berbalik badan. Alamakjang, ternyata benar itu Pathilga, sodare-sodare. Dia lagi sama cowok, yang Dian masih tak pahami itu siapa karena wajahnya tertutup manekin ber-lingerie tadi.

Tiba-tiba kedua mata Dian membelalak.
“Atang! Ngapain kamu sama cewekku?”

Pathilga spontan mendorong Atang menjauh darinya. Atang malah memasang tampang pura-pura lugu.

“Berani-beraninya kamu jalan sama cewekku. Apa maksudnya ini semua?” tanya Dian lagi.

Jadi gini, Atang itu sahabatnya Dian. Pernah satu saat Dian mampir ke rumah Pathilga bersama Atang. Jadi memang mereka bisa saling kenal itu dari Dian. Tapi kenapa malah mereka berani-beraninya bermesraan di belakang Dian coba?

Napas Dian menderu. Dalam hati dia mengharap mendapatkan penjelasan masuk akal dari mereka berdua. Bagaimanapun Dian tak ingin merusak persahabatannya dengan Atang.

Malahan, dari speaker mall mengalun sebuah lagu lama.
Dan … Aku sudah pernah bilang pacarku bukan cuma kamu, Sayang.
Dan … Bila nanti kau menghilang, kumasih punya lelaki cadangan.”
(Lelaki Cadangan by T2)

“E-e- jadi gini, Dian. Aku tuh cuma kebetulan ketemu si Atang. Trus aku bantuin si Atang cari kado buat mamanya.” Pathilga menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Sebuah kebiasaan Pathilga yang menandakan kalau gadis itu sedang berbohong dan Dian paham betul itu.

“Kalau cuma minta temenin beli kado, ngapain kamu sampe gaet-gaet lengannya Atang.”

“Bro, sabar, Bro. Aku bisa jelaskan semua. Tapi …. Aku kabur duluuuu …..”

Dian terkejut melihat Atang berlari terbirit-birit. Pathilga sampai menganga tak mengira selingkuhannya itu malah pergi begitu saja.

“Ataaaang, tungguuu ….” Pathilga baru saja hendak berlari kalau bukan karena tertahan oleh Dian.
“Jangan pergi dulu! Kamu berhutang penjelasan padaku!”

Suara sirine mengejutkan mereka semua.
“Maliiinng! Woy! STOP!”

Kini dua orang satpam mall berlari mengejar si Atang. Rupanya sirine itu berbunyi karena Atang melewati pintu pembatas. Nah, berarti ada barang jualan Mall yang belum dibayar Atang dong!

Dian memiringkan kepalanya heran. Pathilga saja sampai menganga mulutnya.

“Patah Tumbuh Hilang Bergantiiii!! Yuhuuu!”

Wajah Pathilga pucat seperti baru saja melihat penampakan. Padahal yang dilihatnya itu Bunda!

“Eh, Nak Diaan! Rupanya kalian kencan di sini. Bunda ke sini mau cari beha. Yang ada rendanya, kayak yang diambil sama maling beha tadi. Iyaa, Bunda mau cerita. Masa, waktu Bunda baru masuk pintu mall, tahu kan yang bisa kebuka sendiri itu kalau kita mau lewat, tahu-tahu ada laki-laki syuuur lari melewati Bunda. Tahu-tahu datang satpam nangkep tu laki-laki. Ternyata idih, dia maling beha. Tapi kok mukanya kayak Bunda kenal yaa ….”

Begitu deh, bundanya Pathilga, kalau udah ngomong kagak kenal titik. Kalau bukan Pathilga langsung teriak, “Bundaaa! Apaan sih? Pake nyebut nama lengkap anaknya! Panggil aja Pathilga gitu!”

Oo, rupanya ini yang bikin Pathilga mukanya mendadak pucat. Karena mendengar nama lengkapnya disebut!

“Ihh, ni anak. Kamu tu harusnya bersyukur, Ayah sama Bunda tu udah kompakan kasih kamu nama: Patah Tumbuh Hilang Berganti. Supaya kamu tak pernah kehilangan, Nak. Jadi tiap hilang barang, tahu-tahu datang penggantinya. Apalagi hilang pacar, etapi enaknya kamu, bisa ketemu cowok setia macam si Berakit-rakit ke Hulu Bersenang-senang ….”

“Bundaa! Udah cukup! Nggak usah malu-maluin! Ngapain Dian disebut juga nama lengkapnya.”

“Lho, ya nggakpapa, lho, Bebeb. Memang benar yang disebut Bunda. Namaku itu Berakit-rakit ke Hulu Bersenang-senang Kemudian, dipanggil Dian.”

“Tuh, kan, Nak Dian aja nggak malu dengan namanya. Atau kalau nggak, kalian nggak usah lama-lama pacaran-lah. Langsung aja kawin. Yuuk. Kapan orang tua kamu bisa ngelamar anak Bunda?” todongnya langsung pada Dian.

Dibilang begitu si Dian jadi cengar-cengir. Dia tak mengangka bu camer malah yang kebelet menjadikannya menantu. Deuu. Lupa deh kalau beberapa menit lalu dia lagi kesel sama Pathilga.

“Beneran, Bunda? Minggu depan pas orang tua saya pulang dari Singapura, Bunda.”

“Iyaaaa, abis cari di mana lagi menantu sebaik kamu. Udah. Kamu tunggu di sini. Bunda mau minta temenin Pathilga cari beha. Yuuk, cepetan.”

Udah kayak gasing aja, Pathilga, abis ditarik Dian, sekarang dia ditarik bundanya.
Dian senyum-senyum. Udah mulai membayangkan bakal kawin sama Pathilga.

Pathilga manyun. Bingung mau menjawab apa pada si Bunda. Pathilga kan belum siap married. Masa mau dipaksa. Aish, kenapa juga si Atang itu pakai acara maling beha. Gagal deh perkara!

Trus gimana nasib Atang? Ya udah ditangkap satpam dan jadi tersangka maling beha, mau gimane? Salahnya, Atang punya hobi ngoleksi beha.
Salahnya juga namanya Atang. Lengkapnya: Bersakit Dahulu Senang pun Tak dAtang.

Sekian kisah Dian vs Atang.

rumahmediagrup/emmyherlina