Diaspora dalam Kelembagaan Migrasi

Diaspora dalam Kelembagaan Migrasi

Migrasi adalah perpindahan orang ke tempat lain. Dalam proses perpindahan tersebut terjadi pertukaran dan interaksi manusia yang berdampak pada institusi (the rule of the game secara makro).

Selanjutnya, bagaimana institusi makro tersebut dapat menjadi tantangan bagi pelaku migrasi? Dibutuhkan adaptasi kelembagaan seperti apa? Dan bagaimana pelaku migrasi memperlakukan kekosongan institusional sebagai bentuk adaptasi dirinya dalam berperilaku ekonomi? Sangat menarik untuk didiskusikan dengan pendekatan ekonomi kependudukan. Mengingat pembatasan nilai-nilai sudah tidak dapat digambarkan dengan jelas dan tegas. Semua wilayah diaspora sudah samar dan dimungkinkan melebur karena faktor teknologi dan kemudahan migrasi penduduk.

Identitas nilai kelembagaan makro yang lemah akan seringkali berfungsi sebagai faktor pendorong seseorang untuk pindah (migrasi) ke tempat lain. Kondisi ini memaksa individu untuk meninggalkan daerah asal. Namun perlindungan akan kehilangan kelembagaan makro yang melemah tersebut mereka peroleh melalui penguatan identitas kelembagaan makro di daerah tujuan. Tautan diaspora ini menguat seiring dengan kemajuan teknologi dan kemauan individu tersebut untuk mempertahankan rule of the game dalam dirinya seperti yang ia gunakan semasa berada di daerah asal mereka.

Diaspora yang terjadi akan membentuk identitas baru atau identitas transnasional dalam struktur sosial. Hal ini berdampak pada munculnya perilaku kewirausahaan etnis diaspora. Diantaranya terbentuk proses produksi barang lokal, berdirinya bisnis baru, operasional layanan restoran, ritel, konsultan, atau pariwisata. Pengusaha yang lahir akibat diaspora migrasi mengetahui pasar dan pengetahuan operasional bisnis yang unik, dikarenakan ikatan sosial dan identifikasi nilai-nilai kelembagaan makro yang mereka gunakan dalam beraktivitas masih membutuhkan proses adaptasi. Motivasi investasi di daerah tujuan bagi pelaku migrasi akan berkontribusi pada pengembangan ekonomi daerah tersebut dan juga pengembangan ekonomi daerah asal, jika proses produksi mengambil sumber daya lokal daerah asal mereka.

Fraksionalisasi sosial, stratifikasi, dan konflik terjadi tergantung pada identitas, hubungan dan kelompok sosial yang individu temui di daerah tujuan. Pelaku pendatang harus menavigasikan antara kelembagaan dan nilai bisnis yang berbeda lingkungan, khususnya jika daerah asal merupakan pasar yang sangat berkembang. Sedangkan daerah asalnya masih lambat tumbuh ekonominya. Ataupun sebaliknya, karakteristik struktural ekonomi dan infrastruktur yang melemah di daerah tujuan, akan menggerakkan para pelaku migrasi penguasa ini untuk menciptakan ekonomi penggerak pasar dengan cara kreatif.

Dengan demikian, perubahan institusional membawa dampak kepercayaan dan norma baru yang diadopsi sebagai konsekuensi dari akulturasi kelembagaan.

rumahmediagrup/anitakristina

One comment

Comments are closed.